PATAH SAYAP SEBELAH
Aku sedang membingkai kenangan dalam figura cerita. Ketika sedang terbang menjelajah samudera rumah tangga, tiba-tiba sayapku patah sebelah. Memang aku masih bisa terbang tetapi tetap saja tidak sesempurna biasa. Jalinan cinta yang baru tercipta penuh haru menyelimut semesta begitu cepat berujung kehilangan tanpa dipinta.
Sebuah kejadian tak diinginkan terjadi. Duka nestapa yang belum ku temukan ramuan obat untuk memaram rindu. Aku masih menjerit sakit berbalut luka menganga. Mengapa saat cinta sedang berbunga mekar, saat hati tulus mencintai dan hati udah terlanjur suka, Nadya malah meninggalkanku?
Kisah lampau cinta berpaut, pertama kali saling menyapa suara lembut dalam sebuah pertemuan tak terduga tanpa disengaja. Hati bergetar berdebar tak karuan. Gemuruh hasrat tak terbendung. Aku menyukai Nadya sekali tatapan saja. Walau sempat ragu tetapi aku beranikan diri untuk mengajaknya bersanding dalam ikatan suci bernama rumah tangga. Sebuah janji terucap pasti. Keinginan untuk hidup sebumbung sampai maut menjemput. Seia sekata bersama seikut. Merenda erat hubungan dan cinta abadi berkekalan.
Tak ada kendala berarti kedua orang tua turut mendukung, cincin tunang tersarung indah. Sebelum majlis nikah berlangsung, aku shalat dua rakaat, kepada Allah mengadu berlindung supaya terhindar gangguan setan mengurung dan pilihan yang akan aku tempuh bukan pilihan yang salah. Sebab aku yakin getar hati tak permah salah.
Hari bahagia datang menjelang. Ramai tetamu hadir datang diundang memberi restu dengan senyum mengambang dan hatiku dan Nadya bergayut senang.
Kemudian bermula hari-hari dalam kembara indah. Sebagai lelaki aku ingin membuktikan bahwa bukan saja nafkah lahir mampu diberikan nafkah batin juga aku teramat sangat mampu. Menelusuri lekuk merenda gairah. Nadya kekasih halal yang baru aku ikat dalam ikatan nikah selalu tersenyum puas dalam pelayaran bahtera cinta yang tertutup tirai kamar.
Setiap hari aku merasakan bahagia berlipat, senda gurau ketawa terbekah. Sebulan setelah resmi menjadi suami istri kebahagiaan yang terasa semakin lengkap, pilihan tepat menjalani hakikat sunnatullah atas penciptaan lelaki dan perempuan. Nadya mengandung bakal zuriat. Aku menggugu tangis bahagia. Teramat bahagia seakan dunia telah membuatku tertambat lekat. Aku sadar sesadar sadarnya betapa cinta merasuk hebat. Setiap hari bahagia terserlah ditambah wajah Nadya berseri cerah walau semakin hari perut membuncit dan berat semakin payah.
Menunggu lahir harapan menongkah. Tak sabar rasanya melihat buah cinta kami berdua. Aku pun tak tahu, entah mengapa rasa sayang kepada Nadya bertambah berlipat. Di mataku Nadya tambah memikat. Nadya juga bertambah manja bersandar lekat dan selalu tersenyum meskipun keadaan sangat sarat.
“Bang Nadim, semakin dekat waktu bersalin semakin risau perasaan ini” Nadya berkata kepadaku pada suatu petang.
“Mengapa berkata demikian, dinda?” aku memanggil Nadya dengan panggilan dinda. Hal itu sudah sejak pertama sekali bertemu.
“Nadya pun tak tahu, bang! Tiga malam berturut-turut bulan jatuh tenggelam. Dunia gelap seketika bahkan hujan turun dengan sangat deras.
“Usah terlalu dipikirkan. Alam mimpi selalu berbeda dengan kenyataannya.” Aku meyakinkan Nadya bahwa menjadi seorang adalah perjuangan terindah dalam hidup seorang wanita dan tentu saja aku akan selalu mencintainya sampai kapan pun juga.
Sembilan bulan berlalu sudah. Sampai pada suatu pagi erang sakit membuat gundah. Bersama ketuban terbuka pecah keringat Nadya mengalir sertai darah dalam perjuangan bertarung nyawa berkurun lama. Suasana mencekam hadir menjelma, begitu susah keadaan diterima
menunggu lahir anak pertama.
Tangis memekik demikian keras. Anakku lahir dengan selamat. Zuriat yang ditunggu dengan debar begitu tampan. Sampai kemudian ku lupa melihat Nadya. Hanya sekejap sesak hilang berganti pula dengan rasa cemas. Wajah Nadya terlihat lepas memucat pasi putih pias. Sekuat suara aku memanggil nama Nadya. Tetapi tubuh Nadya kaku. Hanya diam tanpa irama. Aku meraung dengan gaung sendu kuat menggema. Nadya meninggal dunia membumbung sukma.
Takdir cinta berakhir pahit. Tinggallah sendiri membawa duka menggamit. Selamat jalan istriku, sayang! Hilanglah sekalian sakitmu. Aku yang sekarang menanggung rindu padahal jalinan baru dirakit.
Jujur, aku belum siap berpisah. Mataku sembab tangis membasah bersama bergulir pelan nafas sebak mendesah. Kemana hati hendak diarah.
Takdir cinta berakhir merana. Mengadu nasib tak jelas tujuan. Kekasih terkasih tinggalkan buana. Berbatas alam musnah rencana. Aku hanya termenung risau. Kepada siapa melabuh hasrat duka mendalam. Pandangan mataku tersekat air mata. Sekujur badan menolak mendekat. Tak sampai hati memandang wajah teduh Nadya. Aku ikhlas melepasnya pergi. Satu-satunya penguat jiwaku yang sedang rapuh adalah anakku. Untunglah anakku pengobat rindu wajahnya lugu tatapan kami beradu, dia seakan mengajak sekejap membiru sendu dalam kecamuk kenangan syahdu.
Aku teringat mimpi Nadya bulan jatuh tenggelam mungkin inilah firasat bahwa di tengah bahagia merenda awan cinta duka menggulung dan membuat patah sayap sebelah.
Kelapapati, 10 R. Awal 1443 H
- Muhammad Rizal Ical, lahir di Desa Lukit-Kepulauan Meranti, 10 Juni 1980, bekerja sebagai PNS di MAN 1 Plus Keterampilan Bengkalis dan Dosen Budaya Melayu di STAIN Bengkalis. Sudah setahun menulis syair di Tiras Times. Penggemar sastra Melayu klasik ini tinggal di Jl Kelapapati Laut di Bengkalis.
Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Pentigraf, Esai, Pantun, Kritik, Resensi, Peristiwa Budaya, dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel:
redaksi.tirastimes@gmail.com