Beasiswa Untuk Darel
“Darel … Tunggu Aku!” Teriak Reno berlari dengan nafas terengah-engah.
“Pergilah! Jangan ikuti aku terus!” teriak Darel. “Tak bisakah kau tinggalkan saja aku sendiri?” sambungnya ketus.
Ucapan itu juga yang pada akhirnya menghentikan deru langkah Reno, tepat di ujung koridor SMA Tunas Bangsa. Kakinya sudah tak kuasa lagi untuk mengikuti Darel yang belakangan ini menghindarinya terus. “Ah, entah apa yang ada di pikiranmu saat ini, sahabat?” bisik Reno dalam hati. Sosok Darel pun perlahan menghilang dan makin menjauh hingga akhirnya tak kelihatan lagi.
Reno dan Darel sebenarnya adalah sahabat yang baik dan sangat akrab -setidaknya sampai beberapa bulan yang lalu- hingga akhirnya Darel secara tiba-tiba menjauhi Reno begitu saja tanpa suatu alasan yang jelas. Tentu saja ini bikin Reno jadi bertanya-tanya, gerangan apa yang membuat sahabatnya itu menjaga jarak darinya.
Air langit tiba-tiba turun tanpa kompromi, memaksa Reno yang masih dihantui kegamangan itu untuk menepi sejenak di pinggiran ruko yang memiliki kanopi cukup lebar. Ada beberapa orang yang juga tengah berteduh di sana. Pekerja kantoran, anak-anak sekolahan, pengendara motor yang sial karena tak membawa mantel, serta beberapa bocah kecil dengan baju basah kuyup menjajakan jasa ojek payung.
Dingin dan hujan masih setia menemani penghuni kota Depok sore itu: seolah ingin membangkitkan kenangan-kenangan yang tersimpan di setiap kepala. Pikiran Reno mulai berfantasi menjelajahi kembali hari-hari sebelumnya yang telah dia jalani. Seribu tanya mulai bergelayutan di kepalanya: apakah aku membuat Darel tersinggung? Apakah ada hari istimewa dalam hidupnya yang aku lupakan sehingga dia menjadi sedih? Ataukah Darel sedang mempunyai masalah di rumah? Tetapi kenapa dia tidak bercerita padaku? Beraneka macam syak wasangka berseliweran di sanubari Reno.
Darel dan Reno sudah bersahabat sejak SMP. Hampir semua orang -termasuk guru dan teman-teman- tahu kalau keduanya mempunyai cita-cita yang sama. Mereka berjanji untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri setamatnya dari SMA. Dan Inggris adalah negara yang mereka sepakati untuk jadi tujuannya. Mimpi yang bagi sebagian orang terlihat konyol untuk kelas menengah seperti mereka. Ditambah lagi menjauhnya Darel dari Reno membuat jalan menuju mimpi-mimpi itu kian sunyi dan hambar.
***
Beberapa bulan sebelum hubungan kedua sahabat tersebut renggang, ada sebuah percakapan dengan Darel yang amat membekas di hati Reno.
“Hei Reno, kalau misalnya aku tak lulus mendaftar kuliah di Inggris, tolong kirimkan salamku buat Ratu Elizabeth, ya?” kelakar Darel pada Reno.
“Sialan kau, Darel! Sampai hari ini saja aku bahkan belum bisa menyaingi kemampuan bahasa inggrismu,” ungkap Reno sambil manyun.”
Darel memang selalu paling unggul dalam mata pelajaran Bahasa Inggris dan belum ada di SMA ini yang bisa menandinginya. Tidak heran jika dia berkali-kali mewakili sekolah dalam English Debate Contest dan sederet lomba prestasi lainnya.
“Apa hal yang paling ingin kau lakukan di Inggris nanti, Reno?” tanya Darel.
“Ah … Lulus SMA saja belum, sudah berkhayal terlalu jauh”
“Bermimpi boleh saja, bukan?”
Reno terdiam sejenak sambil melayangkan pandangannya ke atas.
“Salju … Aku selalu bermimpi soal salju. Seperti apa kira-kira bentuknya? Apakah teksturnya lembut dan rasanya manis macam marshmallow? Pasti menyenangkan membikin boneka salju pada musim dingin,” jawab Reno dengan mata berbinar-binar.
“Ah, tenang saja, sobat. Aku akan menjadi orang paling pertama yang membuat boneka salju bersamamu. Pegang janjiku,” ucap Darel sumringah.
Tawa pun pecah diantara mereka di sore hari bulan Februari itu.
Reno terkadang sering merasa iri kepada sahabatnya, Darel. Selain dianugerahi otak yang cerdas, Darel juga pandai bersosialisasi. Dia senang bergaul dan berbaur dengan siapa saja. Jauh berbeda dengan Reno yang sangat tertutup -tipikal khas seorang introvert-, tidak banyak bergaul, dan tidak pula sepintar Darel. Namun entah bagaimana karena suatu peristiwa, dua orang yang berbeda karakter ini bisa bertemu dan akhirnya bersahabat karib dan secara kebetulan mengejar mimpi yang sama.
