Cafe Mawar Biru
Asap membumbung dari bangunan yang berada di sisi jalan. Papan nama Cafe Mawar Biru tampak menggelantung. Kawat pengikatnya putus sebelah. Kehitaman dijilat api. Orang-orang berkerumun menyaksikan mobil pemadam kebakaran menyemprot air dari selang panjang. Meski tidak sampai ludes, tapi bangunan kafe itu sudah tak bisa dipakai lagi.
Sandra terduduk di seberang jalan, sambil menyaksikan api melahap kafenya . Dia menangis. Wajahnya coreng-moreng karena bekas arang kebakaran. Rambut ekor kudanya juga penuh abu dan serpihan bangunan yang telah jadi arang.
Sebuah pesan masuk ke gawainya: “ Sorry, aku juga sedih. Tapi aku tak bisa mengatasi rasa cemburuku. Ternyata aku bukanlah orang yang sanggup bersaing untuk merebut hatimu dengan cara terhormat. Aku terpaksa memilih cara ini sebagai satu-satunya cara melampiaskan dendamku. Kekalahanku…”
Sandra tahu dari siapa pesan itu. Meskipun nomor ponselnya bukan nomor yang biasa dipakai lelaki itu. Lelaki yang sangat dihormatinya, dan dicintainya meskipun tak pernah dikatakannya. Dia orang Malaysia. Sandra memanggilnya Datuk karena selain usianya memang lebih tua darinya, dan Datuk itu gelar kehormatan. Tapi dari kalimat dan gaya bahasa yang dipakainya, dan masalah yang dikemukannya, Sandra tahu dialah orangnya.
“Datuk lebih kejam dari perempuan ketika cemburu. Datuk menghancurkan hidup saya, dan juga memaksa saya memelihara dendam. Meskipun yang Datuk hancurkan itu adalah harta Datuk, pemberian Datuk, tapi hati ini, sejak saat ini, bukan lagi milik Datuk. Datuk sama saja dengan lelaki lainya. Semua lelaki bangsat.“ Sandra membalas pesan itu. Kemudian mencampakkan ponselnya ke dalam tas tangan yang sempat diselamatkannya tadi. Tas tangan pemberian lelaki itu juga. Dulu.
Sandra ingat, lebih setahun lalu, dia suka bercerita pada teman-temannya sesama penulis, penyair, novelis, dramawan dan lainnya, bahwa dia kepingin punya kafe untuk menjadi sandaran hidup. Penghasilan dari menulis itu seperti rezeki harimau. Kadang ada, kadang tidak. Kadang besar, kadang menyakitkan hati. Lebih banyak yang tak memadai dan cenderung melecehkan profesi penulis. Honor cerpen kadang cuma 250 ribu. Puisi terkadang cuma 100 ribu. Meskipun ada juga yang membayar lebih. Untuk cerpen misalnya 1 atau 2 juta. Terkadang dia dapat order nulis skrip drama dan bisa dapat sampai 25 juta. Tapi, kan tak bisa setiap hari. Royalti dari nulis bukupun tidaklah sebesar di luar negeri. Jangan berharap bisa seperti JK Rowling. Seperti Terre Liye pun sulit.
Tapi kalau punya kafe, katanya, paling tidak dari secangkir kopi dia bisa dapat 10 atau 20 rupiah. Untung jual minuman itu, bisa sampai 40 persen. Dan menurut teman-temanya yang sudah punya kafe, bisa seratus atau dua ratus cangkir sehari lakunya. Belum dari makanan pendamping kopi. Seperti donat dan lainnya. Itu penghasilan tetap.
Sandra memang perlu sandaran hidup. Dia sudah memutuskan ingin tetap jadi penulis betapapun beratnya, dan juga memutuskan untuk tidak menikah, meskipun umurnya sudah di kepala tiga. Kalau sampai umur 35 tahun dia belum punya suami, bisa-bisa dia tak punya keturunan. Kecuali Tuhan berkehendak lain. Menikah, bukan cuma urusan seks, bukan cuma soal punya keturunan, katanya pada teman-temanya. Tapi urusan mencari titik keseimbangan hidup. Toleransi, meski belum tentu itulah yang namanya bahagia. Dan itu memang tak mudah.
Mimpi punya kafe itu terus dipanggulnya ke mana-mana. Terus berkobar dan membakar semangatnya. Dia menabung. Dia tak mau berutang. Takut tak bisa membayar kembali. Meskipun terkadang dia terkikik sendiri jika melihat jumlah tabungannya. Entah kapan bisa jadi kafe.
Tapi dia tetap semangat dan membayangkan kafe itu nanti, kalau dia bisa mewujudkannya, akan dibuatnya menjadi kafe rasa sastra. Ada pojok tempat teman-temannya bisa baca puisi, bisa membaca cerpen. Bisa monolog, selain stand up comedy. Bisa musikalisasi puisi. Atau istilah yang selalu dia pakai, Katamusika. Atau bisa bedah buku. Pokoknya pojok sastra, di kafe yang bernuansa budaya.
