Ku Raih Rembulan di Kamboja: Puisi Tantri Subekti

Ku tinggal menjahit jalan
Seperempat abad
Dari sumbu api tak berserat
Meludahi bola mataku yg terkadang sayu melihat dunia luar

Terasa angun kuil tua peradapan
Pilar mahkota
Ku raih bulan di Kamboja
Pada seperempat langkahku
Yang sunyi
Mengejar riel mata uang yang lincah berderma lari dari dompetku
Berburu oleh-oleh di Negri Kamboja

Belasan cahaya serasa redup
Berbaris … terlampau cepat negri itu ku kawal dalam satu lingkaran biru

Ku tak jumpa makanan khas negri itu yang masih semeja dengan makanan di kampungku

Negri yang lugu masih kental budaya kerajaan
Lubang-lubang tikus bersayap bola mafia bersarang

seorang petugas hotel memberiku kode
Agar ponselku dan dompet untuk di simpan
Pagar dan tembok itu serasa memiliki mata … mengawasi setiap wisatawan yang singgah
untuk selalu terjaga

Di ujung waktu
Ku meluruskan pandangnya
Pada lukisan keramat bersejarah

Mataku juling
Salad … saos keju
Meramal seleraku yang kutunda untuk mencicipi

Di ujung meja jamuan
Ku melihat keangunan bunga kemboja yang tersanjung di setiap sudut ruang dengan harum yang khas

Yang dengan teramat lega sudah kusudahi makanan terhidang dengan cepat

Raguku tak kutawar
Masih ada makanan suci yang bisa ku kemas utk kubawa pulang

Pon phen
Masih menyanjung ramah
Beraroma bunga Kamboja sebagai mata indah negri separo dewa.

Dumai, Juli 2024

Comments (0)
Add Comment