Bagi Darel dan Reno tentu tak mudah untuk menabung dari uang jajan mereka sejak kelas 1 SMA untuk dapat mengikuti kursus persiapan IELTS yang merupakan salah satu syarat wajib untuk mendaftar dan mendapatkan beasiswa kuliah di luar negeri. Mereka berdua bukan dari keluarga yang kaya. Kursus persiapan IELTS dan juga biaya ujiannya adalah komoditi mewah buat mereka.
“Tidakkah mimpi kita ini terlalu tinggi? Kita bukan dari keluarga yang kaya, macam tak tahu diri rasanya bermimpi kuliah ke luar negeri,” ucap Reno suatu kali.
“Kadang terlintas juga pikiran macam itu olehku, Reno” jawab Darel sembari tersenyum miris. “Aku adalah anak paling bungsu di keluarga. Kakakku yang paling sulung sudah menikah dan bekerja, punya tiga orang anak. Dia cuma sebagai pegawai honorer di kantor kelurahan, tak banyak yang bisa dia lakukan untuk membantu orang tua kami di tengah beban berat di pundaknya. Di antara kami masih ada pula dua saudari perempuan yang juga putus sekolah. Sekarang dua orang saudariku itu membantu Bapak dan Emak di warung. Barangkali aku satu-satunya harapan Bapak dan Emak untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Kakak-kakakku bahkan tak menamatkan bangku SMP,” tambah Darel lagi.
“Jadi kau memutuskan untuk menyerah?” tanya Reno.
Darel terdiam sambil menatap awan yang berbaris rapi di langit jalan Margonda Raya. Mulutnya kering dan terasa payau.
“Aku tetap akan mengejar cita-citaku,” jawab Darel tegas. “Aku tak akan menyerah pada keadaan. Bukankah Tuhan akan memberikan hasil yang terbaik jika hamba-Nya yang selalu berdoa dan berusaha?” sambungnya.
“Kau benar. Dan jangan lupa, kita punya tujuan yang lebih besar lagi.”
“Ha, tujuan apa itu?” tanya Darel.
“Ya, demi apa lagi … Tentu saja demi menemaniku membikin boneka salju di Britania Raya nanti,” jawab Reno berseloroh yang kemudian memecah gelak tawa diantara keduanya.
Kenangan-kenangan kebersamaan dan keakraban mereka berdua terus hadir di ingatan Reno. Dia rindu momen bersama-sama itu kembali, dimana mereka selalu diskusi dan belajar bersama. Berdebat soal filsafat barat, sastra, hingga revolusi industri. Namun kini Reno hanya bisa menjalani semua proses itu sendiri dengan ditemani kegelisahan dan rasa penasaran yang menyelimuti soal sahabatnya tersebut. Dia jalani malam-malamnya kini ditemani tumpukan buku-buku English Grammar, kamus kumal, dan laptop tua yang sudah bergaris-garis hijau layar monitornya.
***
Senin itu adalah hari pengumuman hasil Ujian Nasional kelulusan SMA. Seluruh siswa di sekolah meluapkan kegembiraannya dengan caranya masing-masing. Sebagian besar mulai mencoret baju mereka lalu melanjutkan dengan konvoi menggunakan motor demi menunjukkan pada dunia bahwa bangku SMA yang menyebalkan itu sudah mereka taklukkan. Sebagian lagi ada yang berpelukan haru, meminta tanda tangan sahabat pada buku tahunan, dan beberapa pecundang cinta mencoba memberanikan diri menutup masa SMA mereka dengan menyatakan perasaan pada pujaan hatinya.
Reno seharusnya turut berbahagia hari itu -sebagaimana yang seharusnya dirasakan siswa yang telah lulus Ujian Nasional- namun kenyataannya tidak. Matanya nanar dan segunung kesedihan menumpuk di dadanya. Dia tak melihat Darel hari itu. Ke mana gerangan dia? Apakah hari kelulusan tak penting baginya? Dia boleh saja marah, tapi apakah sebegitu dalam kebenciannya sehingga memilih untuk tidak datang di acara pengumuman kelulusan?
Terakhir kali Reno melihat Darel adalah pada saat Ujian Nasional. Kala itu tak ada tegur sapa diantara mereka berdua. Darel seolah memang berencana menjauhi Reno sejauh-jauhnya. Perubahan sikap Darel yang begitu drastis itu tak urung membuat bingung Reno. Terlebih lagi setelah selesainya Ujian Nasional, Reno tak pernah lagi melihat sosok sahabatnya itu. Darel bagai menghilang ditelan bumi.
