Meripih Hening di Kota Padang | Puisi-Puisi Sujud Arismana

MERIPIH HENING DI KOTA PADANG

kubilas jeritmu

yang tak kunjung redam

mengerang-erang

gaduhkan duniaku

darahmu teralalu anyir

menyesak rasaku

melebihi wirama sendu

yang melebam

pohon dan ranting

laun-laun mengering

dekam kematian

yang berkarat

rumah gadang kita

dan taman siberut kita

telah kejang

membelai jerit tangismu

kulepar selindap tirta

yang menggegar

mentawai

renggut akar jiwa

di sebatang arau

yang terpiuh

mengapa harus ada gempa?

jika pelipur laramu

meracaukan

kampung monte

yang hilang!

tuhan…

masih kusimak

mayat-mayat hening

yang bertapa kaku

di nagari-Mu

bermuka masam

dengan seluang pilu

bertalu-talu

Pekanbaru, September 2011


SEKERLIB MATA NURBAYA

: Siti Zakiah Nuraini

kibasan angin

menyambar teluk bayur

menanam tilas-tilas

sang malin kundang

yang membatu

segera kugoreskan matahari

di puncak singgalang

memikat burung kedasih

yang gusar

merekat cinta sepuh

ranah minang…!

kukenali kau

lewat catatan khusuk

anak rantau

sepelik isyarat tuhan

yang merecah

di bukit padang

tidakah terwatas rupamu

menjangkau

pantai air manis yang tersendat

membelai risak ajalmu

musik talempong

dan tarian piring

masih mengendap,

di ubun-ubunku, sayang?

tolong…

kembalikan sekerlip

mata nurbayamu

yang pernah kunikmati

bersama sajak-sajak gempa

sebelum tuntas merincis

kenangan di kota debu

Pekanbaru, September 2011


SEMBURAT TITIS HIJAU

kepalku menjulat

merayakan wukuf

jari-jarimu

menjamah pohon anggur

dan sawit

di semak belukar

sunyatanya

merombak paksa

hutan tropis

untuk menepis

bancah mirisku

di ara-ara

askar rakyat

memapang galau

mencelik mata ringsutnya

pada negeri tuan-tuan

yang termansyur

pepatah petitih

merampas sekapur sirih

tanah ulayat

yang mengilap rangkaian

songket melayu

paling terindah

kukenali semenjak sore

setungkah risau

mengelontor lindap

bias bianglala

maka kupertanyakan

air yang terembas

di tubuhmu

agar tebing dan jurang

menitiskan semburat hijau

bukanya menggaring

di ranahmu

Jarah Terlarang, April 2012


KEPAK BURUNG SRINDIT

sembahku serumit

sekerumunan nadi

yang terpukat

menghabiskan

letup sebasahan

keringatmu

sebenarnya purnama

telah menangis

celupkan cahaya

di luhak-luhak

tunas matamu

yang meggelepar

cibiran jatayu sulung

menumpas angkara

yang hendak merau

sayapmu

standan peluk biduan

terasa hangat

menyelimutiku

kau lengserkan

siulan termedumu

ke telukku

tapi jangan bilang

kau hilang

jika semua orang

menjadikanmu ada

Pekanbaru, Mei 2012


SELAPIS KABUT

tajuk liaran

jengah menyapaku    

berpesta

mengambangi sunyi

langkah kita

adalah jembatan

pengukur ingatan

tak urung perca

di dusun marwah

tinggal suratan           

meraup takluk

pemukul beduk

muak mengingatkanmu

menjadi suci

sebab, pijakan lanyakmu

menyimpan mesteri

sejati diri

di temaram bertuah

di istana kuning air

sri indrapura

kau merangsat

melogatkan lidah sejarah

selapis kabut

menyamarkan pinggiran

sungai siak

ruas-ruas daun jabon

akhirnya mewariskan

tinta emas yang luntur

bebatin penerusmu

Pekanbaru, Mei 2012


ANTOLOGI MIMPI

aku berilusi

merasai setengah detik

tafsiran warna

rambut putihku

menggenang sekelebat

yang menetaskan

kegemaranku menyantap

arak-arakan matlamat

ngilu sesepi nostalgia

cahaya lelawa

tali-tali yang terikat

di sela kaldera hati

menyuguhkan

pekik kekuasaan

terlumat setabah cibiranmu

kau tak mampu

menyihir gerak

ruang waktu

kerena percakapanku

mendegup sekecup resa

yang terhanyut

bukankah antologi mimpi

yang tercekau di awan

menawarkan kekosongan belaka

dan sulit di wujudkan

dalam dunia nyataku

Pekanbaru, Mei 2012


PEREMPUAN PENGIRIM PESAN

lewat jelajah

tiga lirik tawa

kuberangkat ke tasik

menjuntai pusara

penabuh reka

di tanah seberang

pundakku

menghabiskan setampuk kesal

juga sekering kerontang

yang menjujuh

letupan desas-desus

guruh gemurai

seharusnya

dentam lagu pucuk pisang

menyangkal paksa penyaru

yang meyalami

kerat tikus

pengusir fajar

tak urung penggalan safar

mamatik tungkalan

jerih payahmu

mengulas serimpung

keletahku

entah dari mana

datangngnya

perempuan pengirim pesan

desahnya serapah gugur

selayang pandang

merampas kinantan putih

yang kerap

kutunggangi menuju-Mu

Lancang Kuning, Mei 2012


YANG BERKELASAH DI BUMI BLORA

/i/

kau larungkan sekudung rindu dan luahan rima-rima luka

dari sungai lusi yang mengalirkan sesakit air mata.

ingatlah lidahmu sering memesan suhuf-suhuf kehilangan,

berlayar menembus hutan-hutan jati,

menjaring suaka cinta di tanah kendeng berkapur.

negeri mustika—di situ dahulu jiwamu tertempa

mengolah kilang-kilang minyak, melebarkan sawah ladang,

menguri-uri budaya: barongan, tari tayub, gasdeso,

dan memenangkan pertarungan melawan waktu,

agar kusumamu berpijar menggenggam cakrawala putih.

