Rembulan, Hujan, dan Bale Bambu: Puisi Die Aisandi

Saat itu bulan tepat di langit barat
Di atas bale aku merintih
Sial! Pantatku perih
Bambunya mencuat dua
Tapi mataku tetap ke ujung meja

“Suami potong kaki istri?”
“Ibu bunuh anak, lalu gantung diri?”
“Maling ayam digebukin sampe mati?”
Buru-buru kucabut kabel TV

Gila! Gila! Sungguh Gila!

Sementara aku berbaring
Memandang kosong
Rinai hujan yang berdenting
Pada kaleng semprong
Ditemani radio warna kuning
Di bawah kolong

“271 triliyun kasus timah”
“Korupsi pembangunan gedung sekolah”
“Penyelewengan dana irigasi”
“KPK usut pengelolaan dana investasi”

Sarap! Sarap! Sungguh sarap!

“Tuhan”, bisikku berang
Kaya bukan titahMu
Miskin tidak Kau larang
Mengapa manusia masih rusuh?

“Tuhan”, panggilku mesra
Kutahu yang ada kan jadi tiada
Biarkan tiadaku dipeluk ibadah
Seperti janjiku dulu, sebelum bertemu dunia

Bekasi, 5 Mei 2024

Comments (0)
Add Comment