Halaman buku usai dibolak-balik, ketemu masa silam penuh birahi dan hasrat bertumpuk di antara hutang dan maut.
Tumbukan gunung di dada memuntahkan lahar drama bernoda hitam dan kecut memancing air mata.
Tahan! Dua bola mata tak rela membuang air yang lama dikantungi untuk melanjutkan perjalanan ke tangga-tangga surgawi.
Sedih menggumpal seperti awan hitam melepas air hujan pantang membasahi raga di medan juang.
Sesekali memungut pajak hidup yang mengilu di tubuh ksatria keluarga hingga terbanting di altar putus asa.
Berdiri sekali lagi menatap langit begitu luas, usap pipi yang berdebu dan berlari ke depan.
Sukowiyono, Juli 2024.
Muslih Marju, penyair yang lahir di Bangkalan tanggal 15 Januari 1988. Aktifitas mengajar di Komunitas Sastra bernama Malam Sastra Tulungagung. Terhimpun karya antologi Puisi (Tunggal) “Perjalanan Cahaya Malam” Penerbit Nizamia (cetakan I, 2016, dan pernah dimuat di Media Indonesia, Rakyat Sumbar, Koran Madura, Buletin FSB Jejak dan bloggertulungagung.com.