Ludai Sebatang | Puisi : Kunni Masrohanti

LUDAI SEBATANG

tersangkut di air surut, retak di air rusak
hanyut di banjir gobang, rimbo hilang
bukit terpanggang
angek mangolang-nyolang
sakit ludai dihempas bandang

meninggalkan ludai
datuk pucuk berdecak haru
mengecap aroma dulu
penghuni rimba turun ke hilir, lari ke hulu
leluhur menjaganya sebagai ibu, untuk makan
secukup perlu
datuk pucuk menggeleng-geleng di rumah sumpu
tunjuk tak sampai, ucap kaku
masih jo lai dun sanak buru memburu
hilang kampung ditimbun batu

sebatang ludai di tepi sungai tinggallah sendirian
bertahun menunggu kemudian
tumbuh rindang di bukit rimbang menjadi yang
paling dibukit baling
dan datuk pucuk tak lagi manyolang

2019

Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Pentigraf, Esai, Pantun, Kritik, Resensi, Peristiwa Budaya, dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel:

redaksi.tirastimes@gmail.com

kunni masrohanti
Comments (0)
Add Comment