Bambu bambu menancap di perut terumbu karang, pecah
Tangis ikan pilu bersahutan mereka terpenjara di dalamnya
Para nelayan pikun, tidak tahu arah akan kemana melajukan biduknya kini tertutup pagar laut
Semuanya sunyi, tangis gigil yang diam-diam mengkerdilkan nyali
Laut begitu ngilu merasakan sakit dihunjam ribuan bambu
Kian tersayat ketika para nelayan jarang menemuinya untuk sekedar menjaring ikan atau menggulung joran pancing
Sungguh ini makar para pemuja dunia
Terumbu karang dan lautan akan dibinasakan
Ombak tidak mereka biarkan menggempur tepi pantai sebab barisan bambu telah memblokade sepanjang tepinya
Laut akan disulap jadi surga dunia
Dengan bangunan hak guna usaha dan hak milik yang sudah dipatenkan
Kertas-kertas sertifikat menari-nari di atas buih
Ternyata negeri impian tengah digelar di atas laut yang luka, anyir
Anak anak laut memaki dalam diam
Mengumpulkan sisa-sisa mimpi di jaring-jaring yang dijemur hingga kumal
Untuk kembali melaut bebas tanpa dibatasi patung-patung bambu
Rokan Hilir, 7 Februari 2025
Negeri Rindu: PuisiBunda Swanti
Pagar laut
Layaknya petak petak labirin dalam permainan lempar batu sembunyi tangan
Ah, bukan!
Buat pagar sembunyikan sertifikat
Entah lupa atau pura-pura tidak tahu jika laut bukan tanah kavlingan
Negeri rindu; katamu
Rindu yang seperti apa
Entahlah padahal anak-anak nelayan harusnya berlomba untuk mencari teripang dan kerang sembari berenang
Kini mereka harus diam melihat pagar laut tegak berdiri di punggung pantai
Mereka tak berani memasuki kawasan berhantu
Hantu yang konon dibuat para pemilik modal untuk membeli air
Duh, padahal air itu milik bangsa
Ayah rindu melaut dengan sampan,
Menebar jala menangkap ikan tanpa harus mengitari pagar laut
Lagi lagi rindu menikam hati ibu, saat Ayah pulang hanya membawa ikan satu ekor saja
Oooooiiiiii
Negeri apakah ini Tuan
Lautan luas dihampar bambu untuk dibuat daratan, tak cukupkah!
Akan sampai kapan pagar laut terpancang kokoh di lautan kita
Akh, apakah kita pantas menyebut laut kita?
Bukankah mereka sudah mengklaim itu lautnya
Sehingga dengan mudah memperjual belikan, bersertifikat pula
Amboi negeri rindu, benar-benar aku rindu
Melihat ombakmu, tanpa membentur pagar bambu, ingin melihatmu memecah buih hingga ke bibir pantai, seriang dahulu
Rokan Hilir, 7 Februari 2025