Ambruknya Langgar Kampung Kami : Rusmin Sopian

Ambruknya Langgar  Kampung Kami

Karya  : Rusmin Sopian

 

Di Kampung Kami yang damai, ada sosok lelaki setengah baya yang akrab dipanggil Mang Kudut oleh  warga Kampung  Kami. Nama aslinya  Markudut. Di Kartu Tanda  Penduduknya pun tertulis  Markudut.  Lelaki itu dikenal sebagai sosok yang alim. Religius.

Usai pensiun sebagai pegawai pemerintah, Mang Kudut menghabiskan waktunya dengan beribadah.

” Saya ingin menghabiskan sisa usia ini  dengan mendekatkan diri kepada  Sang Maha Pencipta, Allah SWT. Memohon ampunan kepada Sang Maha Pengampun atas segala dosa yang saya perbuat.  Lagi pula saat masih aktif bekerja saya terlalu memikirkan duniawi.  Melalaikan akherat,”ungkap  Mang Kudut kepada  para warga Kampung Kami.

Suaranya berbalut kesedihan.  Seolah-olah merasa bersalah kepada diri sendiri. Seakan-akan ada rasa sesal dalam nuraninya. Para warga Kampung Kami yang mendengarnya pun ikut terenyuh.

Tak heran, kini setiap waktu  sholat tiba, Mang Kudut selalu sholat berjamaah di Langgar  Kampung Kami. Tidak ada sholat berjamaah di Langgar yang tidak ada Mang Kudut.

Mulai dari Sholat  Subuh  hingga  Sholat  Ashar. Lelaki setengah baya itu selalu hadir sholat berjamaah di Langgar.  Kecuali  sakit, baru dia tidak sholat berjamaah di Langgar.  Bahkan  terkadang, saat sakit pun dirinya memaksakan untuk sholat berjamaah di Langgar.

” Shalat berjamaah di Langgar memberikan kesempatan kepada saya untuk belajar dan meningkatkan ilmu agama. Di Langgar ini kan ada berbagai aktivitas keagamaan seperti pengajian, tadarus Al-Quran dan kajian Islam yang dapat saya diikuti, sehingga saya sebagai kaum muslimin dapat terus meningkatkan pemahaman dan kecintaan terhadap agama,” urai Mang Kudut.

Para warga Kampung Kami yang mendengarnya terpesona. Mereka makin kagum dengan proses hidayah Mang Kudut.

” Layak dicontoh,” ujar seorang warga.

” Pantas menjadi panutan,” sambung warga Kampung Kami lainnya.

Mang Kudut pun lalu didaulat para jamaah sebagai pengurus Langgar Kampung Kami. Walaupun bukan sebagai  Ketua, namun jabatannya cukup mentereng di kepengurusan Langgar Kampung Kami.

” Terima kasih untuk kepercayaannya,” ujar  Mang Kudut saat menerima amanah sebagai Pengurus Langgar Kampung Kami.

Tak heran kini aktif mengajak warga untuk datang ke Langgar.

” Langgar  adalah tempat  kita untuk  salat. Tempat  kita untuk mengaji. Manfaatkan Langgar ini untuk mendekatkan diri kepada  Sang Maha Pencipta Allah SWT,” ujar  Mang Kudut.

Mang Kudut boleh bangga dengan kepercayaan yang diembannya sebagai  Pengurus Langgar Kampung Kami. Tidak semua warga Kampung Kami bisa memperoleh amanah sebagai Pengurus Langgar.

” Untuk menjadi pengurus Langgar di Kampung kita ini, minimal warga bisa memimpin Sholat. Menjadi Imam. Siapa tahu ada Imam Langgar yang berhalangan. Tidak bisa Sholat berjamaah di Langgar. Dia bisa menggantikan posisi sebagai  Imam sholat,” ungkap seorang mantan pengurus Langgar Kampung Kami.

Langgar di Kampung Kami memang sudah tergolong sangat tua.  Ini terlihat dari gentengnya yang sudah berubah warna. Hitam kusam.

Demikian pula dengan tiang penyangga Langgar mulai melemah. Bahkan banyak bagian tiang penyangga yang sudah mulai lapuk dimakan usia. Menjadi ruang rayap berkembang biak.

Menurut cerita para orang tua di Kampung Kami, Langgar ini sudah berdiri semenjak zaman penjajahan. Dan Langgar ini dulunya dijadikan markas pejuang.

” Saat zaman perjuangan melawan  penjajahan, Langgar ini kami jadikan markas perjuangan,” kisah seorang tetua Kampung Kami.

Tidak heran bila banyak kisah dan cerita dari para Tetua Kampung Kami tentang Langgar itu.

Narasi berupa rencana rehabilitasi pembangunan Langgar bukanlah  sesuatu baru di telinga warga Kampung Kami.

