Di bawah langit biru yang dulu teduh,
Pohon-pohon berjajar, rindang dan lembut,
Namun kini mereka tumbang luruh,
Terkapar di tanah, tersapu hasrat yang kalut.
Ranting-ranting patah tanpa salam perpisahan,
Menyerahkan hijau pada angkara manusia yang serakah.
Burung-burung pergi, sarang-sarang punah,
Rimba tak lagi jadi tempat berteduh,
Satwa-satwa hilang, terbuang tanpa arah,
Di hutan yang kosong, sepi dan rapuh.
Rumah mereka hanyut bersama debu,
Ditelan hasrat manusia yang terus memburu.
Tak ada lagi kicau pagi yang cerah,
Hanya desau angin yang menghantarkan duka,
Tanah yang gersang berbisik lelah,
Di antara akar yang terkoyak nyata.
Bumi pun menangis, tertutup abu-abu,
Merindu hijau yang pernah menyelimuti tubuhnya dulu.
Kini banjir datang tanpa kendali,
Menenggelamkan desa, mengalirkan ratapan,
Tanah longsor membawa luka tak terperi,
Menggugurkan harapan dalam hitamnya malam.
Bencana lahir dari tangan manusia sendiri,
Menjadi bayangan kelam yang tiada bertepi.
Wahai manusia yang tak kenal kenyang,
Apakah kau dengar suara alam yang lirih?
Di antara pohon-pohon yang rebah tak berdaya,
Ada doa dan harap, meski tak terdengar lagi.
Satu per satu hilang, seiring tamak yang kau dekap,
Hijau yang dirindu kini tinggal bayang suram.
Ah, andai bisa kembali mengembuskan napas,
Dalam pelukan dedaunan yang tumbuh bebas,
Maka bumi akan pulih, kembali bernyanyi,
Menebar damai dalam hijau yang lestari.
Namun sampai kapan kau kan sadar, wahai insan?
Saat hijau tak lagi rindu, dan segalanya hilang perlahan
Pekanbaru, 1 Nov 2024