Pemilihan Ketua RT: Cerpen Mohd. Nasir

Masa jabatan Pak Karim sebagai Ketua RT sudah lewat hampir 2 bulan. Sekitar 6 bulan sebelum masa jabatan itu berakhir, beliau sudah mengumpulkan warganya, menyampaikan tentang masa jabatan sebagai Ketua RT yang akan berakhir. Tapi, waktu itu semua warga sepakat, minta pada Pak Karim agar bersedia memperpanjang masa jabatan selama 6 bulan lagi.

Sesungguhnya, ada kesempatan Pak Karim untuk menjadi Ketua RT satu periode lagi. Jabatannya yang sekarang baru periode pertama, 5 tahun. Namun dari awal beliau sudah mengatakan bahwa beliau hanya mau 1 periode saja. Lelaki tak banyak bicara itu tak terpengaruh dengan para RT yang lain, yang berusaha untuk dapat menjabat dua periode. Kalau beliau mau, hal itu didapatkannya. Tak sedikit warga RT beliau yang datang bermohon agar beliau menjadi RT satu periode lagi.

“Pak RT, warga semua sepakat, dan akan tetap mimilih Bapak untuk periode kedua nanti. Jadi, bila masa jabatan Bapak habis, sebagaimana yang diatur dalam peraturan yang berlaku, kita adakan pemilihan. Namun kami semua sepakat akan tetap Bapak,” kata Bang Jamal, seorang tokoh yang paling disegani di RT itu.

“Terima kasih, Bang Jamal. Saya tetap konsisten dengan apa yang saya sampaikan waktu terpilih 5 tahun yang lalu,” jawab Pak Karim dengan suara meyakinkan.

“Betul Pak Karim. Tapi dalam peraturan yang berlaku, Bapak boleh menjabat menjadi Ketua RT selama dua periode. Masih ada satu periode lagi,” jelas Bang Jamal.

“Tapi, saya tetap konsisten pada ucapan saya. Tidakkan saya ubah. Jika saya ubah, kapan lagi kita berbuat benar di negeri ini. Saya tidak mau terpengaruh dengan keinginan saya.”

Semua warga yang berkumpul terdiam. Mereka memikirkan siapa tokoh yang bisa menggantikan Pak Karim menjadi Ketua RT mereka.
Mencari Ketua RT seperti Pak Karim di RT mereka sulit. Mungkin tak ada. Beliau menjadi RT bukan karena ingin mendapat honor dari desa setiap bulan. Uang itu memang diterimanya seseui dengan jumlah yang tertulis pada amprah. Akan tetapi, uang lima ratus ribu setiap bulan itu, tidak pernah sampai di rumahnya. Habis disedekah dan diberikannya kepada warganya yang susah ekonominya. Kadang-kadang ditambahkannya dengan duitnya yang lain.

Dalam pikiran Pak Karim tak sedikit pun berharap dapat duit dari jabatannya itu. Mungkin sebab itulah tidak ingin berlama-lama dalam jabatan itu.

Perhatian Pak Karim pada warganya bukan sebatas memberikan duit honornya itu saja. Minimal sekali dalam tiga bulan, beliau mengundang warganya makan bersama di rumahnya. Bila rezekinya agak meningkat, ia memotong kambing untuk lauk makan bersama itu.

Kebaikan dan perhatian Pak Karim pada warganya seperti itu bukan saja membuat warganya suka padanya. Akan tetapi juga menjadi warganya tenteram dan damai. Selama beliau menjadi Ketua RT, warganya akrab, tidak pernah ada permusuhan antar warga. Tak ada kelompok-kelompok. Juga tidak ada tim sukses yang sukses. Tidak pernah terjadi pencurian. Apalagi perampokan. Warganya kompak menjaga keamanan di RT itu.

Warga RT itu hilang akal. Mereka tidak bisa membujuk Pak Karim untuk bersedia dipilih kembali menjadi Ketua RT mereka. Malah pernah turun tangan Kepala Desa untuk membujuknya. Namun, Pak Karim konsisten. Beliau hanya mau dipilih satu periode saja.
Pak Karim yakin dan percaya, tidak sedikit warganya bisa juga menjadi Ketua RT. Tak ada perasaannya bahwa dialah yang bisa menjadi pemimpin di RT itu.

Keyakinan Pak Karim sangat.berdasa.Beliau tahu, tidak sedikit warganya yang berpendidikan lebih tinggi dari pendidikannya. Beliau hanya tamat SMP. Sedangkan, warga di RT beliau sudah banyak yang sarjana. Oleh sebab itulah, Pak Karim ingin memberikan kesempatan dan kepercayaan kepada mereka.
Akhirnya, warga RT itu terpaksa melakukan pemilihan Ketua RT dengan beberapa calon selain Pak Karim. Orang tua itu tetap pada pendiriannya, hanya bersedia satu kali pemilihan.

Pak Karim juga tidak membolehkan anak dan menantunya untuk dicalonkan dan mencalonkan diri. Beliau benar-benar tidak ingin seperti yang terjadi di RT tetangganya, yang sejak dulu hingga sekarang RT mereka dari keluarga itu-itu juga. Seperti kerajaan. Mereka merasa bahwa hanya keluarga mereka yang mampu menjadi RT di tempat mereka. Berbagai cara dilakukan agar jabatan itu tidak berpindah ke orang lain selain keluarga mereka.

Pak Karim juga tidak mau ikut menjadi panitia pemilihan. Dia juga tidak pernah cawe-cawe. Hal ini beliau lakukan untuk menghindari kesan keberpihakan pada salah seorang calon. Sebab, jangankan ikut mendukung, duduk di samping calon saja beliau, sudah pasti suara pemilihan akan lari ke calon itu. Sebab itulah, Pak Karim sedikitpun tidak menunjukkan sikap keberpihakan kepada salah satu calon.

