Candu | Puisi: Firdaus Herliansyah

CANDU

matamu,
telaga bening Eden untuk kuselami
pada kedalamannya
aku ingin hanyut dan mati
 
hidungmu,
masterpiece untuk aku kagumi
langit adalah kanvas
dan tangan Tuhan jadi Leonardo da Vinci
 
bibir merah jambumu
seperti bara api abadi
macam aliran Gangga yang suci
walau sesekali menggelitik birahi
 
pipimu,
kelembutan manis bagai roti croissant
putih halus umpama dandelion diatas bukit
tertiup angin pada petang September itu
 
rambutmu,
lukisan keindahan tanpa tepi
ku ingin membelainya mesra
meski harus kurobohkan tembok byzantium 
 
 
menahan rindu padamu membunuhku
kau faham?
kau adalah candu

Pekanbaru, 20 Oktober 2020
  • Puisi ini juga dimuat dalam buku Antologi Puisi “Rindu dan Kenangan Yang Terhapus” Penerbit SIP Publishing, Banyumas, 2021
  • Blog penulis: firdausherliansyah.wordpress.com

Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Pentigraf, Esai, Pantun, Kritik, Resensi, Peristiwa Budaya, dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel:

redaksi.tirastimes@gmail.com

cintapuisisastra
Comments (0)
Add Comment