pada pagi yang perawan
celoteh kata-kata riuh
tentang harga diri
tentang secuil empati
aku memulung embun
dari dedaunan basah
agar bisa menyejukkan
hati yang dari malam
bersengketa dengan kalimat
pinjam dulu seratus
saat kalimat itu kauucap
diikuti rangkaian kalimat curhatan:
perut hanya berisi angin,
piring-piring tak lagi licin,
botol susu kekeringan-
agar hatiku berempati
lalu segudang pujian dipersembahkan:
berhati permata,
seperti hujan di musim kemarau,
kebaikan tiada tara-
sebagai upeti supaya aku tergugah
kusimpan dompet, brankas hidupku
berisi selembar kertas merah
yang sebatang kara
ingin kau miliki dengan sekarung janji
tapi ibarat benda pusaka
selembar ini kupastikan tidak berpindah
hingga cercaan meluncur deras
ditutup kalimat “kalau pelit kuburanmu sempit”.
Bekasi, 23 Jan 2024
Roy Frans Sidabutar biasa dipanggil Roy Dabut, lahir di Medan tahun 1980 dan sekarang memilih tinggal di Bekasi, Jawa Barat. Saat ini berkerja sebagai seorang ASN di Kementerian Keuangan. Buku perdananya berjudul “Terpesona Cinta.” Karya-karyanya juga telah dimuat di beberapa antologi puisi dan media elektronik. Pemenang Anugerah COMPETER Indonesia 2024.