TERBITLAH KAMA
Aku bukan seorang pujangga dewana
Yang tetap tabah setelah kau raba
Dengan amarahmu tanpa iba
Dengan pengabaian sedemikian hana
Kau kira aku luka
Meski kau anggap aku sosok candala
Kau kira aku padam
Meski rasa ini selalu kau bungkam
Duhai kirana!
Sini kubisikkan untaian anggai
“Bianglala akan hadir setelah hujan reda,
chandra akan merkah setelah malam tiba,
bena akan menyapu usai datangnya bayu,
habis duka terbitlah kama.”
Lautan, 2021
***
PAMIT TANPA RUMIT
Aku bukan jatarupa berharga
Kuhanya rupa yang tak sempurna
Yang tak mampu mengharungi bena atau mendaki ancala
Kuhanya bisa mengukir namamu di bait aksara
Jika memang kau merasa aku malapetaka
Tidak perlu murka duhai dayita
Aku sendiri yang akan pergi
Sedikit pamit tanpa rumit
“Terimakasih, kejujuranmu lebih kunanti
dari pada sifat manismu yang palsu hanya sekedar basa-basi”
Bumi, 2021
***
HARAPKU KANDAS
Kutertunduk di bawah chandra
Baswaranya tajam menusuk bumantara
Ketika harapku kandas di bawah nabastala
Hati terasa hana meneteskan do’a-do’a
Hembusan anila malam membuatku jatuh dimasa silam
Air mata membuatku hanyut jauh terpendam
Andai kupunya adikara alam
Kan kubasuh rindu yang amat kusam
Duahai nirwanaku
Kau begitu jauh
Jiwa ini ingin berteduh
Kepada siapa lagi harap ini ingin kulabuh?
Uhhh!
Jalan, 2021
***
TIDAK AKAN SIRNA
Derita di hatiku tak kau hirau
Tangisan di hariku tak kau dengar
Kata-kata manis telah kau layar
Tapi satu pun tak kau ikat jangkar
Kau telah bersumpah demi dedaunan
Semua sumpahmu tak kau gugurkan
Mengapa kau dendangkan syair keindahan
Jika liriknya hanya bait-bait kehampaan
Kau boleh menipu hatiku
Kau boleh mencampakkan aku
Tapi kau tak akan mampu menyapu do’a-do’a kebaikan
Akan terus berhembus melebihi usia di badan
Warung, 2021
***
IZINKAN AKU
Tuhan!
Cinta ini adalah anugerah-Mu yang megah
Sebagai hartaku untuk membangun mahligai di nirwana nan indah
Tidak mengapa dunia hilang dari genggamanku
Tapi jangan dengan permata titipan-Mu
Dia adalah permata yang kumiliki
Yang kemilaunya telah menyinari hati
Hilang akal sesat hilang segala hasrat
Menumbuh subur aksama bersemayam dieunoia
Jika mencintainya adalah muraka-Mu
Maka izinkan mentap mukanya di dalam mimpiku
Jika bersamanya adalah bencana
Maka lenyapkan rasa ini bersama swastamita
Izinkan aku, Tuhanku.
Gubuk Derita, 2021
***
- Mahadir Mohammed, asal Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, Riau. Seorang laki-laki yang hobinya memasak dan bermimpi, kesibukan hariannya menyantap kuliner dan menonton review masak-masakan chef Renata. Sesekali ia menulis, sesekali ia juga menangis.
Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Pentigraf, Esai, Pantun, Kritik, Resensi, Peristiwa Budaya, dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel:
redaksi.tirastimes@gmail.com