Setalah semua warga hadir di tempat pemilihan Ketua RT itu, acara pemilihan Ketua RT pun dimulai. Setiap warga diberi potongan kertas selebar uang kertas. Pada kertas itu ditulis nama calon yang menjadi pilihan. Lalu digulung dan dimasukkan ke dalam kotak suara. Setelah itu akan dicek satu-satu kertas suara itu. Kemudian dituliskan nama yang tertera pada kertas di papan tulis yang lsudah disediakan.

Tahap pertama itu baru tahap mencari calon sebanyak tiga orang. Nanti akan diambil tiga nama yang banyak diusulkan. Setelah itu baru pemilihan dilakukan.
Kertas Sudah dibagikan. Semua warga tampak sedang menulis nama orang yang mereka pilih menjadi calon. Yang sudah selesai langsung memasukkan kertasnya ke dalam kotak suara.

Tak sampai setengah jam, semua warga sudah selesai memasukkan kertas suaranya. Mereka nampak sedang menunggu saat-saat kertas itu diteliti dan dibaca satu-persatu. Kotak pun dibuka. Mulailah mereka membaca kertas suara itu.

“Sekarang kita mulai,” ucap petugas yang akan membaca nama yang tertulis pada kertas yang dalam kotak itu.

“KOSONG,” ucapnya begitu selesai membuka kertas pertama.

Mereka membuka kertas kedua. Di situ tertulis seperti tadi yaitu, “KOSONG”.

Dibuka lagi. Seperti itu juga.

Dibuka lagi. Begitu juga. Sampai semua kertas suara habis dibuka. Tetap tertulis, “KOSONG”

Semua kertas suara sudah dibuka. Tak selembar pun ada tulisan nama calon Ketua RT. Semuanya bertulisan “KOSONG”.

Panitia pemilihan Ketua RT mengadakan rapat kecil. Mereka mencari kesepakatan, apa yang akan dilakukan selanjutnya. Alternatif ada dua. Pertama, dilakukan pencalonan ulang. Sama seperti tadi. Yang kedua, kegiatan ditutup. Kemudian langsung menemui Kepala Desa untuk mendapatkan petunjuk dan arahan.

Setelah lama bermufakat, akhirnya diputuskan dilakukannya pencalonan ulang. Sama seperti yang pertama tadi. Namun, sebelum kertas suara diberikan, ketua panitia mengingatkan kepada warga yang hadir, agar menuliskan satu nama warga yang pantas untuk dipilih menjadi Ketua RT.

Kertas pun dibagikan, lengkap dengan alat tulis bagi yang tidak membawanya. Yang memba pena, boleh menggunakan pena sediri.

Beberapa saat kemudian, kertas itu dimasukkan masing-masing ke dalam kotak suara.
Kotak dibuka. Kertas suara diambil satu-persatu. Kemudian dibacakan tulisan yang tertulis di kertas itu. Lalu dibaca kuat-kuat.

“Kita mulai. Kosong,” kata petugas yang ditugasi membaca tulisan di kertas suara.

Diambil dan dibuka kertas yang kedua, “Kosong.”

Kertas ketiga, “Kosong.”

Keempat, “Kosong.”

Kelima, “Kosong.”

Sampailah pada kertas yang terakhir, tetap tertulis “Kosong.”

“Bapak dan Ibu, kenapa yang kata ‘kosong’ yang ditulis di kertas itu?” tanya ketua pemilihan.

Semua segera mengacungkan tangan. Ingin menjawab pertanyaan ketua panitia pemilihan Ketua RT itu. Tapi untuk tertib, beliau menunjuk terlebih dahulu satu orang.

“Saya tak habis pikir, Pak Ketua. Sewaktu saya mau menulis nama seseorang, yang ada dalam pikiran saya adalah kata ‘kosong’. Cuma kata itu yang bisa saya tulis,” jelas Ngah Hasan panjang lebar.

“Sama, Pak Ketua. Saya seperti itu juga,” sahut Long Leman dengan nada meyakinkan.

“Ibu Normah bagaimana?” tanya ketua panitia pada ketua wirid pengajian ibu-ibu di RT mereka.

“Saya seperti itu juga. Waktu menulis, yang bisa saya tulis hanya kata kosong,” jelas Ibu Normah.

Semua warga yang hadir ditanyai satu-persatu. Jawaban mereka sama. Waktu menulis yang ada dalam pikiran dan yang bisa ditulis hanya kata ‘kosong’.

Ketua panitia terdiam sejenak. Kemudian beliau bertanya, “Kenapa kita semua seperti itu?” tanya beliau sangat heran.

Pak Bahri mengacungkan tangan karena ingin menjawab pertanyaan ketua panitia.

“Saya kira begini ketua. Kenapa kata kosong yang muncul? Itu adalah suara hati kita yang paling dalam. Suara yang sebenarnya. Suara yang tidak bisa kita bohongi. Kenapa? Karena tak ada desakan yang membuat dia berbohong,” ucap Pak Bahri seperti orang berpidato.

“Jadi, apa yang akan kita lakukan? Ketua RT kita yang sekarang tidak mau lagi menjadi Ketua RT,” tanya ketua panitia.

“Kita serahkan kepada Kepala Desa, apa yang akan dilakukannya,” sahut Pak Bahri.

“Bagaimana Bapak Ibu?”

“Setuju..” jawab mereka serempak.

Bengkalis, 2022

 

Comments (0)
Add Comment