Puisi-Puisi Shafwan Hadi Umry

Pantai

Pada beribu jejak
kutulis secarik sajak
mungkin tak ada jejak kita lagi
dibantai ombak demi ombak
seperti jejak kita ranap lenyap
dalam kenangan dan ingatan
tapi para pengunjung ini
berduyun datang menyampaikan jejak
tak terbaca derai cemara
karena angin pada pesisir
datang dan pergi untuk tak setia
seperti ombak dan cinta
datang dan pergi untuk tak setia

Sri Mersing, 28 Mei 2025

Pantai (2)

Senja tinggal sisa
di laut itu kekasihku
tak ada lagi jejak kita
bagai tapak belangkas
hanyut tiada bekas
seperti kata
Pablo Neruda
“cinta begitu ringkas
lupa begitu panjang”.

Di tepi sungai Bedagai

Kepada T.H.

Seperti kenangan yang mengalir di sungai
dibawanya seberkas sajak yang bakal usai
singgahi kuala demi kuala cinta
tapi srpasang badai bertiup di senja air mata
menjelma api sedupa mantra
“Semuanya selesai”, isakmu di ujung tanjung
Maka pada sungai di bawah lantai
kita siapkan perpisahan ini
biarlah mengalir ke jauh samudra

Medan, (2013-2015)

Sei Deli

Beratus tahun aku membaca Sei Deli
tajuk mahkota negeri tua
tempat mandi si Putri Hijau
dalam hikayat sejarah
airnya jernih tebingnya bersih
tujuh perawan mandi terlindung
suaranta bertingkah ketipak ketipung
berenzng bergurau kelilling kampung

Ahho..
Tanahku Deli
tepian mandi si putri Hijau
kini sunyi suara burung
Lily Suhairi bermain gendang
bermain biola di pinggir sungai
Tak ada lagi datuk Kesawan
bersampan gagsh ke muara Sicanang

Kini sungaiku ah sungai kusayang
Hlang lenyap dengan ratapan
karena sampah sepanjang zaman
menjadi igauan orang Medan.

Medan, 1 Juli 2024

Penulis Peraih Anugerah Sastrawan Nasional 2024.

 

Comments (0)
Add Comment