Bunian Meranti Bunting | Cerpen : Firdaus Herliansyah

Bunian Meranti Bunting

Senja sudah semakin mendekat di pangkuan kaki langit desa Teluk Belitung di Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau. Burung-burung walet terbang begitu banyaknya di atas langit seolah hendak menguasai mega di langit Pulau Padang. Adalah Andika seorang pemuda berumur dua puluh sembilan tahun, duduk melamun sambil merokok di dermaga jetty yang baru saja mengantarnya pulang ke camp khusus karyawan. Dia bekerja di sebuah perusahaan Oil and Gas di Kepulauan Meranti dengan posisi jabatan sebagai Supervisor pada divisi Production. Andika sebenarnya belum lama bekerja di perusahaan ini, belum genap dua tahun. Sebelumnya dia sudah bekerja di perusahaan minyak swasta multinasional, namun dia memutuskan untuk resign dan memilih bekerja di perusahaan lokal.

“Pak Andika, saya izin pulang dahulu. Kalau menurut kepercayaan orang-orang tua melayu sini, pulang di waktu terlalu gelap nanti takutnya diganggu Orang Bunian,” ucap Lukman salah satu bawahan Andika dengan setengah berkelakar sambil buru-buru mengejar bus karyawan terakhir sore itu.

Andika sendiri sebenarnya sama sekali tidak percaya akan cerita-cerita berbau mistis atau ghaib. Dia menganggap cerita model begitu cuma omong kosong yang dibikin orang tua zaman dahulu buat menakut-nakuti anak kecil agar tidak keluar malam atau bermain terlalu jauh. Andika adalah tipe pemuda yang skeptis dan selalu memandang semua hal dari sisi ilmiah dan sains.

Cerita soal Orang Bunian mungkin tidak asing di kalangan orang melayu. Sosok Bunian digambarkan sebagai makhluk halus yang menghuni hutan atau bangunan-bangunan lama yang ditinggalkan manusia. Ada banyak versi mengenai wujud Bunian, tapi banyak yang bilang mereka mirip dengan manusia. Tak cuma di Riau ini saja, cerita tentang keberadaan Orang Bunian juga tak asing di masyarakat Sumatera dan Kalimantan, bahkan di negara-negara jiran seperti Malaysia dan Brunei. Andika kerap kali berdebat dengan sesama rekan kerjanya soal hal-hal seperti ini, termasuk tentang kisah Orang Bunian yang sudah sangat melegenda.

“Menurutku cerita-cerita kalian soal orang bunian itu tak masuk akal. Tidak logis,” ucap Andika ketus kepada para bawahannya di sela waktu istirahat.

“Tidak semua hal di dunia ini bisa dijelaskan secara logis, Pak Andika,” sahut Lukman bawahannya. “Ada hal-hal tertentu yang terkadang tidak bisa kita nalar, termasuk tentang hal-hal yang ghaib,” sambungnya.

“Cih! Bagiku tak ada hal yang tidak bisa dinalar. Semua hal pasti bisa dibuktikan validitasnya. Pandangan mata terkadang bisa menipu, otak terkadang bisa memberikan gambaran yang keliru soal nyata dan tidak nyata. Sehingga mungkin sulit membedakan mana hal yang betul-betul eksis dan mana yang sekadar halusinasi. Persetan dengan semua cerita berbau mistis! Aku selalu skeptis dengan hal-hal tak masuk akal begitu,” ungkapnya pongah.

Lukman dan beberapa bawahannya yang ada di situ cuma bisa diam dan tak membalas. Tak ada gunanya bersitegang dengan anak muda berdarah panas itu. Secara juga dia adalah atasan mereka. Tak elok berbantah-bantahan dengan atasan sendiri.

***

Kamis itu cuaca tidak sepanas biasanya. Langit sedikit gelap, tetapi tidak mendung. Kali ini Andika mendapat tugas dari manajer Production untuk mengawasi sejumlah pekerjaan drilling yang dilaksanakan oleh rekanan perusahaan di sebuah sumur minyak baru di sekitar Desa Meranti Bunting. Hari ini adalah waktunya bagi dia untuk sedikit lembur. Bagi bujangan itu tak soal meskipun dia mesti bekerja lebih dari 24 jam. Tenaga orang muda masih tahan banting, dan upah kerja untuk overtime work juga cukup lumayan buat mengisi rekeningnya.