***
Reno berlari sekencang-kencangnya melalui tiap sudut jalan-jalan yang berliku menuju rumah Darel. Tak dipedulikannya terik mentari siang yang bercampur baur debu serta serpihan beton di tengah hiruk pikuk proyek pekerjaan yang merata di kiri kanan jalan. Jantungnya berdegup kencang berpacu dengan ritme waktu.
Butiran bening mulai mengalir dari ceruk mata Reno tak lama setelah dia tiba di depan rumah sahabatnya itu. Orang sudah ramai berkumpul di sana, sebagian lainnya mulai berangsur pulang karena telah berada di sana sejak pagi. Sebuah badai besar menghentakkan dadanya ketika mendengar kabar mengejutkan hari ini. Darel telah berpulang menghadap Sang Pencipta.
Reno masih tak percaya akan apa yang terjadi, semua seperti mimpi. Tubuh kaku sahabatnya terbaring di ruangan tengah rumah kontrakan itu.
“Darel meninggal akibat kanker otak,” ucap ibunya Darel memberitahu. “Tubuhnya terlalu lemah untuk bertahan,” tambahnya.
“Sejak kapan, Bu?” tanya Reno.
“Beberapa bulan yang lalu”
“Kenapa Darel tidak bercerita padaku? Kenapa dia malah diam saja dan menjauhiku? Bukankah aku ini sahabatnya?”
Ibu Darel menatap Reno sambil tersenyum. Dipegangnya lembut bahu anak muda itu.
“Ya. Dia memang sengaja merahasiakannya darimu, Reno. Darel ingin kamu fokus pada tujuan dan cita-cita kalian. Dia khawatir penyakitnya akan mengganggu pikiranmu, Reno,” ucap ibunya.
“Egois!” ucap Reno setengah berteriak. “Bukankah selama kami selalu berbagi suka maupun duka?” ungkap Reno emosional sambil berlinangan air mata.
“Darel tidak hendak bersikap egois, anakku,” sahut ibunya. “Bagi dia, cita-cita yang kalian impikan berdua adalah kelanjutan hidupnya. Dia tak ingin kamu patah arang. Cita-cita itu akan senantiasa hidup bersama Darel selagi sahabatnya terus berjuang untuk mewujudkannya,” sambung Ibu Darel dengan lembut, diiringi senyuman lembut dan tatapan mata yang sayu sembap akibat menangis.
Butiran-butiran bening semakin deras mengalir di pipi Reno. Tak terbayangkan olehnya semua akan berakhir seperti ini. Ah, bahkan Reno tak sempat mengucapkan kata perpisahan untuk terakhir kalinya pada Darel.
“Darel sesungguhnya tidak pernah pergi dari kita, anakku. Dia akan terus hidup dalam bingkai kenangan kita dan selamanya akan menemanimu dalam tiap asa dan mimpi yang kalian cita-citakan bersama,” ucap wanita yang sudah berumur lebih separo abad itu kepada Reno.
***
Reno melangkah pelan dengan sepatu kets warna putihnya, menyusuri jalan yang ditaburi hamparan ranting dan dan-daun yang berguguran di pekarangan kampus Southampton University. Seremoni penyambutan mahasiswa baru telah berakhir beberapa jam lalu, namun Reno tampaknya masih belum hendak beranjak dari tempat itu. Musim gugur akan segera berlalu, dan tak lama lagi musim dingin akan menjelma dengan anggunnya di kota ini. Salju akan menjadi pemandangan yang memenuhi segenap penjuru di Southampton. Reno akhirnya berhasil mewujudkan mimpi untuk kuliah di Inggris pada jurusan yang selama ini selalu diidamkannya, English Literature, Language and Linguistics. Dan tentunya dengan mendapatkan beasiswa penuh.
Reno terkenang betapa dia selalu ingin lebih baik daripada Darel dalam berbahasa inggris. Namun waktu yang mengukir pada kanvas takdir kadang menuliskan hal yang tak selalu sesuai harapan. Reno tak akan pernah bisa bersaing lagi dengan sahabat baiknya itu. Tak akan ada lagi canda, tawa, perdebatan, dan saling mencurahkan isi hati seperti yang dahulu sering mereka lakoni.
“Aku sudah sampai di tanah impian kita, sahabatku. Ini mimpi yang sejak dulu kita sombongkan pada dunia, bukan?” ucap Reno sembari menatap langit biru, berharap suara paraunya didengar oleh Darel dari alam sana.
“Beasiswa ini kupersembahkan untukmu, Darel. Ah … Apakah engkau kini tengah berbahagia di surga? Mungkinkah kau sedang membuatkan boneka salju untukku di sana?” ucap Reno sembari disambut daun-daun maple yang berguguran dibelai angin. (*)
Cerpen ini dimuat dalam buku Antologi Bersama Cerpen “A Story to Remember ” Penerbit AE Publishing Bogor, Mei 2021 Blog penulis: firdausherliansyah.wordpress.com
Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Esai Kritik Resensi, Peristiwa Budaya dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel: redaksi.tirastimes@gmail.com