Sebuah Perjalanan yang Kulalui dengan Tidur | Puisi : Yudi Muchtar

Sebuah Perjalanan yang Kulalui dengan Tidur

Kau tiba di tempatku membawa kenangan, selalu aku ingat di ujung syakban

Kau adalah dahaga menarikku pada perjalanan jauh

Melintasi tiga puluh stasiun

Lalu, di stasiun terakhir

Orang-orang akan terlahir suci seperti bayi

Kutatapi tingkah orang-orang di dalam kendaraanmu

Tak semuanya ingin terlahir kembali

Di sepuluh stasiun pertama

Satu-dua penumpang turun tanpa permisi

Sebab mereka tak sanggup

Menahan nafsu untuk ditangkup

Mereka mengeluh:

“Mengapa makanan baru terhidang ketika matahari telah tumbang?”

Mereka melenguh:

“Seolah-olah semua kesenangan dicabut dari tangan, mulut, telinga, hidung, kaki, bahkan di pikiran kami sendiri.”

Aku pun sempat ragu

Ikut terus atau melompat keluar diam-diam

Sementara orang-orang di depanku

Terus memujamu dengan takzim

Mengikutimu penuh halim

Tiba-tiba kondekturmu berteriak:

“Kendaraan ini akan terus berangkat ada-tidaknya penumpang.”

Aku urung

Kembali duduk tercenung

Tekak kering dan perutku bunyi-bunyi

Sayup-sayup terdengar suara anak kecil di belakangku:

“Bu, kenapa orang itu selalu haus?”

“Karena ia selalu ingat minum nak.”

“Bu, kenapa orang itu selalu merasa lapar?”

“Karena ia selalu ingat makan nak.”

“Tapi Bu, kenapa orang yang di ujung sana seolah tak mengingat keduanya?”

“Karena ia hanya mengingat Tuhan.” pungkas Ibunya.

Aku lalu menutup mata

Mencoba abai pada keadaan sekitar

Bukankah paling menyenangkan di perjalanan adalah terlelap?

Di saat aku tertidur

Penumpang lain sibuk membagi-bagikan bekal kepada orang-orang di tepi jalan, di stasiun, bahkan sesama penumpang

Dalam pulasku

Aku melewatkan nasihat orang saleh di pojok belakang,

“Beribadah adalah mengerjakan kebaikan tanpa berpikir kau memiliki kebaikan itu.”

Tidurku semakin nyenyak

Tak kurasakan lagi lapar dan haus itu

Aku pun terbangun ketika kendaraanmu tiba di stasiun ketiga puluh

Riuh penumpang kauturunkan satu-satu pada bangunan putih, kokoh dan megah

Tempat orang-orang kembali suci seperti bayi

Lalu aku penumpang terakhir, kauturunkan pada sebuah gang remang yang buntu

Hanya ada bangunan tua terlihat rapuh, usang dan menyimpan aroma bangkai

Di halamannya, kakiku berhenti penuh sesal

Aku terisak, mengulang-ngulang membaca sebuah plang bertuliskan:

“Tempat untuk penumpang yang hanya menahan lapar dan haus! “

~

Indragiri Hilir, 12 Mei 2020

puisisastra
Comments (0)
Add Comment