Hening mengular sepanjang jalan
Dalam bangunan-bangunan yang kedap tanpa kasak-kusuk
bersemayam jiwa penuh prahara
Asap dupa berkelana
Menghidu udara dari senapan
Semua bungkam,
Masuk ke bangunan jauh dari aman
Purnama mencabar
Turut senyap mengantar pejam
Pelita jalanan redup hingga akhirnya sayup dan padam
Lelaki tua itu masih dengan syal yang melilit lehernya
Duduk termenung berselimut abu di tangan dan kaki
Rambutnya memutih padu dengan abu
Ia lantas berdiri mendongak ke pucuk zaitun
yang kini menghitam legam
Dipungutnya yang masih berserakan
Ada wajah istrinya dalam pekat malam
membisikkan sepotong isyarat
Jiwa lelaki itu mulai kisruh
Melihat Gaza, menyaksi Palestina
tanah kelahirannya.
“Ssstt”
Ada suara lain di telinga kiri
Ia tak sabar mendengar isyarat lain
Tiada yang peduli dengan berantakannya suasana hati
Ia berusaha mencari sumber suara
Mengapa lenyap begitu saja?
Tubuh rentanya turun ke jalan berbongkah
Akar-akar pohon naik
Tanah tercabik-cabik
Sebuas inikah hingga semua teruk?
dan lagi, ia melangkah mencari sumber suara itu
Mengapa lenyap tak bersisa?
“aarrgghh”
Suara lain timbul dari gelanggang malam
“kembalilah pulang!”
Seru suara berirama tegas nan rintih
Lelaki tua itu pulang ke rumah yang hanya menyisakan separuh beton tak beratap
Jiwanya kembali terpacak di sudut Gaza paling sunyi
Seantero mengetahui
Namun kini, diam terbui
Lelaki tua dengan syal kumalnya
Tetap bertahan diantara bongkahan dinding kenangan
Kepada istrinya ia berpesan
“Sampaikan pada Tuhan, aku baik-baik saja, sungguh. Namun, tidak dengan tanah kelahiran kita.”
Tubuh rentanya rebah dalam tilam berdebu
Binar matanya redup
Lelaki tua itu kini kuyup
Bukan oleh rinai, melainkan renjana
pada tanah kecintaannya.