Ada Kodok Ada Hujan: Puisi Wahyu Mualli Bone

Paduan suara lagi. Tak mungkin di Padang tandus, kalaupun ada beda suaranya. Bunyi-bunyian yang dimengerti sebangsanya dan bangsa pengagum komunikasi lintas hijau, teduh aliran maupun genangan, melagenda dalam Doa kodok minta hujan.

Jangan sembarang, kodok juga punya nyawa, lebih bersih dari manusia yang dilengkapi apa dan apa.

Kodok merapal mantra-mantra antara marga, sesuai kemampuan dan rongga suara, kembang-kempis perut menendang pita, lantang ragam nada dan irama.

Bagaimana tipe bunyi, nada dasar dan iramanya yang jadi pujaan dunia nada, asal tidak jadi sesembahan saja. lain katak lain pula koncet, bancet dan sebangsanya, tak ada yang banci, hanya bisa membuahi dengan sendirinya di sekumpulan bangsa kodok betina bila terjadi peristiwa tanpa kodok jantan.

Mantab lah kodok, langganan gaul gurau hingga buli-bulian.
Diam lah kodok, ketika tanpa jeda di perbincangan.

Kadang bisa jadi kode alam bagi Penderes, Penakik dan Pelait getah para, terkait ada kodok ada hujan. Senada kabar burung tentang kode dan tanda-tanda. Boleh dipercaya, boleh tidak, selayang gambaran keakraban alaminya alam menyikapi kabar yang rentan kabur oleh hoax di puak-puak dan lopak yang mengotak-atik kerja otak mengkotakkan ini itu.

Biarlah sedikit panjang, sepanjang jempol masih selaras ikut perintah menekan tombol genggaman elektronik, tanpa bisik-bisik yang mengusik fisik dan metafisik.

Paduan suara belum terhenti selagi hujan masih mau membasahi hamparan hijau terendah ini.

Sejangat, 27 November 2023

 

Comments (0)
Add Comment