Qasidah Peri Laut
Sehelai daun
terdampar di pantai
tanpa suara
laut telah surut
pasir tak berdesir
kecuali rintih akar cemara
lapuk dimakan waktu
menunggu rubuh
Kekanak tak lagi bermain
pasir masih berkilau
saat matahari petang
rebah ke barat
tapi tak ada suara ombak
yang berdesir di pasir
hanya rindu yang berangkat pulang
sebelum petang
sebelum perahu fiber
tersandar dihanyut surut
Hamparan padang lamun
menghitam saat petang
saat peri bermain
berenang ke laut
legenda cinta
melepas rindu
di batu batu
saat ombak bercumbu
saat suara angin
dan jejak rindu
dijilat ombak
Seperti puisi cinta
nyanyian di dahan bakau
menunggu pasang
menunggu peri pulang
legenda cinta
peri laut
melintas waktu
saat laut segera pasang
saat peri menangis
wahai cintaku
kini hanyut ke laut
bersama surut
Jejak perahu
tertinggal di hamparan pantai
dihapus ombak
saat Nelayan tua
saat pasang tiba
menebar jaring
menjemput takdir
Waktu berlalu
dan seperti perahu
dibawa ombak
seperti percakapan senja
kenangan hanyut
sebelum makan malam
sebelum pulang
sebelum pohon ketapang
hilang bersama bayang bayang
2026
Jakarta , Suatu Pagi
Sebuah bangku
Suatu pagi basah
Di sudut Jakarta
seorang Penyair tua
Pergi sendiri mencari puisi
Di sisi jalan
Seorang tunawisma
Lelap mendengkur
Selamat pagi Jakarta !
Sebuah gerobak bakso
Lewat bersama siul
Asap mengepul
angin musim selatan berdesir
dedaunan pohon asam
kuning
gugur
di selokan berpasir
Bulan kesiangan
Atas jembatan layang
pucat dan jauh
seperti sebuah kampung yang lusuh
gemeresik suara
Penyapu jalan
Bersenandung sendiri
mengemas remah hari
seandainya sapu lidi ini
tak menari sepanjang hari
alangkah samun sekotah negeri
: kamipun pahlawan tanpa faksi
Selamat pagi
kami datang lagi
dengan puisi
Trotoar riuh
suara buruh
lusuh
semenjak subuh
Menyanyi lagu
suatu hari aku disini
Jakarta
kami melangkah pasti
dengan bayangan rumah kontrak
dan tawa kekanak
di antara pematang kerontang
dan warung tempat berhutang
Jangan menangis
Jakarta tidak bengis
Pluit kereta jalur pantura
Menderu
Entah kemana
tapi bukan waktu pulang
Dan di jakarta
hari berlari
Mengikut langkah
diantara tong sampah
Seperti pohon asam
Sedekah daun
seandainya pepohonan asam
tetap asri
akan sampaikah mereka ke sini
Penyair tua
di bangku tua
melepas Rindu
inilah Jakarta
cuma puisi yang mengerti
2026
Jangan Menangis Messi
Kepada : WA
Dia berjalan ke tengah gelanggang
medali perak tergantung di dadanya
Matanya berkaca kaca
tapi dia tidak menangis
Dia menengadahkan mukanya ke langit dengan cupping hidung merah menahan duka
Mungkin dia sedang bertanya pada penguasa langit
mengapa argentina kalah.
Apakah dia telah dikalahkan oleh politik
atau kesombongan
Jangan menangis Messi.
Sejarah tak bisa dihapus
Semalang malang nya hidup,
adalah ketika kita tidak bisa
meninggalkan jejak sejarah pada nama
Siapa yang akan menghapus namamu
dari buku sejarah sepak bola?
Jangan menangis Messi
Pluit terakhir berbunyi pada menit ke-90
dan semenit sebelumnya gol itu terjadi.
Kau tak bisa mengalahkan waktu
meski tendangan penjurumu
bisa berubah jadi hantu
Jangan menangis Messi
20 Juli 2026.
*Judul teringat sebuah lagu lama Madonna : Don’t Cry Argentina
**) Rida K Liamsi, seorang penyair. Kini menetap di Tanjungpinang, Kepri. Sudah menulis sejumlah buku puisi. Buku puisinya ROSE memenangkan Anugerah Buku Puisi Terbaik Indonesia Pilihan Badan Bahasa 2018. Buku puisi terbarunya: Qasidah Cinta Untuk Fatma (2026).