Rahasia
Sayang, maukah kau kuberitahu
Ihwal rahasia cinta yang abadi?
Elus hujan pada dedaunan yang rindang
Sepoi angin pada niur yang melambai
Dekap induk kuda pada anaknya
Gelap malam pada pencuri ketenangan yang bertafakur
Hilir sungai yang menghidupi tetumbuhan
Pantai yang mengusap daratan dengan ketenangan
Kapal-kapal yang berangkat dengan harapan
Serta pulang dengan penghidupan
Peluh pekerja yang riang melihat senyum anaknya
Senja yang menghembuskan nafas lega
Siapa yang menggerakan, Sayang?
Sekali lagi, siapa?
Ialah yang menggulirkan pagi ke malam
Dan siang menuju senja yang rindang.
Dzat yang selalu aku rindui
Melebihi kerinduanku padamu.
Sayang, cemburukah kau pada-Nya?
(Purbalingga, 2025)
Merindu
September ini aku teringat Majnun
Pil apa yang ia telan sehingga ia overdosis cinta
Kata-katanya adalah sungai yang mengalir ke laut jauh
Kerinduannya serupa belantara hutan tanpa jalan keluar
Lanturnya serupa oceh burung yang keracunan kata
Ia terjebak dalam labirin cinta yang dibuat oleh Layla
Aku ingin menjadi Majnun
Terjebak selama-lamanya dalam dekap elus rahman-rahim-Mu
Bahkan, aku tak ada niatan sedikit pun untuk keluar
Karena ketersesatanku adalah jalan menuju-Mu
Ketersesatanku adalah buah kesadaran yang manis
Sebuah pintu pertaubatan yang agung agar aku bisa
Bertemu denganmu di malighai cinta yang abadi. Amiin
(Purbalingga, 2025)
Kangen
Aku cari-cari kesibukan di dunia ini
Aku lahir, aku sekolah, aku kuliah, aku berkeluarga
Aku beranak pinak, aku menua dan aku kembali
Kembali pada dekap peluk-Mu yang abadi.
Kesibukanku di dunia ini adalah pelipur lara
Penyangkalan yang aku sendiri muak dengannya
Hartaku, ilmuku, keluargaku, hidupku adalah sesuatu
yang terbuat dari seolah-olah.
Aku tertipu wujud. Sedangkan Kau tak pernah kasat mata
Kecukupan hanyalah omong kosong
Aku tidak pernah merasa kenyang dengan harta
Apalagi dengan kekuasaan yang semu
Aku hanya akan terpuaskan dengan wajah-Mu
yang mewujud dalam bulir-bulir cinta yang lembut.
Aku berharap agar Engkau sudi menjadikanku kekasih
Kutemui Kau disetiap rakaat yang telah ditentukan
Menyebut keagungan yang hakiki
Menyerahkan hidupku, jalanku dan rasa rinduku hanya untuk-Mu.
(Purbalingga, 2025)
Mufradat
Pada mata seorang bocah yang menghafal mufradat,
aku melihat kehidupan.
Gagal, ulangi, gagal, bangkit lagi.
(Purbalingga, 2025)
Di Senja yang Ke-50
Untuk: Bapak Fahruddin Faiz
Langkahnya tidak pernah gontai
Hatinya adalah teduh cemara di musim panas
Senyumnya serupa lembayung senja di ufuk barat
Tutur katanya, gerimis yang membasuh jalanan yang sumuk
Hidupnya adalah pengabdian pada umat
Semoga dalam usahanya meniti jalan pulang
Saya menjadi salah satu penumpangnya
Semoga.
(Purbalingga, 2025)
Yanuar Abdillah Setiadi
Lahir di Purbalingga, 01 Januari 2001. Mukim di Desa Timbang, Kecamatan Kejobong, Kabupaten Purbalingga. Mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan Islam UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Alumnus Pendidikan Bahasa Arab di Kampus yang sama. Dua buku mutakhirnya berjudul Mengaji Pada Alif (2023) dan Melihat Lebih Dekat (2024). Nominator Terminal Award Mojok.co Yogyakarta tahun 2023. Karyanya termuat di berbagai media di antaranya; mojok.co, maarifnujateng.or.id, Majalah An-Nuqtoh, litera.co.id, tajdid.id, mbludus.com, ruangjaga.com, sukusastra.com, gokenje.my.id, dan geger.id. Kontributor “Covid-19 Pandemi Dunia” (2020), “Lintang 3” (2020), dan “Di Ujung Tanjung” (2020). Instagram: @yanuarabdillahsetiadi. WA: 085723806525.