Seorang bocah duduk lesu di dalam kelas itu
Di deretan bangku yang paling belakang
Matanya tak berkedip, tak berkutik
Mengamati jam dinding yang terasa cepat berdetik
Ia berharap waktu lama berlalu
Agar bel sekolah tak berkumandang
Dan ia tak akan pulang
Sementara ibu guru tetap sibuk mengutak-atik buku
Mencari tugas untuk mencatat lagi,
Mencatat lagi, mencatat lagi
Diabaikannya murid-muridnya yang kian ricuh ketawa-ketiwi
Dengan pesawat kertas yang mengudara
Bocah itu pun bermimpi dengan mata yang tak terpejam
Tentang sebuah rumah lengkap dengan ayah, ibu, dia dan kasih sayang
Ia pun merangkai mimpinya lebih dalam;
Ketika ia tiba di rumah
Didapatinya bapaknya sedang ngopi dan membaca koran di halaman
Lalu berkata, “bagaimana sekolahnya anakku” dengan nada kelembutan
Lalu di dalam rumah, ibunya yang sedang memasak menyambutnya hangat
Dan menyuruhnya lekas mandi kemudian makan
Tapi waktu ialah waktu
Ia tak pandang bulu
Ia baik kepada siapa saja
Dan juga jahat kepada siapa pun
Maka saat itu
Mimpi bocah itu pun dibubarkannya
Diperintahnya jam dinding lekas bekerja
Seperti budak yang diberi perintah oleh majikan
Dan di cekiknya pula bel sekolah agar lekas berkumandang
Seperti seorang pemimpin kepada bawahan
Lalu ibu guru pun memberikan tugas mencatat untuk di rumah
Murid-muridnya pun lekas membenahi buku
Langkah-langkah kaki pun pergi satu persatu
Menyisakan sunyi dan debu
Dan di dalam kelas itu
Seorang bocah terduduk lesu seorang diri
Matanya tak berkedip, tak berkutik
Menatap jam dinding yang terasa cepat berdetik
Berastagi, 14 Februari 2024
Boy Hagel Saputra Tarigan, seorang mahasiswa yang hobi menulis dan bermain musik.