16 tahun, umur dimana para remaja mulai merasakan ketertarikan kepada lawan jenis atau disebut jatuh cinta. Bukan hanya jatuh cinta. Kejahilan, keseruan serta kenangan indah juga terukir pada saat itu. Anak remaja pada umumnya senang menghabiskan waktu untuk menikmati masa muda dan bermain kesana kemari serta mencari kebebasan. Asha sama seperti remaja pada umumnya. Hanya saja dia lebih sering menghabiskan waktu berdiam di rumah daripada bermain dan besenang-senang ke Mall. Asha lebih senang menghabiskan waktunya bermain dengan warna, kanvas, dan juga membuat sketsa. Asha juga bukan anak yang pendiam, dia juga mengikuti ekstrakulikuler yang membutuhkan banyak energi serta menghasilkan banyak teman.
Asha Camila adalah nama panjangnya. Berpergian ke tempat bersejarah serta tenang selalu menjadi ritualnya sebelum bergulat dengan kanvas ataupun buku sketsa. Walaupun ia suka dengan ketenangan, ia lebih memilih ekstrakulikuler pramuka dibandingkan tari atau musik. Di sana lah kisahnya terukir sebagai pengagum seseorang yang baru ia temui. Saat memasuki dunia SMA, Asha bertekad untuk berhenti tertarik pada seseorang. Ia ingin membuat dirinya lebih berguna dibandingkan dengan dirinya di SMP. Tapi nyatanya, itu semua hanyalah wacana manis yang ada di benaknya. Semua ini berawal saat istirahat jam pertama disekolah.
“Asha, dipanggil Rani sama Ulfa tuh. Di depan kelas sosial.” Asha yang sedang makan dengan santai saat itu pun terkejut dan menghentikan kegiatannya.
“Hah? Kenapa emang?” Tanya Asha sambil merapikan bekalnya. Teman kelas nya hanya mengangkat bahu.
“Katanya sih pramuka, acara apa gitu lah. Disuruh cepat, ada guru juga di sana.” Mendengar hal itu, Asha yakin itu pasti ajakan yang selalu ia nantikan. Asha segera meneguk minumnya dengan cepat dan berlari menuju ke depan kelas sosial yang tidak jauh dari kelasnya.
Asha mendekat ke Ulfa dan Rani yang sedang berbincang bersama beberapa anggota pramuka lainnya. Asha memasang wajah bertanya-tanya. Keadaan disana cukup ramai, banyak siswa berlalu-lalang untuk kembali ke kelas karena bell masuk sudah berbunyi.
“Kenapa? Ada apa?” Asha duduk di samping Rani dan Ulfa. Ternyata mereka semua sedang membicarakan siapa saja yang ingin ikut kemah selama 5 hari. Mendengar hal itu, Asha senang bukan main. Asha memohon kepada pembina pramuka agar ia mengikuti perkemahan tersebut. Setelah berdiskusi cukup singkat, akhirnya diputuskan bahwa Ulfa, Rani, dan juga Asha akan ikut ke perkemahan tersebut. Di perkemahan, setiap pangkalan (sekolah) akan tampil pada pentas seni di malam harinya. Keesokan harinya, mulai lah mereka latihan dengan apa yang akan mereka tampilkan di sana dan ini sudah 4 hari sebelum perkemahan. Waktu yang terbilang singkat, apalagi ada beberapa orang yang tidak hadir pada latihan pertama. Di latihan kedua, Asha tidak bisa mengikuti latihan karena sakit. Di hari berikutnya, ia kembali latihan seperti biasa walaupun tubuh Asha belum sembuh sepenuhnya.
Sehari sebelum perkemahan, adalah hari di mana Asha bertemu dengan seseorang yang akan ia kagumi di hari mendatang. Ada dua orang asing yang mengikuti latihan. Ia ingat cerita Ulfa sebelumnya bahwa ada dua kakak tingkat di luar eskul yang akan mengikuti perkemahan ini. Dan salah satu mereka bisa dibilang tampan. Setelah melihat mereka, Asha merasa biasa saja. Ulfa juga berniat untuk mendekati salah satu dari mereka. Kak Han, orang-orang seangkatan Asha memangglinya dengan itu. Asha tak peduli dengan itu semua. Saat membicarakan property, Asha meminjamkan kain hitam untuk kepentingan pensi tersebut kepada Kak Han. Selama di bumi perkemahan, Asha menyadari bahwa mereka adalah orang yang asik dan juga baik. Hingga tiba lah mereka di malam pensi itu, malam kedua perkemahan. Asha memberikan kain tersebut kepada Kak Han. Disaat itulah ada yang salah dengan dirinya dan hatinya. Semenjak saat itu juga dia merasa dekat dengan Kak Han. Saat acara colourfun yang diadakan oleh panitia, Asha yang menuju ke tenda di sebelah panggung tak sengaja bertemu dengan Kak Han dan kakak tingkat lainnya.
“KAKKK!! Mau jajan yaaaa?” Ucapnya dengan nada ingin mengadukan apa yang ia lihat kepada pembina damping.
