TAK PULANG
Siang ini, gerimis turun dengan tiba-tiba. Di depanku ada rumah yang terlihat sedikit bernuansa tua, tempatku berteduh dari terik panas atau deras hujan. Di dalam rumah itu, tampak dari sela jendela, seorang wanita berusia sekitar lima puluhan tahun sedang bersedih. Dulu ia sangat riang kala hujan reda bersambut sinar mentari yang ciptakan bias warna setelahnya, entah ingatannya masih bekerja dengan baik atau tidak tentang bagaimana ia bisa tergelak dengan bebas, aku tidak bisa menerka itu dengan pasti. Tetapi kali ini, hal yang tergambar pada air wajahnya itu ialah ia sedang bersedih. Makhluk mungil yang menjadi kesayangannya baru saja hilang, tidak kembali beberapa hari belakangan.
Makhluk itu bernama Tami. Seharusnya di balik kesedihannya itu, aku yang jauh paling pantas bersedih. Sebab Tami adalah anakku. Ia baru saja hilang, tidak pulang tanpa kabar sampai waktu yang tak bisa kutebak kapan.
Seorang wanita yang tengah bersedih itu bernama Cik Dara. Cik Dara sudah kuanggap ibuku sendiri, ia mengasuhku sejak aku kecil hingga sekarang aku punya anak pula. Anakku juga ia yang bantu rawat, sebab tiada yang mau dan sudi membantuku selain Cik Dara. Ayah anak ini juga hilang entah kemana. Sekarang malah Tami yang hilang mengikuti jejak bapaknya. Oh, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Ah, tapi aku tidak sudi, bagaimanapun juga Tami itu anakku. Mana sudi aku jika ia disama-samakan dengan bapaknya yang hilang saat ia masih di kandunganku. Sungguh, aku tidak akan sudi.
Sejak empat hari lalu, Cik Dara rutin melakukan beberapa upaya agar Tami kembali pulang. Ia mulai memeriksa rumah serta ruangan lainnya dengan teliti, gudang dan pondok dekat kebun juga dia telisik dengan detail. Lalu dilanjutkan dengan mengunjungi rumah tetangga, ia beranggapan barangkali Tami main dan menginap di sana. Ternyata nihil, Tami tak juga ditemukan. Hampir berputus asa, akhirnya Cik Dara mulai menghubungi anaknya bernama Anto, melaporkan pada Anto mengenai kasus ini. Namun tampaknya Anto menyarankan Cik Dara untuk mencari Tami melalui kelompok penyayang binatang agar menyebarkan pamflet atau brosur. Aku mendengar pembahasan tentang itu dari telepon Cik Dara dengan jelas, sebab percakapan di gawai itu terdengar seperti volume suaranya diperbesar. Mungkin entah memang biar Cik Dara tak perlu bertanya dan meminta pengulangan pengucapan pada anaknya itu atau memang ia sengaja agar aku juga bisa mendengarnya, kedua kalimat itu kurasa sama saja harganya.
Seusai percakapan itu, Cik Dara pun mencoba mengobrol sendiri sembari melihat dirinya di depan cermin yang memegang foto berbingkai yang di dalam foto anaknya yang baru saja ia hubungi tadi. Mencoba mengingat lekat-lekat anaknya yang sudah berkeluarga itu. Anto namanya, lelaki yang sudah berkepala tiga juga merangkap ayah dari satu anaknya yang berambut sama dengan Cik Dara-ikal kecoklatan- mereka selalu datang ke rumah ini ketika liburan akhir tahun saja. Itu pun hanya sebentar, maklum saja, Anto memang pemuda yang super sibuk.
“Mama cemas, Tami makan dan tidur di mana, ya?” ucap Cik Dara pada dirinya yang termenung melihat tubuhnya yang tepat di muka cermin.
