DESEMBER DAN SENYUM PERAWAN YANG MEMECAHKAN RUANGAN
Akhirnya dan akhirnya
Sebuah potret dingding berlapis kenang
Rubuh menjadi keping-keping luka
Menepis habis segala yang kusebut cinta
Melumat pahit kangen dari ingatan yang berkepanjangan.
Esok dan seterusnya
Tak ada lagi yang mesti aku pahat di dinding itu
Nama-nama indahnya sudah meluber bersama abu
Setelah perawan memecahkan ruangan dengan senyuman yang mematikan.
Jogja, 2022
Wail Ar, pemuda kelahiran Sumenep Madura. Mahasiswa UNU Yogyakarta. Sejumlah puisinya dimuat di Jawa Pos, Radar Madura, Harian Bhirawa, Rumah Baca, Literasi Sumenep, Negeri Kertas, Dunia Santri, Lintang Indonesia.