Sepatu (1)
Diletakan paling bawah
selalu diinjak-injak
terkadang dijadikan alat penindas kaum papa
sepatu tak pernah terhinakan
Senantiasa masih menjadi tumpuan kekukuhan kaki
untuk berdiri dan berlari.
Sepatu selalu dibersihkan dan dipoles sampai mengkilat.
Hanya sepatu yang sepadan ukurannya memberikan kenyamanan bagi pemakainya.
Sepatu kebesaran mudah membuat limbung
Sepatu kekecilan bakal melukai diri
serta menghambat perjalanan.
Sepatu melindungi kaki dari luka lantaran segala onak
Sepatu pun dapat mengantar seorang pelacur yang menolong memberi air minum
kepada seekor anjing kehausan
menggunakan sepatu menuju jalan ke surga.
Dalam dogeng dari barat sampai timur
sepatu yang tertinggal menentukan seorang menjadi ratu.
Sepatu mengapungkan ajaran
tidak semua pekerjaan dan jabatan cocok buat kita
Tugas yang keberatan membuat jiwa tertekan
jabatan tinggi tanpa berkah
menjebloskan menjadi pesakitan di balik jeruji besi
Sedangkan pekerjaan yang di bawah kemanpuan memupuk kemalasan
memupus kemampuan terbaik.
Serendah apapun jabatan dan kedudukan kita
jika amanah dan
ahli
jauh lebih berguna
ketimbang memiliki kedudukan tinggi
tapi ingkar dan batil.
Sepatu kiri dan kanan pastilah berbeda
tapi keduanya saling menghormati dan bekerja sama melahirkan langkah-langkah serasi dan kuat
tanpa pernah saling menuding dan mengeluh.
Sedangkan manusia kerap membenci perbedaan dengan dirinya
lalu berlaku tidak adil
bagi siapapun yang berbeda.
Setiap orang memiliki ukuran sepatu masing-masing.
Kita mau pilih sepatu yang mana?
Manusia hanya berharga jika bermanfaat bagi sesama manusia lainnya.
Sepatu memanusiakan manusia.
Si tamak, dengki, dan khianat
derayatnya lebih daif dari sepatu
kini, nanti
serta selamanya.*
Jakarta, 24 April 2023