Ode Kehidupan dalam Segelas Kopi: Cerpen Rusmin Sopian

Setiap malam. usai para warga menunaikan sholat Isya berjemaah di Masjid, perempuan muda itu mendatangi warung kopi murahan yang berada di bawah jembatan di pusat Kota yang mulai menggeliat.

Perempuan muda itu memang penikmat kopi. Semua jenis kopi telah pernah dinikmatinya. Dari mulai yang dijual dengan harga klas rendahan hingga harga segelas kopi klas atas. Semuanya sudah dicicipi lidahnya.

Dan entah mengapa, perempuan muda itu kini suka menikmati kopi di warung dibawah jembatan itu. Padahal warung kopi milik Mbok Iyem itu adalah sebuah warung kopi biasa saja.

Tak ada keisitimewaannya. Kopinya pun kopi biasa. Kopi seduhan dari sachet. Tak ada peracik kopi di situ.

Kembali, entah kenapa perempuan muda itu kini hampir tiap malam berada disitu hingga malam mulai bangkrut, baru perempuan muda itu meninggalkan warung kopi itu yang telah kosong melompong. Ditinggal para penikmat kopi untuk kembali ke rumah kehidupan mereka. Merebahkan diri. Sekedar beristirahat.

Warung kopi milik Mbok Iyem itu adalah tempat berkumpulnya para pekerja kaki lima yang menghabiskan sisa waktunya dengan bersenda gurau dan bercerita dengan sesama mereka. Dengan cerita ala mereka.

Jarang sekali ada pekerja kantoran yang menikmati kopi di warung Mbok Iyem. Kalau pun ada yang datang, saat musim kontestasi demokrasi untuk menunjukkan bahwa mereka peserta kontestasi demokrasi itu dekat dengan kalangan warga kecil. Akrab dengan kasta bawah.

Kontestasi demokrasi usai, mereka pun menghilang bak ditelan bumi. Hanya meninggalkan stiker di warung kopi Mbok Iyem yang terbuat dari kayu sisa proyek yang sudah tidak terpakai lagi.

Mereka, kaum kaki lima itu berkumpul menyerap aroma kopi kaki lima. Menikmati tetesan kopi hingga ke rongga terdalam. Sementara di atas kepala mereka, mobil lalu lalang. Suara knalpot saling bersahutan.

Dan setiap ada kendaraan lewat, getaran membising isi kepala para pengunjung hingga kadang kala membuat gelas kopi beriak. Cangkir kopi bergetar.
Akibat kebisingan yang ditimbulkannya kadangkala membuat para pengunjung harus menghentikan kelakar kaki lima ala mereka.

” Inilah resikonya ngopi disini. Setiap ada kendaraan lewat, kita mesti diam sejenak. Suara kita harus berhenti. Kelakar kita diberhentikannya,” kelakar seorang pengunjung warung kopi itu.

” Benar. Dan inilah resikonya ngopi di warung kopi kaki lima. Mobil pun bisa menghentikan cerita kita. Ada-ada saja,” sambung pengunjung yang lain yang disambut dengan derai tawa para pengunjung lainnya.

” Tapi kalau kita cari warung kopi yang hening, kantong kita bangkrut. Pulang ke rumah, terjadilah perang dunia ketiga,” ujar pengunjung yang lain.

Kembali tawa membahana keluar dari para pengunjung warung kopi. Meramaikan malam yang makin gelisah.

Perempuan muda itu kaget saat seorang lelaki secara tiba-tiba duduk di hadapannya. Mata perempuan muda itu menatap lelaki itu dengan sorot mata yang amat tajam.

Sebuah sorot mata yang mengisyaratkan sebuah kegeraman. Sebatang rokok dibakarnya. Dan kepulan asap yang membentuk pulau-pulau kecil diciptakannya lewat bibirnya di udara bebas malam itu.

Kali ini perempuan muda itu yang menatap tajam ke arah lelaki itu. Sorot matanya melahirkan sebuah kedongkolan jiwa. Sebuah kegeraman lahir dihatinya. lelaki itu menundukkan kepalanya. Lelaki itu tampak paham.