Langit sudah menggulung mega dengan anggunnya. Seolah memberikan pertanda buat seluruh makhluk hidup untuk dapat berisitirahat melepas penat. Namun Andika dan sejumlah pekerja yang masih berada di lokasi pengeboran minyak masih setia bekerja hingga malam menyapa. Bulan purnama begitu penuh malam itu. Ada puluhan pekerja di lokasi pengeboran yang terpencil dan jauh di tengah hutan itu. Karyawan yang lain sudah pulang, hanya Andika dan bawahannya Lukman yang masih mengawasi di sana.

Tiba-tiba Andika merasa perutnya mulas bukan main. Ada panggilan alam yang harus segera dia tuntaskan. Biasanya jam segini tim divisi facility sudah tiba di lapangan untuk instalasi kontainer portable, namun sampai sekarang belum kelihatan juga batang hidungnya. Entah kendala apa. Sialan! Umpat Andika dalam hati. Padahal seharusnya dia bisa buang hajat dan bekerja dengan nyaman saat ini. Apa hendak dikata, terpaksa dia harus buang air di tempat yang agak tersembunyi di semak-semak.

“Mau buang air, pak? Biar saya temani,” ucap Lukman menawarkan untuk menemaninya.

“Ah, tak usah. Kalau lagi buang hajat aku sangat tak nyaman ada orang di dekatku. Lagipula aku bukan anak kecil lagi yang penakut dan apa-apa minta ditemani,” ucap Andika.

“Hati-hati, pak. Perbanyak berdoa dan jangan takabur,” Lukman mengingatkan.

“Sudahlah Lukman, aku tak pernah percaya mitos-mitos dan takhayul,” ujar Andika sembari bergegas menuju balik pepohonan dan semak-semak.

Andika sengaja mengambil posisi agak jauh karena dia benar-benar menginginkan suasana buang air yang nyaman. Terlalu dekat dengan orang bikin dia risih. Dan setelah menemukan lokasi yang pas dia pun menunaikan hajatnya.

Dua puluh menit sudah waktu berjalan dan Andika pun sudah tuntas menunaikan hajatnya. Dengan sigap dia pun segera kembali untuk menuju lokasi pekerjaan. Namun dia terkejut bukan kepalang. Sudah tidak ada satu orang pun yang ada di lokasi itu, seolah semua lenyap ditelan bumi. Termasuk juga Lukman anak buahnya, tak kelihatan batang hidungnya. Sialan! Andika mengumpat dalam hati. Begitu kurang ajarnya pekerja-pekerja ini meninggalkan dia begitu saja di tengah hutan begini. Andika melirik ponsel nya. Bangsat! tak ada sinyal sama sekali di area terpencil ini.

Menyadari bahwa umpatan dan makian tidak akan menyelesaikan masalahnya, maka dia putuskan untuk terus berjalan dan mencari kampung terdekat buat dia beristirahat dan mengisi perut yang sudah keroncongan malam ini. “Besok akan aku bikin perhitungan buat bedebah-bedebah itu!” bisik Andika dengan geram dalam hati.

Satu jam lebih Andika menelusuri jalan di hutan itu untuk mencari kampung terdekat. Alih-alih menemukan kampung, dia malah semakin tersesat jauh ke rimba yang makin lebat dan kelam. Rasa ngeri akan gelapnya hutan dan keletihan luar biasa bercampur baur dengan ketakutan. Langkah Andika tertahan sebuah pohon beringin. Tak pernah dia melihat pohon beringin sebesar itu sebelumnya. Belum hilang rasa herannya, muncul suara-suara berisik dan aneh dari sekitar pohon beringin itu. Lalu muncul di hadapannya sosok wujud yang menyeramkan dan menakutkan.

“Astaga! Makhluk apa ini?” Andika berteriak kalut.

Di hadapannya kini ada tiga sosok makhluk setinggi dua meter, berbulu lebat seperti simpanse, namun matanya terbelalak dan merah menyala. Lidahnya panjang dan mengeluarkan suara berdesis-desis yang bikin bulu roma Andika berdiri. Tiga sosok besar itu berjalan dan mendekati Andika seraya melambai-lambaikan tangannya yang berkuku panjang dan tajam. Dengan tanpa dikomando lagi Andika langsung lari tunggang langgang menjauh dari situ. Tak dipedulikannya lagi duri-duri dan semak belukar yang tajam dan menggoreskan luka-luka di badannya.