Dia juga akan menawarkan hasil kerajinan daerah dan dari kultur tertentu. Terutama busana dan kuliner Jawa, Sunda, Melayu, Bugis, Banjar, dan lainnya. Tentu saja Bali dan Papua yang eksotik. Sebuah kafe yang ikut melestarikan tamadun bangsanya.
Satu hari, dalam kembaranya bersama mimpinya itu, dia menerima kiriman uang yang lumayan jumlahnya dan bisa mewujudkan mimpinya punya kafe. Melalui beberapa kali transfer. Nama pengirimnya berganti-ganti. Semua nama perempuan. Seperti nama para pembantu rumah tangga. Tapi dia tahu dari siapa.
Dia memang punya beberapa teman dekat. Tapi ada satu yang amat dekat. Seorang pengusaha pasar modal. Seorang penyuka puisi juga. Dan dia coba memastikan. “Datuk yang transfer? Kok banyak?“ katanya melalui pesan di gawainya. Mereka memang hampir tak pernah bicara langsung melalui telpon. Jarang ketemu, terkadang dua tiga bulan sekali. Tapi mereka sangat dekat.
“Transfer apa? Gak ada kok.“
“Serius lah.“
“Ya serius.“
“Lalu siapa?“
“Mana aku tahu.”
“Ok lah kalau begitu.“ Sandra terkikik. “Mungkin ada Datuk yang lain yang jadi dermawan, “ kata Sandra lagi menggoda.
Sandra akhirnya mewujudkan mimpinya membuat kafe dengan konsep yang dia pikirkan. Selain pojok sastra, di salah satu sisi dinding kafenya, agak terlindung, dia sediakan sebuah meja yang hanya ada dua kursi. Berseberangan. Di meja itu, ditaruhnya setangkai mawar biru. Yang tiap hari diganti, jika kelihatan akan layu. Di atas meja, menghadap ke ruangan tamu lainnya, ada balok segitiga yang bertuliskan: Reserved.
“Jangan jual meja itu dan jangan ada yang duduk di situ, kecuali saya izinkan, “ katanya pada karyawannya.
Di dinding di atas meja itu, dalam sebuah bingkai, dia letakkan sebuah puisinya yang dia tahu sangat disukai lelaki itu. Dan dia menyiapkan menu khusus yang dia tahu lelaki itu amat suka. Menu “d’ romantic moment“ Katanya, yaitu sup ikan dan roti manis, yang ketika memakannya, roti itu dicelupkan ke kuah sup yang sedang mengepul.
Di satu kursi itu, di meja itu lah Sandra, nyaris setiap hari, menunggu kedatangan si Dermawan. Tempat istimewa, seperti tempat istimewa yang disiapkannya di hatinya. Dan setiap menjelang makan siang dia akan memesan menu khusus itu, menyantapnya, sambil membayangkan lelaki itu duduk di depan nya sambil menikmati ” d’romantic moment “ itu.
Pada hari ke-100, sejak cafe itu dibuka, lelaki itu datang . Begitu melihatnya, Sandra langsung berlari menyambutnya. Seperti biasa mereka cipika-cipiki, kemudian Sandra menggandeng tangan lelaki itu dan mengajaknya menuju meja khusus itu. Tamu-tamu, terutama yang di sudut sastra itu, menatap mereka. Apalagi pakaian kasual yang dikenakan lelaki itu juga menggoda. Kombinasi blue jeans, dan blazer casmire coklat yang membungkus oblong hitam yang bertuliskan: Cinta itu Menaklukkan.
“Ayo lah, di meja itu saja, “ kata Sandra manja.
“Itu kan meja yang sudah dipesan orang, “ kata lelaki itu, seperti tahu riwayat meja berbunga mawar biru itu.
“Tapi meja itu sengaja aku siapkan untuk Datuk yang sudah bantu aku bikin kafe ini.⁸ Itu cara aku berterimakasih. Sudah aku sediakan sejak kafe ini berdiri, “ jelas Sandra.
“Oh ya? Tapi aku bukan si Dermawan itu. Aku kan cuma teman kamu yang datang mengucapkan selamat dan ikut bangga kamu punya kafe dan aku cuma kepingin ikut menikmati acara sastra kamu. Kata teman-teman di grup, heboh dan berkelas, “ kata lelaki itu, sambil menepuk-nepuk punggung Sandra, tersenyum sejenak, dan langsung ke pojok sastra, berbaur dengan seniman lain, dan menikmati acara katamusika yang sedang berlangsung.
Sandra tercekat. Kecewa. Dengan pandangan kosong, dia kembali ke kursi di meja khusus. Termenung. Dia heran kenapa lelaki itu menolak duduk di meja mawar biru yang dia siapkan. Berbulan-bulan sudah dia menunggu. Apa memang bukan lelaki itu yang membantunya? Dia tak percaya dan tak mungkin ada orang lain. Atau lelaki itu takut dikatakan mereka punya hubungan khusus dan dirundung teman-temannya. Takut jadi santapan medsos dan heboh. Apa ada cinta yang tak beresiko?
