Rembulan Pucat di Anjung Seni: Puisi Bunda Swanti

Memandang dalam diam
Dibisikkan lewat bayu lungunnya
Seseorang yang telah meremas rasa
Mengaduk aduk pikiran hingga terkulai, lesu

Di depannya cawan telah tersaji
Merah muda molek nian
Mata tak berkedip menatap tiap gerak
Ingin menggapai sayang tak tersentuh

Wajah pucat itu tertutup pilu
Ratapi resah bercampur cemburu
Adakah aku telah terusir?
Dari sulam rindu yang pernah diukir

Mendung kian bergelayut
Dari pasi yang sengaja ditutup
Dengan senyuman, sehambar kuah gulai selais tanpa garam
Kalah, dan menyerah

Kenduri Puisi 2024

Comments (0)
Add Comment