/ii/

kau tepiskan sumpah serapah yang angkuh—kolonial penjajah.

semakin cermelang nyalimu, semakin peka hatimu

restu alam semesta diperdengarkan

dijiwa yang tabah, yang pasrah.

kau setangguh Arya Penangsang

tumpas, berantas, keharibaan.

meminang semangat paling mulia.

/iii/

sungguh, bait literasi memantrakan wajah pertiwi,

mengikat, menelusup, menyebar keseluruh penjuru angin,

hingga menghentak-hentak nuranimu yang purba.

kau gali catatan dari tinta sejarah,

hingga menghampar di pantai sajadah

sampai ke dalam reruntuhan tubuh tanpa marwah.

/iv/

     matahari tenggelam —adalah surat kabar itu.

               kau berkelasah dalam ribuan hari, mencari arasy di titik cahaya hening

            perjalanan menikmati sunyi,

pada jejak yang tertinggal di bumi blora.

 menepilah di mihrab- mu, melata dalam sujud senja,

      agar dekap peluk-Nya manaungimu: abadi.

wisma-joglo, 08042020


Menguri-uri      : Memilihara / Mempertahankan

Barongan        : Kesenian khas masyarakat Blora Jawa tengah, menyerupai Singo Barong atau Singa Besar sebagai penguasa hutan angker dan sangat buas.

Tari Tayub         : Kesenian khas masyarakat Blora Jawa Tengah yang mengandung unsur keindahan dan keserasian gerak.

Gasdeso             : Tradisi tahunan sedekah bumi yang dilakukan saat panen padi tiba.


KEPADA PRAM

-Pramoedya AnantaToer

kepada pram :

kutitipkan ratapan basah

yang menganyam bait kata

pada jeruji kesengsaraan

di Pulau Buru

kepada pram :

kutuliskan alur hidupmu

di jejak-jejak

anak semua bangsa

yang melepaskan

sayap kebebasannya

kepada pram :

kupersembahkan

nyanyian seorang bisu

yang meruah,

kekalkan namamu

yang meradang

di khalayak ramai

kepada pram :

kucatatkan sejarah

bumi manusiamu

yang penuh rupa-rupa

berpagut peradaban

kepada pram :

kualirkan narasi arus balik

sebagai penyelaras kehidupan

menyisakan sealir diri

yang julang terbilang

dari buah pikiran jernihmu

Pekanbaru, Juli 2020


DI RUMAH KITA YANG RENTA

bu. di rumah kita yang renta. suara paraumu menyapa kemarau hingga mengusik embun yang tertegun menatap pagi. menjelang usia delapan puluh empat. aku ingin  menggandeng tangan keriputmu sepanjang hari, menyandarkan kepala manjaku dipundak yang dulu pernah menopang beban-beban yang terperih.

bu. di rumah kita yang renta. senyummu menjadikan duniaku sesempurna pelangi, menawarkan warna pada seraut wajah yang memeram sejarah. menjelang usia delapan puluh empat. ada kilat terang benerang di dasar hatimu, kemakbulan doa untuk berserah syukurku.

bu. di rumah kita yang renta. tausiyahmu membawaku ke gerbang kedamaian. menjelang usia delapan puluh empat. ada cahaya di surau kita. sebelum subuh  kimenyusuri riwayatmu di setapak jalan yang menggenang sealir kebersamaan. sesejuk air wudhu, sedingin kalbuku mengusir rasa ragu.

bu. di rumah kita yang renta. rasa gurih dan sedap masakanmu, tersaji gelak tawa alam semesta raya. menjelang usia delapan puluh empat. kau sigap menyiapkan ubi rebus kesukaanku, selunak harapanku yang tergerus.

bu. di rumah kita yang renta. kungin terlelap dipangkuanmu, meninabobokan perjumpaan yang teramat berharga. menjelang usia delapan puluh empat. di telapak kakimu yang retak, tersembunyi surga bagiku.

bu. di rumah kita yang renta. pintu, jendela, kamar dan rumbai kering tempak kita berteduh telah porak poranda oleh ambisi duniawi. menjelang usia delapan puluh empat. semua akan berlalu seperti musim. tapi kasihmu tak merenta dan merapuh di ujung waktu.

Pekanbaru, Januari 2021


  • Sujud Arismana nama pena dari Pujiono Slamet. Kelahiran Blora Jawa Tengah, 8 Agustus 1981. Tinggal di Pekanbau. Menulis puisi, cerpen dan novel. Merupakan anggota FLP Cabang Pekanbaru. Beberapa puisi pernah di muat media lokal dan nasional. Buku Antologi Puisi Tunggalnya ”Gadis Pesisir Melayu ” (Alif Gemilang Pressindo, 2013), Putri Malam (Bebook, 2016), Ranting Kering (Vigibless Publisher, 2019).

Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Pentigraf, Esai, Pantun, Kritik, Resensi, Peristiwa Budaya, dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel:
redaksi.tirastimes@gmail.com

Comments (0)
Add Comment