Ori(j)o
Iya, jelas tergambar bagaimana kau mengekor ibu dari mesjid perempatan rumah,
atap masih dingin dari hujan subuh hari.
Tak sekalipun aku pernah temui mata iba yang basah
mengintip dari celah pagar saat aku alihkan kepala.
Kita bertemu.
Kau suka pada langit biru, suara decit kipas angin tua,
Siaran berita picisan di TV setiap siang,
Hingga 10 menit berpelukan, sebelum kita keliling rumah bermain kejar-tangkap.
“Ah, bahkan kesepian masih pedih saat kita tak sendirian, bukan?”
Kau diam. Hanya membesarkan mata
Menjawab dari dunia tanpa warna.
Iya, masih tergambar kau berguling, berharap cinta tanpa balas
yang berkarat dalam kepala bertahun-tahun.
Tentang hidup yang kerap dikunjungi karma baru,
untuk kembali sepi di ujung pagi.
2023
Eko Ragil Ar-Rahman, kelahiran Pekanbaru 1995. Tunak di Community Pena Terbang (COMPETER), menulis puisi, cerpen, juga novel online. Karya-karyanya pernah dimuat di beberapa media cetak lokal dan nasional, juga mengikuti beberapa antologi puisi nasional. Sekarang tengah menggali kembali semangat menulisnya di samping menjadi Freelance Editor dan Content Creator.