Ritual Puisi | Puisi-Puisi A Farhan

RITUAL PUISI

Hari berganti hari

Ritualku masih tersimpan erat

Di temaran lampu tarongkeng persib cahaya

Yang berserahkan kata sebaris puisi

Dengan serupa diksi akan berkobar.

Kita mulai pena ini dengan imajinasi

Seakan sunyi tak percaya

Bahwa puisi adalah tempat persemayaman penyair

Untuk bisa menyapa tuhan melalui rasa.

Lubtara, 2021


KARTU RINDU

Kupersembahkan

Bulan ini sebagai rindu

Awan adalah selimut penyembuh rindu

Selalu setia mengucap cinta bisa tersenyum.

Lubtara, 2021


KEKASIH ADAT

Kuheningkan semua isi tubuh

Dalam keramaian sedih bernoda angsa

Berkepak disandingan airmata

Sejak jiwa menyangkul arwah

Berat rasanya ketika aku terdampar musibah.

Kepastian yang tak tercapai

Telah terbang ke negeri sunyi

Memilih kekasih adat

Ketimbang aku yang diusir oleh kampung

Karena mencintaimu adalah perang berserahkan pedang.

Kau hijabkan janji

Di gunung kepergian mimpi

Tetapi entahlah janjimu tak bisa dipikat

Hanya ucapan yang terdengar di telinga padat

Saat puisi kembali bersiur angkat.

Lubtara, 2021


SAJAK DI BAWAH BANTAL

Roda suara kereta

Masih memecah di pundak telinga

Namun sajak terus mengertak di bawah bantal

Seranya kusunyikan dekap petuah subuh

Untuk kuambil secarik kertas beruraian patah.

Hingga waktu yang terus mengadu

Telah terbaring di atas lincak

Dengan pekik isyarat karamik

Debu-debu pun gemetaran mengangkis rindu

Bersama lengkung bayang-bayang.

Dupa samudera angin

Mengeliur ke deretan angan

Karena malam berberi jalan

Tentang kesepian yang insyaf

Hampir rupanya gelap ditipu perih.

Lubtara, 2021


TELAH KAU IMPIKAN SORGAMU KASIH

:Novia widya sari rahayu

Seluruh angin telak bertaksi

Untuk memakjubkan risalah ilusi

Tanpa secuil karakter anak badai

Menjadi sajak karangan permaisuri

Yang berlayar menyusuri hati.

Sampai saat ini aku menaruh doa

Dalam isyarat tanah asmara

Dengan mawar sebagai tanda

Melompati jiwa yang baru terpukul

Ingin kupasrahkan tubuh ini meski kamu belum mengenali.

Kamatian macam apa kasih?

Sampai malapetaka memanggil ruh

Dari lorong tempat keluhan rindu

Mendaki langit yang hanya kacau

Dari kilau sayap-sayap malaikat

Membuat tubuhmu terjemput oleh rahmat.

Dulu kau impikan sorga

Tapi sekarang kau malah hancurkan neraka

Itu takdirmu yang tuhan berikan

Layaknya tingkahmu yang diperlakukan kekerasan

Oleh seorang munafik yang tak punya ke bahagiaan.

Lubtara, 2021


HIKAYAT KAMPUNG HALAMAN

Ketika aku bersikukuh menelusurimu

Semua berubah dengan angka yang cukup cepat

Antara kampung dan jalan setapak

Mengingkari pada pikiran-pikiran kepala

Serta geregetan kembali bernaung getar.

Sungguh di persimpangan desa

Terdapat ruh-ruh rindu berterbangan

Jauh rasanya kuhirup ulang

Saat kulabuhi yang namanya nostalgia.

Hikayat yang masih tertanam di sawah

Kini telah dihuni mahluk-mahluk gaib

Karena kekuasaan bukan milik desau

Malainkan pisau angin menjelma rahasia.

Tangis anak sejarah

Mengusang jerit tak dihakimi

Dari seluruh ilusi motor

Memuja bagaimana cara mengambil nafas

Saat deru melambaikan senyuman perawan.

Lubtara, 2021


  • A. Farhan Lahir di Sumenep, 17 Mei 2003 Santri PPA, Lubangsa Utara. aktif di organisasi Sanggar Sabda, Sanggar GSK (Gubuk Sastra Kita), Pustakawan PPA Lubangsa Utara, juga merupakan Koord Pers dan Kesenian Madrasah Aliyah Tahfidh Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep Madura.

Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Pentigraf, Esai, Pantun, Kritik, Resensi, Peristiwa Budaya, dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel:
redaksi.tirastimes@gmail.com

puisisastra
Comments (0)
Add Comment