Sebuah Perjalanan yang Kulalui dengan Tidur
Kau tiba di tempatku membawa kenangan, selalu aku ingat di ujung syakban
Kau adalah dahaga menarikku pada perjalanan jauh
Melintasi tiga puluh stasiun
Lalu, di stasiun terakhir
Orang-orang akan terlahir suci seperti bayi
Kutatapi tingkah orang-orang di dalam kendaraanmu
Tak semuanya ingin terlahir kembali
Di sepuluh stasiun pertama
Satu-dua penumpang turun tanpa permisi
Sebab mereka tak sanggup
Menahan nafsu untuk ditangkup
Mereka mengeluh:
“Mengapa makanan baru terhidang ketika matahari telah tumbang?”
Mereka melenguh:
“Seolah-olah semua kesenangan dicabut dari tangan, mulut, telinga, hidung, kaki, bahkan di pikiran kami sendiri.”
Aku pun sempat ragu
Ikut terus atau melompat keluar diam-diam
Sementara orang-orang di depanku
Terus memujamu dengan takzim
Mengikutimu penuh halim
Tiba-tiba kondekturmu berteriak:
“Kendaraan ini akan terus berangkat ada-tidaknya penumpang.”
Aku urung
Kembali duduk tercenung
Tekak kering dan perutku bunyi-bunyi
Sayup-sayup terdengar suara anak kecil di belakangku:
“Bu, kenapa orang itu selalu haus?”
“Karena ia selalu ingat minum nak.”
“Bu, kenapa orang itu selalu merasa lapar?”
“Karena ia selalu ingat makan nak.”
“Tapi Bu, kenapa orang yang di ujung sana seolah tak mengingat keduanya?”
“Karena ia hanya mengingat Tuhan.” pungkas Ibunya.
Aku lalu menutup mata
Mencoba abai pada keadaan sekitar
Bukankah paling menyenangkan di perjalanan adalah terlelap?
Di saat aku tertidur
Penumpang lain sibuk membagi-bagikan bekal kepada orang-orang di tepi jalan, di stasiun, bahkan sesama penumpang
Dalam pulasku
Aku melewatkan nasihat orang saleh di pojok belakang,
“Beribadah adalah mengerjakan kebaikan tanpa berpikir kau memiliki kebaikan itu.”
Tidurku semakin nyenyak
Tak kurasakan lagi lapar dan haus itu
Aku pun terbangun ketika kendaraanmu tiba di stasiun ketiga puluh
Riuh penumpang kauturunkan satu-satu pada bangunan putih, kokoh dan megah
Tempat orang-orang kembali suci seperti bayi
Lalu aku penumpang terakhir, kauturunkan pada sebuah gang remang yang buntu
Hanya ada bangunan tua terlihat rapuh, usang dan menyimpan aroma bangkai
Di halamannya, kakiku berhenti penuh sesal
Aku terisak, mengulang-ngulang membaca sebuah plang bertuliskan:
“Tempat untuk penumpang yang hanya menahan lapar dan haus! “
~
Indragiri Hilir, 12 Mei 2020