Pucuk Kata : Puisi- Puisi Ilham Nuryadi Akbar (1)

Pengasuh : Bambang Kariyawan Ys

Mengapa Ibu Selalu Berbohong

Ibu berkata perutnya sudah kenyang
Sendawa buah hatinya adalah asupan yang menghapus rasa lapar.
Ibu berkata bahwa ia tidak haus
air yang asat dibibirku, telah menambus dahaganya.

Ibu berkata tubuhnya begitu sehat
tawa dari tubuh yang ia jaga, telah menghilangkan rasa lelahnya.
Ibu berkata, matanya tidak kantuk
lelap pada putra-putrinya, adalah embun pemantik bangun.

Ibu berkata, hatinya tak pernah resah
kabar dari jantung hatinya, sebuah khawatir yang telah berakhir.
Ibu berkata, silahkan saja berkelana
namun kepulangan, adalah keinginannya yang paling rahasia.

Bekasi, 22 Februari 2021

***

Jangan Menangisi yang Tak Akan Kembali

Bebatuan yang tanggal di tanah merah
adalah kubah kecil yang memayungi jasad
tirta terguyur bersama bunga-bunga tujuh rupa
telah memantik wangi tanah dan rintik pada pipi

litani tak henti terucap
dari mulut yang masih bernyawa di atas bumi
permohonan kepada Tuhan dipinta melebihi hari biasa
penyesalan menggema hingga puluhan hasta

jangan menangisi dengan paling
kepada tubuh yang tak ingin ditangisi
yang mati tak akan kembali
biarkan ia pergi memenuhi janji
menghadap Rabbi Maha Tinggi.

Bekasi, 22 februari 2021

***

Tak Perlu Membenci Hujan

Meski kau membenci dengan sungguh
hujan akan turun dengan pasti
bunga dan dedaunan telah meminta dengan paling
kepada langit di waktu pagi dan petang

agar cepat melahirkan yang dikandung
demi membasahi ranting-ranting murung
akibat kemarau panjang
dari terik penyebar gersang

rintikan memang mencipta genangan
tapi kau sibuk menangisi kenangan
hujan adalah rintik merdu
tangismu adalah titik sebuah pilu

jika selamanya kau tak ingin melihat hujan
lalu kapan kau akan menemui pelangi.

Bekasi, 22 Februari 2021

Ilham Nuryadi Akbar lahir pada 11 Februari 1995 di Banda Aceh. Menempuh pendidikan dasar, menengah dan kuliah D3 Kesehatan di Kota Langsa, Provinsi Aceh. Kemudian melanjutkan pendidikan S1 di Jakarta Selatan. Buku pertama yang diterbitkan oleh Alinea Medika Pustaka berjudul Kemarau Di Matamu Hujan Di Mataku, puisi dan cerpen yang ia tulis telah banyak terangkum pada beberapa Media seperti, Kumparan.co, Barisan.co dll. Juga terangkum di beberapa antologi puisi. Prestasi yang didapatkan mewakili Provinsi Aceh pada lomba PAI (Cerdas Cermat Agama Nasional Tingkat Tsanawiyah) di Jakarta, FLS2N cabang Tilawah di Surabaya

Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Pentigraf, Esai, Pantun, Kritik, Resensi, Peristiwa Budaya, dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel:
redaksi.tirastimes@gmail.com

pucuk kataPuisi Ilham Nuryadi Akbarsastra
Comments (0)
Add Comment