Segelas kopi diberi pemanis jualan yang laris di sore antara waktu yang lelah.
Mulai menata uang yang terkumpul dari lendir kata hingga kalimat mengular cerita.
Lelah kata lelah mata bertumpuk di punggung yang tak pernah merasakan pecutan realita.
Tawa yang dirindu terasa berat ganjal di dada seakan ada yang menabrak tak tertahan oleh tangis: air mata pagi hingga sore.
Apalah daya sisa semangat dimakan buto ijo, terkapar bersimbah darah para pakar tawa.
Sukowiyono, Agustus 2024
Muslih Marju, penyair yang lahir di Bangkalan tanggal 15 Januari 1988. Aktifitas mengajar di Komunitas Sastra bernama Malam Sastra Tulungagung. Terhimpun karya antologi Puisi (Tunggal) “Perjalanan Cahaya Malam” Penerbit Nizamia (cetakan I, 2016, dan pernah dimuat di Media Indonesia, Rakyat Sumbar, Koran Madura, Buletin FSB Jejak dan bloggertulungagung.com.