Duduk Termenung Membuat Gunung: Puisi Wulandari The

Tebakan kata kala aku masih orok
Jauh mata terlempar kepucuk desa
Di depan hunian gedhek anyaman bambu
Riak sungai airnya gemersik
Mengangkut semangkok butiran kuning
Kubangan tanah menyandranya pengap
Ada yang suguhkan, ajangnya belantara

Semenjak dicanangkan MCK
(mandi cuci kakus)
Panorama kakus yang lampau dan kini
Berjarak antara Anyer Jakarta
Yang prasaja nampak necis klimis
Yang crazy rich mendandani ayu mewangi

kakus culas dan kakus kelas
Aroma penghuninya setali tiga uang
Tersirat surat pesan mendalam
Me-nenggelamkan alam kesadaran
Sejatinya manusia ciptaanNya
Tiada bisa merasa paling bersih dan suci

Mojokerto, 04 Desember 2023

Theresia Wulandari. Belajar menulis ketika Pandemi bersama Komunitas 50+, saat itu setelah ikut seminar bergabung menulis buku antologi “Puspa Ragam”, buku pertamanya disusul buku antologi Dibalik Krisis selalu ada Ungkapan Syukur” dan buku Cerpen “Sentuhan Jiwa”, pernah menulis Antologi asuhan Kirana Kejora bergabung dengan Elang Biru Nuswantara dalam buku “Ketika Bantala Bicara Cinta”.

Comments (0)
Add Comment