(1)
Aku tulis sajak ini
Untukmu Angeline
Dari alam sana
Alam yang tak lagi ada kekerasan
Memang aku pergi lebih dulu
Sekitar 30 tahun yang lalu
Sejak zaman orde baru
Ternyata tak ada perubahan
Berganti orde, berganti presiden
tabiat orang tua belum banyak berubah
mereka sama-sama tak sabar melihat kita
anak-anak yang ceria
dan sekali-kali menggemaskan
Angeline, dimana kamu sekarang
sudahkah engkau bisa bermimpi?
(2)
Sajak ini terpaksa kutulis
Untukmu Angeline
Sebab kematian kita
Memang terlalu muda
Ya terlalu muda
Aku hidup hanya sebentar
Ya seusiamu juga
Masih duduk di sekolah dasar
Masih suka main-main
seperti anak-anak lainnya
Walaupun aku hidup di orde baru
Yang katanya orde pembangunan
Namun ayahku tak berhasil
Menikmatinya
Ia tetap saja terseok-seok
Mencari sesuap nasi
Dari sore hingga pagi
Mungkin inilah biang keladinya
Kalau aku sedikit rewel
Ayahku tak sabaran
Memukul aku sejadi-jadinya
Menendang aku kekiri kekanan
Seharusnya yang ia pukul
Seharusnya yang ia tendang
Adalah Negara ini
Yang gagal memberinya
Kedamaian
Dan kesejahteraan
Namun begitulah
Aku ini adalah korban salah sasaran
Ayahku memang tidak berpendidikan
Hingga tak tahu cara
menghadapi anak-anak
yang sering berkeliaran
(3)
Aku jadi bertanya
Bukankah aku lahir
Karena ayahku menyayangi ibuku
Artinya
aku lahir sebagai buah kasih sayangnya?
Ya buah cintanya
Tapi mengapa setelah aku lahir
Ayahku jadi pemberang
tak sabaran
Ayahku jadi suka marahan
Ayahku jadi sadis sungguhan
Dan akhirnya
Mengantarkanku untuk
Kembali duluan
Angeline
Nasibmu juga demikian
Tak lebih tak kurang
Walau yang menyiksamu
Bukan ayahmu
Bukan ibumu
Tapi ibu angkatmu
Yang juga tak sabaran
Yang juga tak paham dunia anak-anak
Yang juga sadis tak ketulungan
Kita, Angeline
Adalah korban ketidak adilan
Kita lahir dari keluarga yang terpinggirkan
Kita lahir dari keluarga yang dikalahkan
Akibat kejamnya pembangunan
Yang hanya memberi kesempatan
Kepada kaum yang kuat
Kepada kaum yang punya uang
Angeline,
Suatu waktu aku ingin menjengukmu
Untuk sedikit bertukar pikiran
Tentang perlunya pendidikan
Bagi orang-orang muda
Yang hendak berrumah tangga
Agar mereka memahami
Perangai anak-anak
Yang sering nakal
Dan menyebalkan
Sehingga mereka tahu
Bedanya anak tak mau makan
Karena demam
Dengan tak mau makan
Karena melakukan perlawanan
Sehingga mereka tahu
Rewel karena minta perhatian
Dan kasih sayang
Dengan rewel karena sakit perut
Atau kepanasan
(4)
Buat bapak dan ibu kami
Baik yang bapak kandung
Ataupun bapak tiri
Baik yang ibu kandung
Ataupun yang ibu tiri
Hadapilah kami-kami ini
Dengan senyuman
Dan kasih sayang
Bukan dengan kayu
Ataupun tongkat panjang
Pekanbaru, 2016
Catatan: Anggara, adalah anak-anak, kelas 2 sekolah dasar, Jakarta, yang dipukuli bapaknya, di tahun 1980-an, sehingga sakit panas/demam dan akhirnya meninggal. Kematiannya menjadi berita nasional, dan Mendikbud Nugroho Notosusanto (atau Fuad Hasan) waktu itu membuatkan patung Anggara untuk mengingatkan orang tua untuk ramah pada anak-anaknya sendiri. Angeline, juga anak sekolah dasar, yang juga ditemukan tewas dan dikubur di belakang rumahnya sendiri, rumah ibu angkatnya, di Denpasar, mengalami kekerasan dan akhirnyaa tewas, 2015 an.
Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Esai Kritik Resensi, Peristiwa Budaya dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel: redaksi.tirastimes@gmail.com