Sepatu (1) | Puisi : Wina Armada Sukardi

Sepatu (1)

Diletakan  paling bawah

selalu diinjak-injak

terkadang dijadikan alat penindas kaum papa

sepatu tak pernah terhinakan

Senantiasa masih menjadi tumpuan kekukuhan kaki 

untuk berdiri dan berlari.

Sepatu selalu dibersihkan dan dipoles sampai mengkilat.

Hanya sepatu yang sepadan ukurannya memberikan kenyamanan bagi pemakainya.

Sepatu kebesaran mudah membuat limbung

Sepatu kekecilan bakal melukai diri

serta menghambat perjalanan.

Sepatu melindungi kaki  dari luka lantaran segala onak

Sepatu pun dapat mengantar seorang pelacur  yang menolong memberi air minum  

kepada seekor  anjing kehausan 

menggunakan sepatu menuju jalan ke surga.

Dalam  dogeng dari barat sampai timur

sepatu yang tertinggal menentukan seorang menjadi ratu.

Sepatu mengapungkan ajaran

tidak semua pekerjaan dan  jabatan cocok buat kita

Tugas yang keberatan membuat jiwa tertekan

jabatan tinggi tanpa berkah

menjebloskan  menjadi pesakitan di balik jeruji besi

Sedangkan pekerjaan yang di bawah kemanpuan memupuk  kemalasan

memupus kemampuan terbaik.

Serendah apapun jabatan dan kedudukan kita

jika  amanah dan

ahli

jauh lebih berguna

ketimbang memiliki kedudukan tinggi

tapi ingkar dan batil.

Sepatu kiri dan kanan pastilah berbeda

tapi keduanya saling menghormati dan bekerja sama melahirkan langkah-langkah  serasi  dan kuat

tanpa pernah saling menuding  dan mengeluh.

Sedangkan manusia  kerap membenci perbedaan dengan dirinya

lalu berlaku  tidak adil

bagi siapapun yang berbeda.

Setiap orang  memiliki ukuran sepatu masing-masing.

Kita mau pilih sepatu yang mana?

Manusia hanya berharga jika bermanfaat bagi sesama manusia lainnya.

Sepatu memanusiakan manusia.

Si tamak, dengki,  dan khianat

derayatnya lebih daif dari sepatu

kini,  nanti 

serta selamanya.*

Jakarta, 24 April 2023

puisisastra
Comments (0)
Add Comment