Kenangan Desember
Hujan pertemukan kita di akhir bulan awal tahun yang sama
Senyum itu tak pudar, ingin miliki seorang diri
Tak ingin kehilangan, dekap erat enggan lepaskan
Pendar bahagia nampak indah menguar saat senyum belai lembut jiwa
Lantunan doa sepertiga malam bulan Ramadan tenangkan diri
Perjuangkan pilihan Tuhan tuk melangkah bersama
Hati terpaut tiada ragu, harap bahagia menanti
Gema Azan
Rintik itu masih ada, mendung bergelayut di angkasa
Air pun masih bernggelung melintas tanpa bersalah
Rumah tertimbun, hanyut sisakan duka mendalam
Canda dan tawa tiada terdengar lagi, mengalir bersama air hempas setiap penghalang
Terdengar alunan lembut azan setiap waktu, embusan angin terbangkan
Harap kekasih hati mendengar, gelisah dan rindu mencekam
Waktu berganti, kumandang azan masih menggema
Tiada putus doa, harap berkumpul kembali rajut hari
Senandung Duka
Senandung lagu duka menyayat hati sampaikan kepada dunia
Tak ada lagi tempat pulang, kawan pun tak berjumpa entah di mana
Langit masih nampak suram, sembunyikan duka di awan menahan rintik
Kepulan asap dapur tak terlihat di sudut rumah, berganti tempat pengungsian
Wajah-wajah muram kehilangan harta dan nyawa
Tubuh menggigil di balik selimut tipis, bantuan yang telah habis
Desember hampir berakhir, luka itu masih ada
Harap bahagia kembali hadir, sedikit pun tak mengapa
Pelukan Terakhir
Hari itu masih sama, rintik sisa semalam masih ada
Canda dan tawa hias ruang makan saat sarapan
Tak ada tanda dan isyarat, tiada ucap mengundang
Tak disangka jika itu kebersamaan terakhir
Dia datang begitu dahsyat, menggulung semua tanpa sisa
Kaki gemetar hati berdebar, rumahku telah hilang
Air mengalir deras membawa batang pohon
Peluk erat ibu sudah tak bernyawa
Hujan di Awal Desember
Ranting rapuh berserakan, daun bertebaran sepanjang jalan
Air mengalir deras di sungai yang dulunya jernih dan tenang
Kini warnanya berubah berganti lumpur
Hujan di awal Desember sisakan perih
Teras rumah jadi kubangan, atap tak kuasa tahan derunya
Rintik belum sirna, hati terasa pilu
Alunan doa terdengar, harap hujan kembali bersahabat
Mataram, 19 Desember 2025
Hajriah RE, perempuan berdarah Sasak (Lombok) bernama lengkap Hajriah, S.E. kelahiran 1974 adalah guru ekonomi di SMAN 8 Mataram. Karya pertamanya Antologi Cerpen “Cinderela Tanpa Batas Waktu”. Saat ini bergabung dalam Asqa Imagination School (AIS) dan Symprerifora Publisher. Prestasi yang pernah di raih 25 besar Lomba Cipta Puisi Masa Kecil, juara harapan 3 Asqa Book Awards (ABA) XXIII, 10 besar ABA XXIV dan juara harapan 1 Anugerah COMPETER Indonesia 2025, juara harapan 2 Asqa Book Awards (ABA) XXV. Ia termasuk peserta yang lolos 36 besar Anugerah COMPETER 2026, sebuah ajang sastra yang pemenangnya akan diumumkan 01 Januari 2026 mendatang. Motonya: Belajar Tanpa Batas Waktu. Silahkan mampir IG hajriahr_ atau di FB Hajriah SE