Cerita Kita Yang Usai | Puisi-Puisi Firman Wally

CERITA KITA YANG USAI

Dalam cerita kali ini

dua orang tokoh dijadikan satu

satu cerita disusun oleh dua orang

yaitu kamu dan aku

Semua kepercayaan serta harapan kutitipkan padamu,

aku percaya padamu sebagai pelengkap dari kurangnya cerita

Waktu berjalan, cerita terus tersusun

dengan penuh makna tersirat

Cerita kita sejauh ini sudah dikatakan paling dewasa

begitu padat dengan dilengkapi kebahagiaan

yang datang sebagai kejutan

Ini adalah bagian dari cerita

yang baru pernah kususun ditemani dengan seseorang

yang pastinya kamu,

pelengkap ide-ide baru sebagai diksi paling puitis

Saat semuanya sudah tersusun dengan begitu rapi,

tinggal dipublikasikan saja, malah semuanya hancur seketika

ketika kamu menghadirkan orang ke tiga.

Aku pun tak menyangka bakalan begini jadinya.

Cerita yang kita susun selama ini, endingnya begitu mengecewakan.

Sia-sianya usaha begitu terasa, melekat dan berbekas jadinya

Kita yang pernah mengatur rencana

berusaha dengan susah payah

malah kamu berpemeran sebagai pemeran antagonis

yang tak disangka-sangka

Padahal katamu, bila cerita kita sudah tersusun nantinya

maka orang lain tidak berhak masuk

mancampuri cerita kita yang sudah terangkai

dengan begitu indah sesuai rencana

Dan cerita yang hanya ada kita di dalamnya

 kini telah berakhir dengan kehancuran,

dilengkapi dengan baris-baris penyesalan

Aku hanya bisa mengenang dengan air mata berlinang

lalu kamu dengan bahagianya berpaling

Ambon, 30 Juni 2022


SELESAI

Hari demi hari kulewati seorang diri

Menemani senja

lalu memeluk diri sendiri yang gelisah

Kini jiwaku tak lagi bergairah untuk

memulai sesuatu yang baru perihal bahagia

Ingin melupakan dengan mendatangi

tempat-tempat yang penuh dengan keramaian,

namun di saat kudekati

di saat itulah kumerasa perjuanganku tak bernilai

saat-saat itulah

kumerasa sepi dalam keramaian

Di faseh inilah kumerasa bahagiaku telah selesai

Hal yang kuimpikan seperti senyum indah yang penuh dengan cahaya

ketika hari dijemput gelap gilita

tak kunjung menghadirkan rupa, juga warna

Semakin ke situ, semakin mimpi tak dapat diwujudkan

yang kuharapkan semuanya sudah selesai

di detik ini

Hidupku semakin datar

tidak ada lagi yang manis, semuanya hambar

dilema bertandang, luka tak berujung

Memang ini adalah perjuanganku yang paling melelahkan

untuk menjadi manusia dewasa

yang jauh dari luka berdara-dara di dada

Bila ditanyakan apakah aku akan memulai lagi, mungkin iya.

Namun ada waktunya setelah luka ini sembuh dan tak lagi kambuh.

berharap semua yang mengenai luka dan pedih

menemui kata “selesai”.

Ambon, 29 Januari 2022


Firman Wally, karya-karyanya sudah termuat di berbagai antologi puisi, di antaranya Antologi Puisi Dari Negeri Poci 10 “Rantau” Dari Negeri Poci 11 “Khatulistiwa” dan lebih dari empat puluh antologi lainnya. Ada pun karya-karya sastranya tersiar juga di berbagai media online dan di Majalah digitela seperti: Semesta Seni, Jurnal Kopi dan majalah Elipsis. Penulis buku Puisi “Lelaki Leihitu” 2021 dan “Kutemukan Penyesalan di Setiap Kehilangan” 2021.

Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Pentigraf, Esai, Pantun, Kritik, Resensi, Peristiwa Budaya, dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel:
redaksi.tirastimes@gmail.com

puisisajaksastra
Comments (0)
Add Comment