Udara malam yang dingin tidak menyurutkan semangat pak Anto untuk terus mencari peruntungan. Di sebuah sawah yang penuh dengan air ia menggantungkan nasibnya dengan harapan mendapatkan sedikit rezeki. Harapannya paling tidak ketika pulang pagi nanti ia membawa tangkapan yang banyak sehingga bisa dijual kepada pengepul ikan di dekat rumahnya. Semua peralatan sudah dipasang di beberapa Lokasi. Tajur dan pukat yang selalu menjadi senjatanya itu sudah berpuluh tahun diandalkannya untuk menghidupi keluarganya. Biasanya pak Anto pergi setelah salat isya dan pulang menjelang subuh. Sebenarnya bisa saja ia pulang setelah memasang tajur dan pukatnya, namun tentu tidak akan efisien dari segi waktu jika ia pulang. Karena jarak rumah dan tempatnya mencari ikan sangat jauh, tentu akan memakan waktu jika harus mondar-mandir.
Di atas sebuah perahu pak Anto beristirahat malam itu. Sebuah perahu yang berbeda dengan perahu pencari ikan lainnya. Perahu tanpa ada kepala di depannya. Perahu itu hasil karya pak Anto sendiri. Sebenarnya ada keinginan pak Anto untuk memiliki perahu seperti pencari ikan lainnya. Perahu yang cantik dan menarik serta nyaman untuk dikendarai, namun untuk mendapatkan perahu jenis tersebut pak Anto harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Dari info yang didapatnya, harga perahu seperti itu berkisar antara tiga ratus sampai lima ratus ribu rupiah.
Perahu yang dimiliki pak Anto terbuat dari papan sederhana. Pak Anto menyebutnya papan rempesan. Sebenarnya itu tidak layak disebut perahu, karena bentuknya tidak menarik. Jika diibaratkan manusia perahu itu ibarat perempuan yang berbadan gendut dan pendek. Intinya tidak menarik untuk dipandang. Bentuk perahu itu seperti kotak tempat menampung ikan kepunyaan pengepul di dekat rumahnya. Tidak ada galar yang penuh sebagai aksesoris perahu itu. Hanya ada sebagian saja yang ditutupi dengan papan bekas dan itulah lokasi tempat pak Anto beristirahat setelah selesai memasang tajur dan pukatnya.
Malam itu pak Anto ditemani anak laki-lakinya yang masih berumur 10 tahun. Anak yang masih duduk di kelas 3 sekolah dasar itu penasaran dengan kegiatan sang ayah dalam mencari ikan, sehingga malam itu ia ngotot ingin ikut. Akhirnya, walau tidak tega membiarkan sang anak merasakan dinginnya angin malam, pak Anto tidak mampu melawan kuatnya keinginan sang anak. Perahu buntung yang berukuran kecil itu semakin sempit jika digunakan untuk istirahat dua orang.
*****
“Kenapa bapak tidak membeli alat setrum ikan?” Sambil memakan bekal yang dibawa dari rumah, sang anak memberanikan diri bertanya. Pak Anto tidak langsung menjawab pertanyaan anaknya. Ia masih fokus dengan bekal yang ada di hadapannya.
Bekal makanan yang terbuat dari gandum dicampur nasi dan diberi bawang sedikit kemudian digoreng itu memenuhi rantang yang sudah usang. Bekal itu menjadi bekal wajib ketika pak Anto mencari ikan. Bekal itu sangat spesial karena disiapkan oleh istri tercinta.
“Kalau ada alat setrum itu pasti kita banyak dapat ikan.” Sang anak kembali membuat pernyataan tanpa menuntut jawaban dari pertanyaannya tadi.
Pak Anto menaikkan sarungnya karena angin malam semakin dingin. Penutup kepalanya pun disempurnakan. Sang anak juga mengikuti apa yang dilakukan pak Anto.
“Mahal ya pak, harga alat setrum itu?” Sang anak tampaknya masih penasaran dengan alasan pak Anto tidak membeli alat setrum ikan seperti yang dimaksudnya.
Pertanyaan anaknya yang barusan membuat pak Anto agak tersentak. Ia heran anak sekecil itu sudah mempunyai analisa sampai ke situ.
“Ada dua alasan kenapa bapak tidak membeli atau membuat alat setrum ikan itu, nak.”
Pak Anto memasukkan makanan yang tinggal setengah ke mulutnya, kemudian ia meneguk air dalam ceret.
