Terbitlah Kama | Puisi-Puisi Mahadir Mohammed

TERBITLAH KAMA

Aku bukan seorang pujangga dewana

Yang tetap tabah setelah kau raba

Dengan amarahmu tanpa iba

Dengan pengabaian sedemikian hana

Kau kira aku luka

Meski kau anggap aku sosok candala

Kau kira aku padam

Meski rasa ini selalu kau bungkam

Duhai kirana!

Sini kubisikkan untaian anggai

“Bianglala akan hadir setelah hujan reda,

 chandra akan merkah setelah malam tiba,

bena akan menyapu usai datangnya bayu,

habis duka terbitlah kama.”

Lautan, 2021

***


PAMIT TANPA RUMIT

Aku bukan jatarupa berharga

Kuhanya rupa yang tak sempurna

Yang tak mampu mengharungi bena atau mendaki ancala

Kuhanya bisa mengukir namamu di bait aksara

Jika memang kau merasa aku malapetaka

Tidak perlu murka duhai dayita

Aku sendiri yang akan pergi

Sedikit pamit tanpa rumit

“Terimakasih, kejujuranmu lebih kunanti

dari pada sifat manismu yang palsu hanya sekedar basa-basi”

Bumi, 2021

***


HARAPKU KANDAS

Kutertunduk di bawah chandra

Baswaranya tajam menusuk bumantara

Ketika harapku kandas di bawah nabastala

Hati terasa hana meneteskan do’a-do’a

Hembusan anila malam membuatku jatuh dimasa silam

Air mata membuatku hanyut jauh terpendam

Andai kupunya adikara alam

Kan kubasuh rindu yang amat kusam

Duahai nirwanaku

Kau begitu jauh

Jiwa ini ingin berteduh

Kepada siapa lagi harap ini ingin kulabuh?

Uhhh!

Jalan, 2021

***


TIDAK AKAN SIRNA

Derita di hatiku tak kau hirau

Tangisan di hariku tak kau dengar

Kata-kata manis telah kau layar

Tapi satu pun tak kau ikat jangkar

Kau telah bersumpah demi dedaunan

Semua sumpahmu tak kau gugurkan

Mengapa kau dendangkan syair keindahan

Jika liriknya hanya bait-bait kehampaan

Kau boleh menipu hatiku

Kau boleh mencampakkan aku

Tapi kau tak akan mampu menyapu do’a-do’a kebaikan

Akan terus berhembus melebihi usia di badan

Warung, 2021

***


IZINKAN AKU

Tuhan!

Cinta ini adalah anugerah-Mu yang megah

Sebagai hartaku untuk membangun mahligai di nirwana nan indah

Tidak mengapa dunia  hilang dari genggamanku

Tapi jangan dengan permata titipan-Mu

Dia adalah permata yang kumiliki

Yang kemilaunya telah menyinari hati

Hilang akal sesat hilang segala hasrat

Menumbuh subur aksama bersemayam dieunoia

Jika mencintainya adalah muraka-Mu

Maka izinkan mentap mukanya di dalam mimpiku

Jika bersamanya adalah bencana

Maka lenyapkan rasa ini bersama swastamita

Izinkan aku, Tuhanku.

Gubuk Derita, 2021

***

  • Mahadir Mohammed, asal Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, Riau. Seorang laki-laki yang hobinya memasak dan bermimpi, kesibukan hariannya menyantap kuliner dan menonton review masak-masakan chef Renata. Sesekali ia menulis, sesekali ia juga menangis.

Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Pentigraf, Esai, Pantun, Kritik, Resensi, Peristiwa Budaya, dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel:
redaksi.tirastimes@gmail.com

puisisastra
Comments (0)
Add Comment