Setidaknya, setiap musim kampanye tiba, narasi rehabilitasi Langgar menggemuruh. Menggema.  Menawarkan angin surga di telinga warga Kampung Kami.

Dan anehnya, usai musim kontestasi  demokrasi selesai, narasi rehabilitasi Langgar menyusut di ruang publik Kampung Kami. Hilang entah kemana. Dibawa angin pencitraan. Dibawa mulut-mulut berbau ambisi.

Sebagai orang yang dituakan dan dilabeli alim oleh warga Kampung Kami, tak heran bila Mang Kudut selalu membawa tasbih kemana pun dia pergi.

Demikian pula saat sholat berjamaah di Langgar, Mang Kudut selalu di barisan paling depan. Kadang shafnya dibelakang Imam. Tak pernah di barisan kedua.  Apalagi barisan belakang. Maklum, Mang Kudut datang ke Langgar sebelum azan berkumandang dengan religius.

Beberapa kali diminta sebagai Imam sholat berjamaah, Mang Kudut selalu menolak.

” Berikan kesempatan kepada yang lebih tua,. Lebih afdol, ” elaknya.

” Berikan kesempatan kepada kaum muda untuk menjadi Khatib jumat biar ada kaderasi.  Ada regenerasi.  Kita ini kan sudah tua. Mata sudah tidak terang.  Bacaan jadi terbata-bata,” alasannya saat diminta Ketua  Langgar sebagai Khatib .

Pada saat ada kegiatan ceramah dari Ustad  tersohor dari Kota, Mang Kudut selalu berada di dekat penceramah kondang dari Kota itu. Terkadang foto selfienya bersama Dai Kondang yang berceramah di LanggarKampung, dijadikannya status di WhatsAppnya. Bahkan terkadang dipublishnya  di media sosial miliknya.

” Biar orang-orang seumuran saya, kawan-kawan saya termotivasi untuk beribadah di sisa umurnya,” jelas Mang Kudut.

Siang itu, cahaya matahari berada di atas kepala.  Orang-orang mulai meninggalkan kesibukannya sekedar beristirahat. Ada yang menyantap makanan. Mengisi perut untuk menambah energi.  Ada pula yang memanfaatkan waktu istirahat itu dengan tiduran. Ada yang menikmati dengan menghirup secangkir kopi. Dan beragam kegiatan lainnya.  Termasuk menunaikan sholat Zuhur.

Mang Kudut terlihat bergegas menuju Langgar Kampung Kami.  Maklum, waktu sholat Zuhur telah tiba.

Mang Kudut kaget saat tiba di Langgar.  Tidak ada seorang pun yang berada di Langgar. Padahal waktu Zuhur telah tiba.

” Kemana para jamaah Langgar ? Apa  mereka lupa ?.” Tanya Mang Kudut dalam hatinya.

Ditengah kegundahan yang menggerogoti hati  Mang Kudut,  seorang  anak remaja hadir  di Langgar.

” Nak?, tolong kamu  kuamandangkan azan biar para warga Kampung kita tahu bahwa  waktu  Zuhur telah tiba,” pinta  Mang Kudut kepada anak remaja tersebut.

Anak remaja tersebut mengangguk.

Usai Azan dikumandangkan dengan religius oleh anak remaja itu, belum  ada tanda-tanda para  warga Kampung Kami dan jamaah  hadir di Langgar.

Hati Mang Kudut kembali gelisah.  Iqomah yang hendak dikumandangkan remaja itu diminta  Mang Kudut tunda.

” Mohon iqomahnya ditunda dulu. Kita tunggu jamaah yang lainnya datang.” Pinta Mang Kudut.

Anak remaja itu, kembali  menuruti permintaan Mang Kudut.

Sudah hampir lima belas menit menunggu, belum ada tanda-tanda kehadiran jamaah Langgar yang tiba.

Keringat mulai membasahi tubuh Mang Kudut. Kegelisahan menyelimuti tubuhnya.

Seiring datangnya angin kencang dan hujan deras yang membasahi bumi.

Dan suara dentuman keras terdengar.  Mengagetkan Mang Kudut. Dirinya hampir pingsan.  Jantungnya hampir copot dari katupnya.

Matanya terbelalak. Langgar roboh.  Secepat kilat, dirinya melompat. Berlari bersama anak remaja itu meninggalkan Langgar yang ambruk.

Toboali, Malam ke-17 Ramadan/ 7 Maret 2026

Penulis adalah pegiat literasi Toboali Bangka Selatan. Cerpennya tersiar di berbagai media massa lokal dan luar Bangka Belitung. Saat ini tinggal di Toboali Bangka Selatan. Kakek dua orang cucu yang bernama Nayyara Aghnia Yuna dan Muhammad Arkhana Nafiandy.
Comments (0)
Add Comment