Setelah cukup jauh berlari akhirnya Andika berhenti untuk mengambil nafas sejenak. Kaki dan tangannya gemetar bukan main. Ini semua bagai mimpi buruk paling menakutkan dalam hidupnya. Andika pun memastikan bahwa dia sudah berhasil kabur dari makhluk horor tersebut.

“Abang ni siapa? Apa yang abang buat dekat hutan ni?” sebuah suara berlogat Melayu menyapanya.

Jantung Andika nyaris copot disapa tiba-tiba seperti itu, namun dia merasa sedikit lega ketika melihat sosok gadis berbaju melayu. Gadis yang elok dipandang. Dia berbicara dengan bahasa melayu yang kental. Tak banyak anak-anak muda melayu di pulau itu yang berbicara dengan dialek khas dan asli, kebanyakan sudah bercampur baur dengan istilah-istilah gaul. Tanpa berbicara gadis itu menawarinya minum dari sebuah kendi tanah liat. Andika yang tengah kehausan dan kelelahan itu pun menegak minuman itu sampai habis, sambil berusaha mengatur nafas dan detak jantungnya yang tak karuan ritmenya.

“Nampaknya abang penat dan lapar. Kebetulan aku bawa sedikit ubi rebus hasil dari kebun kami. Makanlah untuk mengisi perut abang,” ucap gadis itu ramah.

“Terima kasih, dik. Sungguh baik kamu mau menolongku,” ucap Andika sambil tersenyum. “Siapa namamu, dik?” Tanya Andika lagi.

“Namaku Maya, bang” jawabnya. “Aku tinggal di Kampung Lama, tak jauh dari Meranti Bunting,” tambahnya. “Kalau nama abang siapa? Asal mana? Nampaknya bukan orang melayu?” sambungnya.

“Oh, ya. Nama abang Andika. Abang berasal dari Surabaya, orang Jawa.”

“Oh, Surabaya … Jauh betul ya bang,” ucapnya tersenyum. “Bagaimana kalau abang ikut Maya ke kampung saja? Tak elok berlama-lama di hutan ini, banyak bahayanya,” ucap gadis itu.

Andika pun mengangguk lemah tanpa berbicara sebagai tanda dia setuju. Dia berdiri dan berjalan mengikuti kemana langkah Maya menuju. Mereka telusuri jalan setapak yang mengarah menuju ke sebuah titik yang tampak terang benderang dari kejauhan. Ya, sebuah kampung. Ada kegembiraan tersirat di hati Andika karena mengetahui kini dia sudah aman.

Cukup ramai dan riuh situasi Kampung Lama itu. Orang-orang tua menabuh rebana dan menyanyikan lagu-lagu melayu tradisional dan otentik. Para wanita memasak dan mengolah sagu yang memang sudah jadi khas orang-orang melayu sini. Sebuah suasana yang hangat dan nyaman. Andika pun merasa senang dengan keramah-tamahan warga kampung yang tak pelit mengumbar senyum.

“Kau percaya cerita orang-orang melayu soal keberadaan Orang Bunian, Maya?” tanya Andika.

“Kenapa pula abang bertanya macam tu?” tanya gadis itu heran.

“Ah, tidak apa-apa. Persoalan Orang Bunian ini begitu sering menggangguku. Dan baru saja tadi aku melihat tiga makhluk yang mengerikan seperti monster di dalam hutan. Ah, sungguh menakutkan.”

“Abang berjumpa makhluk itu?” tanya Maya terkejut.

“Ya, benar. Kau tahu rupanya makhluk apa itu, Maya?”

Maya terdiam menundukkan kepalanya seolah-olah sedang memikirkan sesuatu.

“Ah, Tak usah lah abang pikirkan soal makhluk itu. Hutan ini berbahaya, lebih cepat abang keluar dari hutan ini, itu lebih baik,” ujarnya. “Oya, aku punya hadiah untuk Bang Andika. Ini adalah kotak perhiasan kesayanganku, hadiah dari almarhum ayah yang dibelinya waktu berniaga ke Singapura. Ambillah sebagai kenang-kenangan kita pernah bertemu, bang” ucap Maya.

“Terima kasih Maya, atas semua bantuan yang sudah kau berikan. Kalau boleh tahu, ke arah mana aku mesti menuju untuk pulang?”

“Abang ikuti saja jalan setapak ini, nanti abang akan keluar dari hutan dan sampai di kampung Meranti Bunting.”

“Ah, terima kasih banyak atas bantuan yang sudah kau berikan, Maya. Semoga suatu saat kita berjumpa lagi,” ucap Andika berjanji.

