Perjalanan Wisata Puisi Turki (bagian.1): Catatan Hening Wicara

“Perjalanan akan membawa kekuatan dan cinta kembali kepadamu.
Jika kau tak bisa pergi ke suatu tempat, bergeraklah di lorong-lorong jiwamu.” (Jaluddin Rumi).

Untaian kata penyair sufi terkemuka itu telah menggugah PERRUAS (Perkumpulan Rumah Seni ASNUR) untuk membuat agenda Wisata Puisi dengan destinasi: TURKI.
Sebuah negara yang alamnya begitu indah dengan aneka rekam jejak budaya dan sejarah.
Di sana pula makam maulana Rumi berada, lengkap dengan kebun-kebun mawar sebagai lambang cinta sang pujangga pada Tuhannya.

Rombongan berjumlah 34 orang. Terdiri dari: ketua, kameramen, pemandu wisata, penyair, akademisi, guru kreatif, dan keluarga yang turut serta.

Sebelum berangkat, masing-masing peserta diminta membuat minimal satu puisi tentang Turki, untuk buku antologi puisi bersama, berjudul: Doa untuk Turki, yang diluncurkan pada puncak acara pentas puisi di selat Bosphorus, Turki.
Penulis membuat sebuah puisi berjudul: Kuterka Turki.

Turki,
Kuterka wajahmu
Kala angin berembus senja itu

Matamu cemerlang kilau
Jejak-jejak kejayaan masa lampau

Dahimu cerah langit siang
Arena balon-balon udara mengambang
Membawa sebuah kenang
Yang tak akan hilang
Tak mungkin lekang

Bibirmu rekah bunga
Wadah tulip dan mawar mekar aneka warna
Menebar segar wangi aroma
Bagi semesta para pencinta

Dagumu runcing berbelah
Tempat dua benua enggan terpisah
Hingga terpatrilah beragam sejarah
Tentang ajaran yang indah

Turki,
Di jantungku yang penuh rindu
Segala detak ini tentangmu

Pekanbaru, Juni 2023

Kami berangkat dari Bandara Soekarno Hatta pada hari Rabu, tanggal 28 Juni 2023 pukul 15.00 WIB, dengan pesawat Oman Air.

Kami lintasi langit utara selama delapan jam perjalanan dengan melewati empat zona waktu. Hingga kami sempat mengalami kejadian unik, yaitu ketika jarum jam di pergelangan menunjukan waktu sekitar pukul 20.00, tiba-tiba di jendela pesawat kami melihat langit berubah warna, dari hitam temaram malam menjadi terang benderang siang.

Di belakang kursi para penumpang, peta bola dunia terpampang, memberi informasi tentang di atas belahan bumi mana pesawat kami berada. Terlihat jelas, pesawat kami baru saja melintas di batas imajiner antara wilayah terang dan gelap permukaan bumi.
Sungguh, sebuah pengalaman langka tak terlupakan.

Akhirnya, kami pun mendarat di kota Muscat, sekitar pukul 19.00 waktu setempat, atau pukul 22.00 Waktu Indonesia Barat.

Kemudian, kami melanjutkan perjalanan dengan bus, menuju hotel Platinum di ibukota Oman itu, untuk makan malam dan istirahat, melepas penat setelah berjam-jam duduk di bangku pesawat.

Comments (0)
Add Comment