Haji Dua Kali, Aku Melenggang Jadi Petinggi
Oleh: Hendrizon Bin (Alm) Nashruddin Zakaria
Siang itu matahari sedang bersinar dengan sangat teriknya, seolah-olah tepat berada satu jengkal di atas Kota Tirani. Akan tetapi tidak sedikit pun melunturkan semangat Haji Miun – yang saat itu belum bergelar Haji hanya Miun. Melakukan aktivitas sebagai seorang tenaga honorer yang sedang menyelesaikan pekerjaan kantor dengan membersihkan halaman, mengantarkan berkas, membelikan kopi atasan, dan memastikan map-map berisi data calon jamaah haji tertumpuk rapi di atas meja kantor.
Kala itu Miun adalah simbol dari kedisplinan kantor. “Inggih, Pak,” atau “Siap, Pak,” adalah dua kalimat sakti dengan logat khas jawanya selalu meluncur dari bibirnya yang kering. Ia dikenal sebagai sosok yang rajin, berdedikasi, tutur katanya sopan, dan sikapnya sedemikian rendah hati hingga orang-orang merasa iba bila melihat statusnya sebagai Honorer.
“Lihat si Miun kinerjanya sangat luar biasa,” kata seorang temannya saat melihat Miun kehujanan membawa tumpukan dokumen penting.
Miun hanya tersenyum tipis. Tapi di dalam hatinya, sebuah api hitam mulai menyala. Ia muak dengan kesabaran. Ia bosan menjadi “si kecil” dan “budak kantor” yang hanya bisa mencium tangan orang lain. Ia ingin tangannya itu berbalik dicium pula oleh orang lain.
Perubahan itu dimulai dari sebuah kesalahan sistem di ruang arsip. Sebagai orang yang memegang kendali atas input data awal, Miun menemukan sebuah celah. Ada nama-nama yang sudah wafat namun masih tercatat, ada selisih biaya administrasi yang bisa “dibelokkan” ke rekening pribadinya, dan ada antrean yang bisa dipercepat bagi mereka yang punya uang pelicin.
Miun pun mulai bermain. Ia berhasil menjadi seorang ASN dan memiliki mobil pribadi singkatnya ia menjadi sukses. Dalam dua tahun, pundi-pundi hartanya terus meluap. Ia pun terasa ingin melaksanakan ibadah haji untuk pertama kalinya. Pulang dari sana, ia bukan lagi Miun tapi adalah Haji Miun.
Tapi gelar itu hanyalah topeng. Haji pertamanya adalah sebagai modal untuk membangun jaringan korupsi yang lebih besar. Ia berhasil memanipulasi data kuota haji sehingga ia berhasil menduduki jabatan sebagai “Seorang Petinggi” di tempat kerjanya.
Dunia Haji Miun berubah total. Supra bututnya yang dulu menjadi kendaraan sehari-hari, kini berganti dengan sedan mewah yang mengilap. Kemanapun ia pergi, AC dingin dan service layanan sebagai seorang petinggi senantiasa menemaninya. Namun, seiring dengan empuknya kursi mobil, hatinya pun mulai mengeras seperti aspal jalanan.
Kesantunan yang dulu menjadi senjatanya, kini berganti menjadi caci maki. Di kantor, tak ada lagi “Siap, Pak”. Yang ada hanyalah teriakan, “Bego kamu, Goblok kamu! Kerja begini saja tidak becus!” kepada staf bawahannya. Ia mulai gila hormat. Setiap masuk ruangan, ia menuntut semua orang berdiri. Jika ada yang lupa mencium tangannya atau menyapa gelarnya dengan lengkap, maka tamatlah riwayat karier orang tersebut.
“Haji Miun sekarang sudah jadi nabi kecil,” bisik seorang staf kepada temannya. “Segalanya dia halalkan. Kini gaya bicaranya seolah-olah dia akan hidup seribu tahun lagi.”
