Tak Ada Penjara untuk Imajinasi: Catatan Bambang Kariyawan Ys.

Kekuatan Imajinasi

Berbicara imajinasi, berarti membincangkan salah satu anugerah Tuhan untuk seorang makhluk bernama manusia. Dengan imajinasi lahir dan hadir karya-karya gemilang umat terbaik manusia dalam memeluk kehidupan di muka bumi.
Pentingnya imajinasi seperti dikatakan Immanuel Kant bahwa imajinasi memberikan kontribusi signifikan terhadap aspek kognitif, estetika, dan moral kehidupan kita. Ini menyatu dengan cara kita berpikir, bernalar, dan memahami dunia di sekitar kita.
Imajinasi dapat dilejitkan dengan mengoptimalkan potensi alam bawah sadar melalui proses “mengikat mimpi”. Dalam kajian psikologi disebutkan tentang teori gunung es. Melalui serangkaian terapi menggelitik alam bawah sadar kala menjelang tidur akan membuat urat syaraf dalam tubuh terkoneksi untuk mengoptimalkan imajinasi tersebut.
Imaijasi membuat sejarah pada mereka yang menjadikannya sebagai pilihan. Banyak orang-orang besar hadir di muka bumi karena kekuatannya melejitkan imajinasi dalam pikirannya. Bahkan tak ada penjara untuk sebuah imajinasi. Kita dapat mencatat sejarah tokoh-tokoh besar di muka bumi yang menghasilkan karya terbaiknya kala di jeruji. Sejarah mencatat beberapa nama dan karya besar yang mewarnai perubahan umat manusia. Kita membaca Indonesia Menggugat karya Bung Karno, Tetralogi Pulau Buru (Pramoedya Ananta Toer), Tafsir Al-Azhar (Buya Hamka), Dari Penjara ke Penjara (Tan Malaka), dan Krisis Ekonomi dan Kapitalisme (Mohammad Hatta).

Perjalanan Cerpen di Riau

Cerpen sebagai bagian dari kepenulisan kreatif tak pernah habis ditulis. Cerpen memiliki ruang pembaca dan penghargaan tersendiri. Cerpen di Riau telah menemukan pola tersendiri dalam mewarnai perjalanan sastra. Perjalanan cerpen di Riau dapat dilihat dalam pengantar “100 Tahun Cerpen Riau” yang pernah terbit tahun 2014. Mengulas perjalanan cerpen sejak kelahiran Soeman Hs (1904) hingga tahun terakhir.
Cerpen di Riau pernah tumbuh subur kala hadir media Saga, Sagang, Riau Pos, Riau Mandiri, dan beberapa media yang memberi ruang cerpen setiap minggunya. Serta beberapa lembaga yang secara rutin mengadakan kompetisi cerpen seperti Laman Sastra Budaya Dewan Kesenian Riau. Demikian pula sastrawan di Riau telah memberikan warna perjalanan cerpen di negeri ini.

Membaca “Terapi Kamar Mandi”

Perjalanan cerpen di Riau hari ini dilanjutkan dengan terbitnya Kumpulan Cerpen Balai Bahasa Provinsi Riau dengan judul “Terapi Kamar Mandi”. Buku yang hadir ini hasil perjalanan imajinasi 33 penulis di bawah bimbingan dua cerpenis Riau, Hary B Koriun dan Olyrinson.
33 penulis dengan ragam kemampuan dan latar penulis, menjadi menarik dari sudut pandang sosiologi sastra. Latar penulis secara sadar maupun tidak telah berpengaruh pada cerpen yang dihasilkan. Latar daerah kelahiran, daerah tempat tinggal, profesi, serta kekaguman pada penulis lainnya tampak mewarnai dinamika cerpen dalam buku ini.
Ragam tema hasil perjalanan imajinasi. Secara umum tema interaksi antar keseharian hidup sebagai manusia dengan judul seperti tayangan televisi kita “Wanita Suamiku”, “Takdir Cinta Gadis Mumbai”, “Sweet Pea”. Beberapa yang beda “Aroma Nafas Terakhir” (seperti menyaksikan film bioskop yang sedang tayang “The Creator”) bahkan ada yang kreatif bermain dengan waktu “Ketika Malam Tiba”. Sajian kearifan lokal dalam “Wanita Penyadap Karet” dan “Kuda Hitam”. Bahkan ada yang beraroma seperti “Dunia Sofie” (Kagum atas Kefanaan).
Upaya totalitas menuju zero kesalahan penampilan telah dilakukan namun masih berkutat pada typo. Penampilan cerpen itu penting sebagai bentuk menarik pembaca untuk memutuskan proses mengakhiri kisah yang tersaji dalam cerpen.
Judul, telah dipilih dengan memperhatikan kaidah (tidak judul berita) “Bara Sumbang”. Pilihan judul “Terapi Kamar Mandi” sebagai judul buku dianggap representasi keseluruhan naskah yang penuh dengan kesederhanaan dan sekaligus kejutan.
Lead sebagai kalimat pembuka membuat kita disergap dengan sesuatu yang membuat tanya: “FASIH bernalarku gagap, seperti kayu dimakan rayap” Komposisi dialog dan deskripsi, bahkan ada yang tanpa dialog (“Lemari Tua”), Perlu menghindari basa-basi dalam dialog yang tidak perlu serta pengulangan sapaan dan salam yang tidak penting. Logika cerita masih perlu dibangun agar hal fiksi tetap masuk akal untuk dinikmati. Kearifan local yang dijadikan tema pun bukan sekedar tempelan.
Penokohan, masih seputar sosok antar manusia. Ada yang unik “Ketika Malam Tiba” (varian waktu), “Mengutuk Waktu” (manusia dan kera). Alur/Plot, masih mencari titik aman, alur maju. Minim alur maju mundur. Sedangkan konflik dalam buku ini, seputar konsekuensi antar manusia. Memuncak pada satu konflik setelah melalui proses kausalitas. Ending, diupayakan twist meski ada yang masih terkesan dipaksakan. Amanat, beragam tema dengan beragam amanat yang memiliki pesan sentral tentang kemanusiaan.
Satu catatan akhir, dengan kehadiran Terapi Kamar Mandi oleh Balai Bahasa Provinsi Riau turut memperpanjang perjalanan cerpen di negeri ini. Tahniah.

Bambang Kariyawan Ys., Guru dan Pengurus BPP FLP.

Comments (0)
Add Comment