Dia mengungkapkan pada tanggal yang tertera di sini bahwa dia tidak pernah tau apa yang dirasakan laki-laki, apa yang dirasakan perempuan juga demikian.
Dalam pikirannya, hanya dia makhluk yang paling diuji setelah berabad peristiwa melanda manusia pertama. Konon, kalau percaya. Seperti peristiwa intelektualitas mengganggu kedalaman puisi bagi bibit-bibit gagal paham.
Apa mau dikata, jika kesempatan ini menyimpul kebebasan abadi. Sekuat apa hukumnya, tak sebanding melawan hukum yang membuat kita bisa begini.
Dia mengaku jujur kaku dengan puisi hidupnya, dengan renyah sya’ir caci maki sekeliling pinggangnya, dengan apalagi, untung belum luntur konsep percaya diatas percaya yang akrab sukar dalam lantunan latin.
Dia tidak mempercayai apapun yang bersifat penghakiman tapi dia lebih suka memilih tanggung jawab.
Dia menyindir butir-butir yang dianggap melawan hukum.
Dia tidak pernah merasa laki-laki, juga tidak merasa perempuan, sila sebut dia apapun. Banci, Pondan, Sangkan dan lain sebagainya termasuk Tuhan, Terserah.
Dia bukan Allah. Itu jujurnya dalam bahasa punya cerita.
Pulau Bengkalis, 22 April 2024