Seni Dan Keturunannya: Puisi Wahyu Mualli Bone

Sampai hari ini, tahun di mana meletakkan tanggal dan bulan memaparkan tentang seni dan keturunan nya.

Rapi, dari detik berpedoman kan matahari hingga toko jam banyak beralih ke toko telepon genggam.

Renyah, mulai berkabar lewat burung hingga telegram di genggaman, seni ikut andil menyapa lewat emoji ragam ekspresi.

Banyak berita beredar, sebelum dan sesudah peristiwa surat kabar banjir langganan hingga jadi langganan kembali di kedai harian, seni masih panjang umur.

Betapa ramah, seni terlebar kan sayap sampai setiap suapan pun ada seninya hingga balita ikut terhibur.

Merespon hari, di mana belum ditemukan Masehi kah atau Hijriah kah nama tahunnya, setiap pergantian abad, beragam kabar hadir, lisan maupun tulisan, bumi nya kah, langit nya kah menyibak kisah kasih aneka kias.

Seni belum pikun, masih ikut zaman di renta nya, sampai sampai seni ikut lawakan gaul.
“Ayo, seni ikut zaman atau zaman ikut seni”
“Ayo, siapa yang mengenal ku, dari darah berwarna apa aku berasal, dari golongan darah apa pula bila kusebut mulai dari A hingga ke Z. Oh ya, jangan lupa lengkap dengan faktor Rhesus nya”.

Tidak hanya itu, seni juga menambahkan.
“Aku masih ingin ditanya, mau jadi apa sudah besar nanti”.

Segala yang menyimak banyak yang terpingkal termasuk anak-anak, sambil menyuarakan maksud, “Tapi sudah tua, mengapa masih ingin ditanya cita-cita mau jadi apa”.

Seni menjawab
“Aku sudah tua bahkan renta dan senja untung belum malam. Baiklah, kujawab atau kujawab, do’akan sama sama ya, semoga pikun tidak menyempatkan singgah menjelang malam ku, aku memang sudah tua tapi belum besar”.

Pekanbaru, 5 September 2023

Comments (0)
Add Comment