“Iyalah, gapeduli kami sama dia tuh.” Mendengar itu, Asha hanya tertawa. Ia juga merasa haus, maka ini kesempatannya.
“Asha nitip minum dingin dong, nih uangnya, bailikin ya!” Mereka menjahili Asha dengan berniat untuk menghabiskan uang nya. Asha hanya tertawa dan segera pergi ke bawah tenda. Duduk di sana menikmati latihan malam puncak perkemahan. Asha menunggu hampir 3 menit dan tak sanggup menahan haus, ia pun berencana untuk menyusul mereka. Saat Asha berjalan menuju tempat itu, dia sudah melihat Kak Han dan temannya berjalan sambil membawa mie di tangan mereka masing-masing. Asha melambaikan tangan dan menghampiri mereka.
“Lama banget, keburu haus nih. Mana kembaliannya?” Tagih Asha sambil mengambil minuman itu dari tangan Kak Han.
“Bukan sama kakak, sama dia nih.” Ucap Kak Han menunjuk temannya.
“Serius, Asha takut kalau Kak Ida ngeliat kita jajan.” Asha duduk bersama mereka dan menyeruput minumannya. Sambil mengawasi Kak Ida, pembina damping mereka yang sedang duduk dibawah tenda membelakangi mereka.
“Sudahlah, ga bakal ketahuan kok.”
“Kok bisa santai banget sih kak? Nanti kita disuruh turun sama Kak Ida.” Jawab Asha masih was-was. Kedua kakak tingkatnya ini terlalu cuek dengan ancaman Kak Ida.
Mereka bertiga berbincang hingga 2 orang teman Asha datang dan ikut duduk di sana. Berbagi minuman dan mie adalah hal yang wajar dalam perkemahan ataupun pramuka. Tapi di saat itulah rasa aneh itu muncul didalam diri Asha. Sepulangnya dari perkemahan, entah kenapa Kak Han selalu muncul dibenaknya. Tak lupa pula Ulfa yang selalu memuji dan kagum dengan Kak Han. Sejujurnya Asha kurang suka bila temannya memuji Kak Han dan mengaku menyukai Kak Han. Entah apa yang ada dipikiran bocah 16 tahun itu, dengan perasaan aneh, dia memberanikan dirinya untuk menghubungi Kak Han lewat aplikasi obrolan. Asha dan Kak Han menjadi dekat semenjak itu, tetapi Asha baru menyadari perasaannya saat dia sudah membuat banyak menuangkan emosi nya ke atas kanvas dan buku sketsa. Banyak lukisan serta sketsa kasar Kak Han yang ia buat jka ia tak bertemu dengan Kak Han tempo hari. Hari-hari yang Asha jalani kini terasa lebih hidup dan berwarna. Dia semakin menyukai hobinya, apalagi ada Kak Han didalamnya.
Suatu hari saat Asha sedang sibuk dengan buku sketsanya di taman sekolah, ia terkejut dengan seseorang yang tiba-tiba berada dibelakangnya dan melihat gambarnya.
“Bagus banget sha. Itu aku ya?” Tanya orang itu yang tak lain adalah Kak Han. Asha terkejut dan segera menutup buku sketsanya. Wajahnya memanas dan merasa malu. Ia menyesali karena ia ketahuan menggambar kakak tingkatnya diruang terbuka.
“Iya .. bukan apa-apa kok, Kak. Asha cuma jadiin Kakak referensi … boleh kan?” Tanya Asha. Ia tau yang ia sebutkan sangat lah bodoh. Bukan itu yang seharusnya ia katakan kepada Kak Han.
“Gapapa dong. Keren loh Asha bisa gambar.” Ucap Kak Han tak keberatan dan tersenyum.
“Asha juga suka melukis, Kakak mau liat ga?” Asha menawarkan dengan senang. Jarang sekali orang sangat tertarik dengan hobinya. Dialah orang yang pertama.
“Boleh banget! Kirim aja ke Kakak ya. Kalau ada waktu, Kakak juga mau liat lukisannya secara langsung. Oh iya, Kakak duluan ya. Ada kelas. Bye.” Asha menatap punggung Kak Han yang melangkah pergi dari taman sekolah. Asha tersenyum salah tingkah. Ia benar-benar bahagia.
Tapi ia juga teringat, bahwa seluruh orang atau kebanyakan dari siswa di SMA ini pasti sudah mempunyai pasangan. Karena hal tersebut, Asha memutuskan untuk memendam rasa itu. Asha selalu mengabadikan Kak Han didalam karyanya. Karena Kak Han lah orang pertama yang tertarik dengan lukisan serta gambarnya. Ialah orang pertama yang membuat Asha se kagum itu dengan seseorang dan mengukir kisah indah di masa remaja nya. Mengagumi seseorang dalam diam dan melihat nya dari jauh bukanlah hal yang mudah, maka dari itu Asha perlu wadah untuk menuangkan perasaannya, seperti menuangkannya diatas kertas dan kanvas.
19 Mei 2024