Adalah ketika aku terbang tinggi, menembus cakrawala,
sayap-sayapku menutup sebagian awan,
laksana sayap malaikat.
Adalah ketika paruhku begitu kokohnya,
setiap kicauannya mendeburkan desir angin.
Dan ketika aku menyapa dunia,
mereka tersenyum dan menyambut suka cita.
Aku membangun mimpi-mimpiku dan terus terbang tinggi,
Menembus cahaya diufuk.
Dalam iringan waktu,
sayap dan paruhku rapuh,
sementara ada impianku yg belum tercapai,
cahaya di ujung ufuk itu menyilaukan mataku,
cahaya itu tertimang- timang dlm mimpiku,
laksana hasrat dan jiwa terbelenggu oleh dinding yg tebal,
dinding yang tiada pintunya,
membatasiku dgn cahayanya,
setiap saat cahaya itu memanggilku begitu kuatnya.
Aku ingin terbang kesana bukanlah semata diliputi kehendak,
tapi hanya melepaskan tali-temali yang tersisa dikedua kakiku,
dan membawa cahaya itu kesarangku,
kupersembahkan pada elang-elang kecilku,
agar mereka juga terbang lebih tinggi.
Seandainya sayap-sayapku patah berderak,
akupun akan tetap terbang semampuku karna tekadku,
bahwa semua dinding pasti ada pintu-pintunya,
membuka jalanku,
menuntunku untuk menuju cahaya impianku.
Pekanbaru, 4 Januari 2019
Noraiz Z. Bakri, pada tahun 1993 telah memenangi penulisan Puisi Tingkat Propinsi Riau yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Riau (DKR) sebagai Juara II dengan judul “Bayang-Bayang di Langit”. Telah memiliki manuskrip Kumpulan Puisi “Angin Yang Menerbangkan” (1991) dan “Manusia” (1991).