Sandra kemudian ikut bergabung di pojok sastra dan ikut menyaksikan lelaki itu membacakan beberapa puisinya. Santai dan ceria seperti sebelumnya. Seperti tak ada yang mengusik, kecuali sesekali wajahnya kelam ketika bertatapan dengan Sandra. Pukul 24.00 lelaki itu pergi. Mencium pipi Sandra dan berjanji akan datang lagi.
Seminggu kemudian, lelaki itu datang lagi. Tetap tak mau duduk di meja Mawar Biru itu, meski Sandra tetap yakin lelaki itulah sang dermawan dan orang yang selama ini diam-diam mencintainya dan dicintainya. Tengah malam lelaki itu pergi dan kembali berjanji akan datang lagi.
Sebulan setelah kedatangan ke dua kali lelaki itu, Sandra dapat kiriman uang lagi. Cukup besar dan bisa untuk mengembangkan kafe itu. Tapi Sandra kaget karena yang mengirimnya bukan lelaki yang diduganya sebagai Dermawan, tapi orang lain. Teman barunya, seorang sutradara muda, yang sedang bekerjasama dengannya untuk mementaskan drama. Sandra memang diminta untuk menulis skrip dramanya. Sandra ingin mengembalikan uang itu, karena merasa tak enak menerimanya dan khawatir jadi beban. Kan bukan honor nulis skrip, pikirnya. Tapi khawatir merusak kerjasama yang sudah ada, dia simpan saja uang itu.
Seminggu setelah kiriman itu, sutradara muda itu, datang ke kafe dan langsung duduk di meja khusus itu. Sandra terperanjat melihatnya. Ingin mencegah, tapi terlambat. Si sutradara sudah nongkrong di kursi itu. Akhirnya mereka terpaksa ngobrol di meja itu. Tertawa dan cekikikan, seperti teman akrab. Sabtu berikut, si sutradara datang lagi. Dan rupanya ada teman yang jahil, memotret mereka yang lagi asyik dan membagikannya di group medsos mereka. Ramai dan riuh rendah dengan berbagai komen. Sandra kalang-kabut menjawab komen yang sudah mulai miring.
Sandra mengirim pesan panjang lebar ke medsos lelaki yang dia tetap yakin itulah si Dermawan itu, dan lelaki itu menjawab santai. Tak ada kesan kecewa, tak ada nada cemburu, dan seperti biasa penuh dengan ikon positif, dan lucu, di medsos mereka. Sementara si Sutradara tetap apel tiap Sabtu dan duduk di meja mawar biru itu. Seakan-akan meja itu khusus untuknya dan miliknya.
Sebulan kemudian, lelaki itu datang lagi. Setelah rutinitas cipika-cipiki, setelah mojok di pojok sastra dan baca puisi, lelaki itu pergi. Hari itu Sabtu, dan sutradara muda itu, juga datang, dan duduk di meja mawar biru, dan Sandra seperti cacing kepanasan, berjuang melawan semua kebimbangannya. Sebentar ke pojok sastra dan sebentar ke meja Mawar Biru. Sebentar berteriak dengan suara agak keras ke karyawannya untuk bergegas mengantar pesanan tamu, Sandra panik.
Dan hari Sabtu kemudian, kafe itu terbakar. Dibakar. Dan Sandra terduduk di trotoar di seberang kafe yang yang hangus itu. Dia membaca ulang isi pesan lelaki itu yang tadi belum selesai dibacanya karena marah.
“Lelaki tak pernah dapat menyimpan rasa cintanya, dan bacalah puisinya. Tapi lelaki tak pernah menyerah karena cemburu. Cemburu adalah medan persaingan para lelaki. Cinta itu menaklukkan dan bukan ditaklukkan…”
“Tapi kenapa Datuk menyerah kalah? Apa karena aku yang tak berani berterus terang bahwa aku mencintai Datuk? Hanya Datuk kekasihku. Apa meja mawar biru belum cukup sebagai bukti? Apa Datuk tidak tahu, bahwa perempuan yang jatuh cinta akan membawa cintanya sampai mati, meski bersama dendam dan bencinya?” Sandra kembali mencampakkan ponselnya ke dalam tas tangannya. Dia menangis kembali.
Ting! Sebuah pesan masuk: “Hem perempuan tak bisa melawan kecuali dengan tangis. Eh, kafe itu kamu asuransi kan?“ Dan sejumlah ikon bercanda memenuhi pesan itu.
Sandra menyambar lagi ponselnya dan membalas: Semua lelaki brengsek. Dan Datuk paling brengsek!
2022
Rida K Liamsi, seorang penyair. Sekarang menetap di Tanjung pinang, Kepri dan bisa dihubungi melalui email : rliamsipku@gmail.com.