Cik Dara ini walau usianya tidak terbilang muda, tapi ia masih aktif dengan pekerjaannya. Menerjemahkan naskah, merapikan rumah, menyiram tanaman di halaman, berkebun setiap sepekan sekali, mengecek kesehatanku dan Tami setiap sebulan sekali ke klinik, dan mengurus dirinya sendiri. Walau ia hidup sendiri, dulu aku selalu melihat raut cerianya. Mungkin Cik Dara benar-benar kesepian, ia telah kehilangan suaminya tahun lalu, kini disusul Tami, lengkap dengan anaknya jauh di kota sana. Kadang Cik Dara bercerita sembari mengelus pundak dan punggungku, sesekali bercucuran air mata sebab mengingat kenangannya dengan suaminya itu. Rindu bisa dibendung, tapi air mata tidak bisa dibendung terlalu lama. Aku tahu Cik Dara bisa melakukannya sendiri; membuat pamflet berita kehilangan Tami lalu menyebarkan di media sosial pribadinya atau mengirim pesan pribadi lewat instagramnya ke akun komunitas-komunitas penyayang binatang, atau mencetak dalam bentuk kertas dan menyebarkan dan menempel di tiang-tiang listrik, mading umum, atau dinding pagar sekolahan. Aku tahu itu hanya basa-basi, barangkali dengan meminta tolong atau sekadar bercerita kepada Anto, Anto dapat meluangkan waktunya untuk Cik Dara walau hanya sebentar sekadar pelepas rindu. Walau hanya mengerjakan hal yang sebenarnya bisa Cik Dara bisa lakukan sendiri.
Ketika dirasa cukup menerima kesedihannya, Cik Dara beranjak menuju meja kerjanya. Aku yang melihatnya dari jendela samping kamarnya itu tertangkap netra Cik Dara. Lalu ia memanggilku, menggendong dan memangku di pangkuannya. Kembali bercerita, aku hanya bisa diam dan menggelungkan kepalaku dengan manja di pangkuannya.
“Aku sedih Tami meninggalkan kita, sejak bapak tidak di sini lagi, aku hanya punya kalian. Anto sudah berkeluarga, dan hanya sesekali saja ke sini. Kini, Tami tak kembali, kita hanya berdua di rumah ini. Kau jangan hilang juga, ya, Mince.”
“Aku tau itu, Cik. Aku tau kau kesepian. Jika ingin menangis, menangislah. Aku tak akan kemana-kemana. “
Cik Dara menyeka air matanya, lalu meletakkanku di lantai. Ia tersenyum padaku, lalu pergi ke dapur. Mengambil teko dan menuangkan air putih pada sebuah gelas kaca. Ia meminum segelas air putih sembari duduk di meja makan. Tak lama dari itu, ia mengambil laptopnya dan mengerjakan pamflet berita kehilangan tentang Tami sembari mengenakan kabel yang dihubung dari gawainya ke telinganya. Semacam alat untuk mendengarkan suara secara rahasia. Lalu setengah jam setelahnya, kulihat ia menutup laptopnya. Sepertinya pekerjaan itu sudah rampung ia lakukan.
Hari semakin sore, Cik Dara mengambil totebag kanvas kesayangannya lalu bergegas ke fotokopi untuk memperbanyak selebaran berita kehilangan Tami yang ia kerjakan tadi. Mungkin ia berniat menyebarkannya, entah itu di tiang-tiang listrik, mading umum, atau dinding pagar sekolahan. Sialnya, ketika ia sedang berusaha meletakkan selebaran itu ke dalam totebagnya sembari berjalan menyebrang jalan menuju tiang listrik di seberang sana, ia tidak fokus pada jalan yang ia tempuh. Kabel di telinganya yang tersambung ke gawainya itu juga masih terpasang. Pekikan klakson seolah menyatu dengan alunan lagu yang sedang ia dengarkan, sehingga ia tak siap siaga menghindar dari tabrakan itu. Darah bercucuran, orang-orang berkerumun. Di sekitaran tubuhnya, berserakan selebaran berita kehilangan seekor anjing berwarna hitam bernama Tami yang terkeluar dari tas kesayangannya.
Air Hitam, 2022
Delfianty. Lahir di Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Berdomisili di Pekanbaru, Riau. Tergabung pada Komunitas Forum Lingkar Pena Cabang Pekanbaru. Karya tunggal pertamanya diberi nama Kolase Dikau, kumpulan tulisan lusuh tentang patah hati paling menyenangkan yang pernah ia lalui. Tulisannya juga pernah dimuat pada beberapa media daring dan antologi bersama. Beliau kini sedang melanjutkan pendidikannya di salah satu Sekolah Tinggi di Pekanbaru.
Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Pentigraf, Esai, Pantun, Kritik, Resensi, Peristiwa Budaya, dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel:
redaksi.tirastimes@gmail.com
Seneng bgt dikasi cerita dari perspektive yang ga biasa