Puisi-Puisi Melika

Lamunan

Bangun jam 10 pagi
Berjalan malas ke kamar
Mandi
Bebek karet, busa tebal

Teh dan kue dekat cermin
Siang di tepi kolam
Berpikir, membayangkan

Memikirkan hal-hal
Yang tidak ada dalam kepala orang lain
Langit kini mendung

Rambutnya teruntai dengan Anggun
Kelananya melompat dari satu cerita ke cerita lain
Menghibur diri sendiri
Dengan cara yang misterius

Jakarta, 6 Juni 2026

 

Tinggal Harapan

Tidak banyak yang aku inginkan
Dari hidupku
Atas makna keberadaanku
Selain daripada abdi diri ini

Tidak ada cinta
Nelangsa hatiku
Hanya diri ini, dan Ilahi

Meski tiada cinta, meski hampa
Aku berjalan
Kokoh sekaligus renta
Harapanku tinggal harapan
Ku pasrahkan takdirku

Jakarta, 6 Juni 2026

 

Kenangan Aksara

Aku sangka aku menjalaninya
Ternyata tiada aksara, tiada suara
Hilang, senyap
Kenangan palsu

Rekacipta pecahan ingatan
Rekayasawan masa lalu dan masa depan
Memecah ingatanku
Hilang arahku sudah

Aku tidak pernah ada
Hidupku ternyata bukan kepunyaanku
Dalam nyala dan gelap
Aku membangkitkan aksaraku
Sendiri

Jakarta, 6 Juni 2026

 

Melika, berusia 35 tahun dan lahir di Jakarta, Indonesia. Saya meraih gelar sarjana ilmu sosial jurusan Antropologi dari Universitas Indonesia. Saya mendedikasikan hidup untuk keluarga dan menulis beberapa cerita, puisi, dan buku. Saya telah menerbitkan dua buku secara independen dan juga berkontribusi dalam menerbitkan beberapa kompetisi puisi. Saya sedang belajar di Kelas Puisi Jadi Cuan, Sekolah Kepenulisan Kosana Publisher @kosanapublisher bersama @intanhafidahnh sebagai mentor kelas.

 

 

 

Comments (0)
Add Comment