Rindu yang Tak Pernah Terucap: Puisi Qinoy

Aku sering menatap langit sebelum pagi
Mencari sisa-sisa bayangmu dalam embun
Yang jatuh tanpa suara
Seperti aku yang mencintaimu diam-diam

Aku menyulam harap dalam hati
Mengikatnya pelan dengan kenangan semu
Sebab tak ada yang lebih pilu
Selain mencintai tanpa pernah benar-benar disapa

Rinduku bukan milik waktu
Ia milik malam yang tak pernah tidur
Milik angin yang hanya berani menyentuh dari jauh
Milik aku yang tak kau tahu sedang menunggu

Jika suatu hari kau menoleh ke belakang
Dan merasakan ada yang hilang dalam hidupmu
Itulah aku
Yang pernah mencintaimu dalam sunyi
Dan merelakan tanpa pernah berkata pergi

Surabaya, 22 April 2025

Bagi Qinoy, puisi adalah bentuk komunikasi yang sarat makna indah hanya bila dimengerti. Ia dikenal sebagai sosok yang sangat mencintai dunia puisi. Chairil Anwar adalah sastrawan yang paling ia idolakan, terutama lewat karya berjudul Cinta dan Benci. Kutipan favoritnya berbunyi,
“Ya, aku senang telah mencintai
Karena dengan melakukan itu aku merasa hidup
Dan tidak ada orang yang dapat merebutnya dariku.”
Baginya, cinta dalam puisi bukan sekadar tema, melainkan denyut kehidupan itu sendiri. Setiap bait adalah cara Qinoy merayakan eksistensinya.

Comments (0)
Add Comment