Sepi Tanpa Suara: Puisi Pramesetya Aniendita

Di meja makan, kursi kosong berbicara paling keras.
Sendok beradu, menyalin jeda yang tak bisa ditutup tawa.
Ibu menunduk, matanya merah,
namun katanya baik-baik saja.

Jam dinding berdetak lebih berat,
menyisakan jarak yang sulit dipeluk.
Aku belajar mengunyah getir,
seolah kenyang oleh kehilangan.

Di kamar, ada nama yang tak lagi kusebut.
Terlalu berat menaruhnya dalam doa,
terlalu perih menyimpan di dada.

Malam menyalakan lampu redup.
Keluarga ini masih tetap berdiri,
meski rahasia di antara kami
telah menua menjadi sepi.

Bandar Lampung, 25 Agustus 2025

Pramesetya Aniendita, seorang pegiat literasi dan Certified Read Aloud Trainer yang kini aktif menulis puisi. Sejak kecil ia telah jatuh cinta pada dunia literasi. Kecintaannya itu tumbuh menjadi karya. Ia mulai menulis secara produktif sejak tahun 2024. Hingga kini, Dita telah menelurkan 9 buku solo, beberapa di antaranya berhasil terbit mayor, serta berkontribusi dalam lebih dari 100 buku antologi. Selain menulis, Dita juga aktif di berbagai komunitas literasi, di antaranya Paberland, Bacaan Media, Sobatnulis, serta termasuk peserta yang lolos 36 besar Anugerah COMPETER Indonesia 2026 yang akan diumumkan pada tanggal 1 Januari 2026.Dita kerap diundang sebagai pemateri untuk berbagi ilmu kepenulisan dan dipercaya menjadi juri dalam berbagai ajang literasi. Yuk, kenal lebih dekat dengan Dita melalui instagram @book.wormholic.

Comments (0)
Add Comment