“Pertama, benar apa yang kamu utarakan tadi. Kita memerlukan biaya untuk membeli atau membuat alat setrum ikan itu.”
Sang anak mulai mafhum. Ia menganggukkan kepalanya. Ia berpikir alasan pertama ini masuk logika. Jangankan untuk membeli alat setrum ikan, untuk kehidupan sehari-hari saja mereka harus berhemat. Ditambah lagi mencari ikan sekarang tidak semudah seperti dahulu. Sekarang mendapatkan satu kilo ikan saja sulitnya bukan main.
“Alasan yang kedua, jika kita memakai alat setrum, maka kita sama saja memutus keturunan ikan.”
Mendengar alasan yang kedua ini, sang anak menjadi heran sekaligus penasaran. Dengan polosnya sang anak bertanya.
“Kenapa bisa begitu pak?”
“Alat setrum itu akan membunuh semua ikan, dari yang besar sampai yang kecil.”
“Jadi, nanti semua akan mati dan tidak akan ada lagi keturunan ikan-ikan itu.”
“Akibatnya dalam waktu dekat tidak akan ada lagi spesies ikan di daerah yang terkena setrum.” Pak Anto terus menjelaskan tanpa menunggu respons dari sang anak.
“Berarti sama saja seperti mengambil buah dengan cara menebang pohonnya.” Sang anak mencoba memberikan ilustrasi.
Pak Anto bertambah kagum dengan kecerdasan anaknya. Pak Anto memegang kepala anaknya dan menatapnya dengan penuh kebanggaan.
“Sekarang kamu sudah fahamkan?”
“Iya pak, saya faham.”
“Sekarang kamu tidur, nanti bapak yang jaga.”
Sang anak pun mulai merebahkan tubuhnya di atas perahu buntung itu. Dan dalam hitungan menit sang anak sudah terlelap dengan mimpinya. Terlihat wajahnya polosnya yang masih memiliki masa depan yang indah.
Pak Anto sangat faham daya pikir sang anak. Di saat susahnya mencari ikan dengan alat tradisional sang anak ingin mendapatkan ikan dengan cara yang praktis. Hal itu kemungkinan didapat sang anak karena melihat teman-teman bapaknya sudah memakai alat setrum yang dianggap modern.
*****
Perahu buntung pak Anto mulai bergerak kembali ke rumahnya. Pak Anto menggerakkan perahunya dengan sebuah kayu panjang. Pak Anto sering menyebutnya satang. Beberapa tajur dan pukatnya sudah berada di atas perahu buntungnya. Terlihat ada beberapa ekor ikan yang didapat. Jika ditaksir sekitar satu kilo. Walaupun dibanding dengan kawan-kawannya yang memakai setrum, hasil yang didapat pak Anto masih kalah, namun pak Anto sudah bersyukur mendapatkan rezeki hari itu. Sang anak masih terlelap di depan perahu buntung itu.
Setelah sekitar setengah jam berjuang mengendarai perahu buntungnya, akhirnya pak Anto sampai di rumahnya. Sebuah rumah panggung sederhana yang semuanya terbuat dari atap. Dari dinding sampai atap terbuat dari atap. Sang istri sudah standby di depan teras. Sang istri yang hapal betul dengan jadwal kepulangan sang suami, tampak sumringah menyambut kedatangan suami tercintanya.
*****
Hari berangsur mulai pagi. Sepiring singkong rebus dan segelas kopi yang masih hangat menemani pak Anto dan keluarga. Obrolan ringan dan penuh tawa menghiasi majelis keluarga pak Anto pagi itu. Tampak sekali kebahagiaan terpancar dari keluarga kecil itu. Di tengah sulitnya mencari rezeki sebagai pencari ikan. Keluarga itu tetap optimis dan tidak pernah mengeluh. Di saat orang-orang beralih dengan peralatan modern tapi merusak, keluarga itu tetap dengan peralatan sederhananya yang ramah lingkungan.
Perahu buntung pak Anto menjadi saksi bisu, betapa gigihnya pak Anto mencari nafkah demi memperjuangkan keluarganya. Perahu buntung itu menjadi saksi integritas pak Anto dalam memegang prinsip, tidak akan merusak habitat hewan demi keuntungan sesaat.
Syabaharza adalah nama pena dari Syamsul Bahri Arza. Ia adalah Kepala MTs Al-Hidayah. Putra asli Pelabuhan Dalam Pemulutan ini sekarang berdiam di Desa Keposang Kecamatan Toboali Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung. Ia bisa dihubungi di syamsulpemulutan81@gmail.com