Di tepian waktu ia duduk menanti
di bangku kayu yang retak oleh hari
mengingat tawamu yang singgah sebentar
lalu pergi tanpa pernah benar-benar sadar
Langkahmu jauh tapi bayangmu menetap
menghuni sepi yang tak sempat aku tangkap
aku mencintaimu tanpa aksara
menyulam rindu dalam gulita
Setiap malam kusebut namamu tanpa suara
pada langit yang buta dan angin yang lupa
kalau pun kau tahu mungkin hanya lewat isyarat
sebuah tatap yang tak sanggup berkata erat
Inilah kisah yang tak sempat menjadi nyata
cinta yang tumbuh tanpa sempat menyapa
balada tentang dua jiwa yang bersinggungan
tapi tak pernah saling menggenggam
Kutai Kartanegara, 21 April 2025
Delima Nadia. Perempuan kelahiran Kutai Kartanegara ini mulai menulis puisi sejak tahun 2019. Puisinya kerap berbicara tentang rindu yang diam, kehilangan yang tak sempat berpamitan, dan kesedihan yang tak pernah benar-benar selesai. Menulis baginya adalah pelabuhan jiwa tempat ia menyimpan luka, harap, dan cinta. Beberapa karyanya telah terbit dalam antologi puisi. Saat ini, ia aktif di kelas puisi Akademik Thata Sastra batch 17. Anda dapat menyapanya melalui IG: @sherlyonara | FB: Delima Nadia