Guna menutupi desas-desus miring tentang harta dan perilakunya, Miun berangkat haji untuk kedua kalinya. Ia berangkat dengan fasilitas mewah, mengambil paket VVIP atau sekelas Haji Plus kalau sekarang. Padahal uangnya berasal dari keringat para calon jamaah yang ia curangi antreannya.
Pulang dari Tanah Suci yang kedua, bukannya makin tawadhu, Haji Miun malah makin menjadi-jadi. Ia merasa telah “membeli” rida Tuhan dengan hartanya. Ia merasa kebal hukum, baik hukum manusia maupun hukum langit. Manipulasi data haji dan biaya perjalanan (ONH) ia lakukan secara masif. Ia memotong hak orang miskin untuk mempertebal dinding rumah megahnya.
“Pak Haji, ingatlah akhirat. Apa yang Bapak lakukan ini menyakiti banyak orang,” seorang guru mengaji tua pernah datang menasihatinya secara pribadi.
Haji Miun tertawa terbahak-bahak hingga air matanya keluar. “Bapak tahu apa tentang agama! Saya ini sudah pergi naik haji dua kali ke Baitullah lho. Saya ini sudah dijanjikan surga. Sudah lah pak?”
Ia tidak hanya menolak nasihat, tapi ia menyumpahi dirinya sendiri dengan sombong, “Kalau memang saya salah, biarlah saya jadi gembel sehina-hinanya di jalanan ini!”
Kutukan yang ia ucapkan sendiri ternyata didengar oleh semesta. Hanya butuh waktu satu malam bagi segalanya untuk runtuh. Sebuah investigasi besar-besaran dari pusat membongkar skandal manipulasi data haji yang ia pimpin selama bertahun-tahun.
Haji Miun tak sempat melarikan diri. Semua asetnya disita. Rumah megahnya dipasangi garis polisi. Mobil mewahnya diangkut truk derek. Istri dan anak-anaknya pergi meninggalkannya karena malu dan tak sudi menanggung beban sosial. Teman-teman yang dulu menjilat kakinya, kini meludah saat melihat fotonya di televisi.
Ia dijebloskan ke penjara. Namun, penderitaannya tak berhenti di sana. Di dalam sel, ia terus berteriak, “Saya Petinggi! Saya Haji dua kali!” hingga para tahanan lain muak dan menghajarnya habis-habisan.
Sepuluh tahun berlalu. Di sudut lampu merah kota yang dulu ia pimpin, tampak seorang lelaki tua dengan baju compang-camping yang bau busuknya tercium dari jarak sepuluh meter. Rambutnya gimbal, kulitnya dipenuhi koreng yang tak kunjung sembuh.
Lelaki itu adalah Miun. Ia berjalan terseok-seok, memegang kaleng bekas, meminta-minta kepada setiap mobil mewah yang lewat. Satu orang pun tak sudi lagi berteman dengannya karena sumpah serapah yang dulu ia ucapkan sendiri. Ironisnya, ia mengakiri hidupnya dengan cara gantung diri. Sehingga tersiarlah kabar dimajalah dengan Judul “Haji Dua Kali, Jadi Petinggi Akhiri Hidup dengan Gantung Diri”
Haji Miun, sang petinggi yang dulu melenggang angkuh, kini menjadi pelajaran berharga tentang bagaimana kesombongan dan pengkhianatan terhadap amanah Tuhan bisa menghancurkan manusia sejadi-jadinya.
Bengkalis, 14 April 2026
Hendrizon, Lahir di Bengkalis 17 Juli 1979. Bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil bagian Kehumasan pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bengkalis. Pada 24 Februari 2024 resmi dilantik sebagai anggota Perkumpulan Rumas Seni Asrizal Nur (PERRUAS) Riau sebagai Koordinator untuk Kabupaten Bengkalis Masa Bhakti (2024-2026). Mulai Aktif menulis sejak tahun 2021.No.Hp/WA 0813 1533 2965.