Gadis itu tersenyum bercampur sedih karena perjumpaan mereka yang cuma sesaat. Andika pun berpamitan kepada seluruh warga Kampung Lama dan bergegas menelusuri jalan menuju Meranti Bunting. Andika terus mengikuti jalan setapak itu hingga fajar pun mengintip di ufuk timur disambut kokok ayam jantan yang bersahut-sahutan menandakan hari sudah pagi. Andika pun sampai di perkampungan dan dilihatnya banyak orang sedang berkumpul di sebuah tenda darurat, ada sejumlah karyawan perusahaannya dan beberapa anggota kepolisian. Ada sosok tak asing yang sangat dia kenali di antara orang-orang itu.

“Ah, Lukman … Di sini kau rupanya. Dasar kurang ajar kau ya! Meninggalkan aku sendirian di hutan belantara ini,” ucap Andika penuh emosi.

Reaksi Lukman dan orang-orang yang hadir di situ diluar dugaan Andika. Mereka bukannya takut dan menunjukkan wajah penyesalan ketika Andika marah-marah, melainkan terkejut lalu menangis seolah begitu berbahagia melihat Andika. Seperti seorang ibu yang baru menjumpai anaknya yang hilang.

“Syukurlah Pak Andika. Akhirnya kami berhasil menemukan bapak, bukan main bimbangnya semua pekerja dan pihak perusahaan ketika bapak hilang saat pekerjaan drilling,” ucap Lukman setengah terharu.

“Apa-apaan kau ini Lukman, terlalu berlebihan kau! Aku cuma tersesat di hutan beberapa jam saja. Untung  aku ditolong oleh warga Kampung Lama,” ucap Andika.

Namun alih-alih meyakinkan mereka, Andika malah melihat kebingungan yang semakin menjadi-jadi di wajah orang-orang itu. Seorang polisi berkumis tebal akhirnya angkat bicara

“Pak Andika, mohon maaf, tetapi bapak sudah hilang selama tiga bulan dan kami sudah mengerahkan banyak anggota untuk menemukan Bapak,” ucap petugas polisi itu.

Andika bagai disambar petir mendengar ucapan polisi itu. Dia seolah tak mempercayai apa yang baru saja dia dengar.

“Oh ya, maaf pak Andika. Sepengetahuan kami sebagai orang-orang tua kampung ini, yang bapak sebut Kampung Lama itu sudah tak ada lagi, sejak zaman kakek buyut saya kampung itu sudah hancur dan ditinggalkan karena perang,” sambung seorang lelaki tua yang merupakan warga tempatan.

Andika tersentak mendengar hal itu. Benarkah apa yang diucapkan polisi dan warga kampung itu? Andika tak melihat gurauan dan candaan pada wajah maupun nada bicara mereka. Nyatakah semua yang dia alami selama berada di hutan? Soal Maya dan warga-warga yang dia lihat malam itu? Apakah semua itu nyata atau halusinasi belaka? Ditengoknya genggaman tangannya, jantungnya berdegup kencang melihat benda yang tengah dipegangnya. Sebuah kotak perhiasan dari Maya! Dia benar-benar mengalami peristiwa tersebut. Andika pun baru sadar ternyata kotak perhiasan itu begitu antik. Ada lukisan Ratu Victoria dan tulisan berbahasa Inggris. Terukir sebuah nama di kotak itu : Maya, 1921. Bulu kuduk Andika langsung merinding sejadi-jadinya. (*)

  • Cerpen ini juga dimuat dalam Buku Antologi Cerpen “Urban Legend Stories” Penerbit Elfa Mediatama, Cikarang Baru, Mei 2021
Firdaus Herliansyah, seorang peminat dunia literasi yang saat ini berdomisili di Kota Pekanbaru, Provinsi Riau. Penulis berprofesi sebagai ASN dan beberapa karyanya telah dimuat dalam beberapa buku antologi bersama. Penulis dapat dihubungi melalui Instagram: @firdausherliansyah dan Surel: firdaus.herliansyah@gmail.com
Blog penulis: firdausherliansyah.wordpress.com

Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Esai Kritik Resensi, Peristiwa Budaya dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel: redaksi.tirastimes@gmail.com

cerpenfirdaus herliansyahsastra
Comments (2)
Add Comment
  • Hendrik S

    Bacanya pada saat sendiri dan malam hari.. Pasti ada suasana yang misteri….

    • Firdaus Herliansyah

      Benar sekali, bang.. Hehehe