“Litani di Kota Bertuah yang Tertampung dalam Tempurung Hujan”: Puisi Daris Kandadestra

Kami menyebut kota ini bertuah,
tempat jalanan menghafal nama setiap gerimis.
Dan selokan bisa menyebut dengan tepat
tanggal ulang tahun banjir terakhir.

Di Jalan Sudirman, hujan bukan sekadar air,
tapi khutbah panjang dari langit
tentang kesabaran yang diuji
dan janji-janji yang larut sebelum sempat diikat.

“Apa lagi yang hanyut kali ini, Bu?”
tanya anak kecil yang menatap sumur tua
di belakang rumah panggung
yang kini lebih mirip sumur kenangan.

Bu Ani, penjual gorengan di simpang
mengikat payungnya dengan tali rafia
sekuat ia mengikat harapan,
agar tidak hanyut seperti gerobaknya minggu lalu.

Di dalam Pasar Bawah,
pedagang mulai menjual ikan
dengan senyum setengah basah:
“Beli kak, masih hidup. Ini bukan dari laut,
ini dari ruang tamu kami sendiri.”

Seorang lelaki tua di Marpoyan
menulis sajak pada dinding mushola yang retak:

“Hujan di Kota Bertuah
menyimpan doa-doa yang lelah.
Kami mengapung di atas azan,
mencari sejadah yang tak basah.”

Di Sungai Siak,
kapal-kapal tua menyimpan cerita
tentang kota yang pernah bersih,
tentang Sultan yang menanam perahu
sebagai tanda:
“Air harus mengalir. Bukan menetap.”

Tapi kini air memilih tinggal,
beranak-pinak di emper toko,
dan menulis silsilahnya di halaman rumah.
Warga menyebutnya anak banjir,
karena lahir di tengah lumpur,
dibaptis oleh derasnya air drainase.

“Pak, kapan kita pindah dari sini?”
tanya seorang anak pada ayahnya
yang tengah menambal perahu dari drum minyak bekas.

Si ayah hanya menjawab dengan pelan:
“Kita tak pindah, Nak.
Kita sedang mengubah diri jadi ikan.”

Lalu azan pun berkumandang dari masjid
dengan suara yang pecah
oleh speaker yang tenggelam setengah,
dan jamaah tetap datang,
menyingsingkan celana,
menggulung sajadah,
berwudu dengan sisa-sisa air langit
yang belum tumpah seluruhnya.

Dan kota pun terpejam pelan,
Dalam diam yang terlalu panjang.

Tuah Madani, dalam hujan sore ini 7 April 2025.

Comments (0)
Add Comment