Ibu Tulang: Puisi Wahyu Mualli Bone

Ibu tulang sedang dahaga
Kasih langit mendulang mesra
Kasi satu dua titik saja pun jadilah.

Siku girang senang menduga
Masih sengit menjulang mantra
Basa basi batu tua bilik raja baja pun beralihlah.

Nun melata berkabar sudah lewat pelita
Nan terjala berhambur tadah rawat pelata, pelataran tapah kera kuak riak, pindah keluang cari lapang.

Banyak bulan Ibu tulang rebah badan, banyak bulan Ibu tulang rekah dada, banyak bulan Ibu tulang retak kuku, banyak bulan Ibu tulang rentak jantung, banting batu, hambur bunga, mamah tanah, penuh langit padu gaun, kawin awan tak juga sebut jenuh pada langit.

Patah tanah timpa raya, patuh batu tumpuki kangkang akar, kenyang nganga jurang tak cukup takar.

Sengit sangat sengat maut abu tulang, ungkap hidung sesampai hidu.

Tak sampai hati Ibu tulang jenguk abu.
Dahulu surat tunggangan sirat ayat-ayat tanggungan sebab.

Beranggap hangus lintah lintang pukang elak merah marak kerak, tetap tunggu gigil lembah, tahan lepuh, rekat benteng laluan asin hilir pemunah ranah biak.

Ibu tulang hulu ke hilir lain budak, lain jinak biak, tak kurang jinak karang, ruang sirip layang-layang.

Tinggal tunggu tangga hari huru kumpul hara, ungkap bara, sampai abu bangunkan lumut arang, mengarang bunga-bunga mungil milik anak-anak katak, kata kutu verbalistik tak kita.

Sejangat, 4 Desember 2024

 

Comments (0)
Add Comment