” Maaf. saya telah lancang duduk di sini tanpa permisi denganmu,” ujar lelaki itu membuka percakapan basa-basi. Perempuan muda itu menyeruput kopinya yang mulai mendingin.

” Tempat ini bebas bagi siapa saja. Tak ada yang boleh melarang orang yang datang untuk duduk. Ini tempat umum dan terbuka bagi siapa saja. Mereka bebas meilih kursi sesuai dengan seleranya,” jawab perempuan muda itu.

” Dan pilihan saya malam ini tepat. Saya duduk dihadapan orang yang baik dan memuliakan orang. Anda sudah memesan kopi ?,” tanya lelaki itu.

” Seperti yang anda lihat,” kata perempuan muda itu.

lelaki itu menyeruput kopi yang baru diantarkan ke hadapannya. Matanya terus menatap perempuan muda itu. Sementara mata perempuan muda itu menatap ke langit. Menatap cahaya malam yang bertabur bintang-bintang.

” Tampaknya Anda malam ini gelisah,” kata lelaki itu. Perempuan muda itu melongos. Tak tertarik dengan ocehan lelaki itu.

” Bolehkan kegelisahanmu dibagi denganku,” suara lelaki itu kembali membuat jengkel perempuan muda itu.

” Itu pun kalau anda tak berkeberatan. Aku cuma menawarkan solusi. Lagi pula tak perlu membayar jasa konsultasi,” sambung lelaki itu.
Perempuan muda itu kembali menatap lelaki itu seraya menggelengkan kepalanya. Baru kali ini dia melihat Lelaki itu di warung kopi Mbok Iyem ini. Lelaki itu tampaknya bukan lelaki biasa. Beda dengan lelaki yang menikmati kopi di warung kopi ini.

Hari sudah memasuki gerbang malam. Bentangan purnama muncul dengan wajah penuh pesona. langkah kaki perempuan muda itu sangat tergesa-gesa.

Dan saat tiba di warung kopi dibawa jembatan itu, matanya menatap lelaki itu. Dia langsung duduk di depan lelaki itu.

” Bolehkah aku duduk disini?,” sapanya berbasa-basi.

” Seperti yang anda katakan semalam, tempat ini bebas. Tak ada orang yang boleh melarang siapa pun untuk duduk di kursi mana pun. Dan saya berterima kasih, anda sudah mau menemani saya malam ini,” jawab lelaki itu sembari menyeruput kopinya.
Perempan muda itu mati kartu dengan jawaban lelaki itu. Mulutnya terkunci.

” Anda tak usah risau. Duduklah disini semalam suntuk untuk menumpahkan kegelisahanmu. Anda dapat melarung kegelisahanmu bersama malam yang bertabur cahaya purnama. Dan jangan beranjak sebelum purnama melepas cahayanya,” sambung lelaki itu.

Kembali perempuan muda itu terdiam. Tak ada jawaban dari mulutnya. Hanya airmata yang mengalir dari kelopak matanya yang indah.

” Aku ingin bebas. Aku tak mau mengusik ketenangan keluarga orang,” desisnya.

” Perempuan sepertimu ini tak bergaris tangan mengusik ketenangan keluarga orang,” jawab lelaki itu.

” Kamu percaya?,” tanya perempuan muda itu.
” Sangat percaya,” jawab lelaki itu

Perempuan muda itu menghela nafas panjang. Panjang sekali. Sepanjang derita hidup yang dialaminya yang terus membekas dan menorehkan bilur-bilur dalam jejak hidupnya sebagai seorang manusia. Sebagai seorang perempuan.

Sementara di kejauhan malam, cahaya ramadan hadir menyapa jiwa-jiwa dibumi. Meniupkan bentangan kesuciannya di raga para manusia. Seiiring terdengar gema suara sahur yang bergaung di seluruh penjuru bumi.
Marhaban ya Ramadan.

Toboali, Minggu malam Februari 2026

Penulis adalah pegiat literasi yang tinggal di Toboali.
Cerpennya termuat di berbagai media lokal dan luar Bangka Belitung.

 

Comments (0)
Add Comment